Pengaruh Peran Manager dan Self Acceptance Terhadap Job Embeddedness Melalui Perceived Well-Being pada Perawat di Rumah Sakit Umum Kaliwates
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Keperawatan
Abstract
Krisis kekurangan perawat di lingkungan layanan kesehatan saat ini telah menjadi sorotan utama dan tantangan serius yang dihadapi oleh banyak negara. Kurangnya perawat terjadi akibat tingkat turnover yang meningkat. Pada beberapa kasus, tingkat job embeddedness yang rendah mempengaruhi munculnya perilaku presenteeism pada perawat. Presenteeism selalu dianggap sebagai perilaku negatif perawat, karena dapat melatarbelakangi atas hilangnya kinerja organisasi dalam jangka panjang. Job embeddedness menghadirkan pengalaman, dimana dengan adanya job embeddedness pada karyawan dapat mendatangkan hasil positif yang lainnya, seperti perilaku yang proaktif atau memunculkan inisiatif pribadi. Secara garis besar, JE diartikan sebagai sebuah bentuk loyalitas pekerja terkait faktor – faktor keterikatannya terhadap instansi/perusahaan yang mendorongnya untuk tetap bekerja. Aspek tersebut dapat mempengaruhi kualitas kerja, kepuasan kerja dan kualitas hidup secara keseluruhan. Salah satu faktor yang signifikan adalah kurangnya dukungan sosial di antara rekan kerja dan atasan, yang dapat mempengaruhi tingkat keterlibatan emosional dan sosial mereka dalam pekerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Pengaruh Peran Manager dan Self acceptance terhadap Job embeddedness melalui Perceived well-being pada Perawat di Rumah Sakit Umum Kaliwates. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan metode korelasional menggunakan kuesioner sebagai pengumpulan data. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan purposive sampling, di mana populasi di RSU Kaliwates sejumlah 138 perawat kemudian disesuaikan dengan kriteria inklusi dan eksklusi hingga mencapai 102 sampel yang digunakan dalam penelitian. Kuesioner yang digunakan yaitu kuesioner persepsi peran Manager, tingkat self acceptance, perceived well-being dan tingkat job embeddedness pada responden. Penelitian ini menggunakan analisis statistik korelasional dengan SEM PLS yang membahas tentang pengaruh peran Manager dan self acceptance terhadap job embeddedness melalui perceived well-being, dengan jumlah hipotesis sebanyak 8 hipotesis alternatif dan 8 hipotesis diterima. Hasil analisis deskriptif yang dilakukan menunjukkan peran Manager memiliki interpersonal role, Informational Role serta Decisional Role dalam kategori tinggi dengan nilai lebih dari 60,0%. Total skor peran Manager juga dalam kategori tinggi dengan 56,9%. Self acceptance perawat di RSU Kaliwates Jember memilikinilai terbanyak sedang dengan total skor self acceptance yaitu 52,0%. Perceived well-being perawat memiliki skor terbanyak sedang dengan persentase 83,3%. Tingkat job embeddedness terbanyak pada kategori sedang dengan persentase 52,0%. Hasil analisis multivariat didapatkan peran manajer (X1) memiliki hubungan signifikan dengan perceived well-being (Y1) (t-statistik = 4.868, p value < 0.0001) dan job embeddedness (Y2) melalui perceived well-being (Y1) (t statistik = 5.234, p-value < 0.0001). Sebaliknya, self-acceptance (X2) tidak memiliki pengaruh langsung yang signifikan terhadap job embeddedness (Y2) (t statistik = 0.429, p-value = 0.668) maupun perceived well-being (Y1) (t-statistik = 6.295, p-value < 0.0001), tetapi berpengaruh signifikan terhadap job embeddedness (Y2) melalui perceived well-being (Y1) (t-statistik = 3.414, p-value = 0.001). Indikator tertinggi self acceptance perawat di RSU Kaliwates Jember pada indikator individu menyadari bahwa manusia mempunyai kelemahan. Artinya bahwa sikap atau respon dari lingkungan membentuk sikap terhadap diri seseorang. Individu yang mendapat sikap yang sesuai dan menyenangkan dari lingkungannya, cenderung akan menerima dirinya. Self acceptance atau penerimaan diri, sebagaimana didefinisikan oleh Hurlock, bahwa berkaitan dengan sejauh mana seseorang mengakui dan menerima sifat-sifat pribadinya, menunjukkan kemauan dan kemampuan untuk hidup bersamanya. Hal ini memerlukan pengenalan terhadap kekuatan dan kelemahan diri sendiri, sebagaimana diutarakan oleh Aderson, dan menerima kelemahan tersebut.
Description
Reupload file repository 24 Februari 2026_Yudi
