Profil Perilaku Berpikir Kreatif Mahasiswa Tunanetra dalam Menyelesaikan Masalah Geometri Ditinjau Berdasarkan Tipe Blind dan Low Vision
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Abstract
Pembelajaran inklusi bertujuan untuk memberikan dukungan kepada mahasiswa disabilitas, termasuk mahasiswa tunanetra yang masih mengalami hambatan dalam berpartisipasi aktif. Hambatan terjadi keterbatasan metode pembelajaran dan indra untuk mengakses informasi, meskipun mahasiswa tunanetra memiliki potensi perilaku untuk menunjukkan kemampuan berpikir kreatif. Potensi ini dapat terlihat saat menyelesaikan soal geometri melalui pengalaman sensori dan representasi non-visual. Oleh karena itu, pemahaman terhadap profil perilaku berpikir kreatif mahasiswa tunanetra penting sebagai dasar pengembangan strategi pembelajaran geometri yang lebih inklusif dan sesuai kebutuhan. Studi literatur menunjukkan bahwa belum terdapat kajian yang memetakan profil perilaku berpikir kreatif mahasiswa tunanetra berdasarkan indikator perilaku berpikir kreatif secara sistematis. Padahal, pemetaan ini penting untuk menggambarkan tindakan nyata yang terjadi selama proses berpikir kreatif. Selain itu, mengingat bahwa penelitian tentang perilaku dapat dikaitkan dengan tiga dimensi pendidikan yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Urgensi penelitian ini terletak pada keterbatasan studi sebelumnya yang masih terbatas pada subyek non disabilitas, sementara kajian yang secara khusus menelaah perbedaan perilaku berpikir kreatif antara tunanetra tipe Blind dan Low Vision masih sangat terbatas. Dengan demikian, tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan profil perilaku berpikir kreatif tunanetra berdasarkan indikator perilaku yang muncul selama penyelesaian masalah geometri, guna mendukung pengembangan pembelajaran dan penilaian yang lebih adaptif dan aksesibel pada tunanetra tipe Blind dan Low Vision. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menggambarkan secara menyeluruh profil perilaku berpikir kreatif mahasiswa tunanetra dalam menyelesaikan masalah geometri, berdasarkan dari tipe Blind dan Low vision. Pendekatan kualitatif dipilih karena memungkinkan eksplorasi data melalui berbagai teknik seperti wawancara, observasi, dan dokumentasi. Lokasi penelitian dilakukan di Program Studi Pendidikan Luar Biasa Universitas PGRI Argopuro Jember, dengan 2 subyek mahasiswa tipe Blind dan 4 subyek tipe Low vision yang dipilih menggunakan teknik snowball berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara mendalam, menggunakan instrumen masalah geometri berbasis alat peraga taktil, rubrik perilaku berpikir kreatif, dan pedoman wawancara. Analisis data dilakukan melalui berpikir kreatif yaitu fluency, flexibility, elaboration, dan originality berdasarkan kata kerja representatif dari perilaku yang muncul. Dari hasil penelitian, mahasiswa tunanetra tipe Blind (aspek fluency) menunjukkan perilaku mengutarakan ide dengan hati-hati namun menunjukkan keraguan, dan melakukan eksplorasi taktil secara teliti. Tunanetra memastikan kelogisan, kualitas, dan relevansi ide jawaban secara hati-hati, jelas, dan tegas. Pendekatan melalui variasi gerakan (seperti memutar atau membolak-balik), eksplorasi taktil (meraba dengan detail), komparatif (membandingkan), dan pendekatan berorientasi posisi (mengubah posisi alat peraga untuk memahami bentuk). Pada aspek flexibility, tunanetra dalam mengenali karakteristik bentuk geometri adalah dengan menyentuh, meraba, memahami, dan menggambarkan (visualisasi taktil) dengan gestur. Strategi menyusun, memutar, dan membolak balik balok oleh mahasiswa tunanetra mencerminkan pemanfaatan pendekatan yang berbeda dalam mengidentifikasi berbagai konsep. Mahasiswa tunanetra menunjukkan dan menjelaskan pertimbangan dari berbagai pendekatan melalui gestur (perabaan, rotasi) dan tindakan (membandingkan secara teliti, menekankan penyampaian bagian tertentu dari ide). Pada aspek elaboration, tunanetra menambahkan informasi (mengidentifikasi dan mengelompokkan balok berdasarkan bentuk, ukuran, dan merasakan tekstur) berkaitan dengan memberikan ide jawaban konsep menjadi jawaban yang lengkap. Tunanetra menguji (ide satu per satu secara mendalam dan reflektif, disertai sentuhan, dan verifikasi) dan modifikasi (variasi strategi yaitu gerakan cepat dan) ragam ide jawaban yang diperoleh. Tunanetra memodifikasi ide jawaban setelah eksplorasi untuk menunjukkan ketelitian tinggi berbasis memori dan eksplorasi aktif. Menandai detail ide atau gagasan dengan pola menyentuh (garis, titik, lekukan) dengan jari dengan gerakan variatif (gerakan maju, mundur, dan bolak-balik menunjukkan upaya tunanetra menyesuaikan sentuhan untuk memahami bentuk secara akurat). Pada aspek originality, tunanetra menunjukkan gestur menandai ide melalui penjelasan verbal dan pelabelan alat peraga secara konsisten dan selektif pada ide jawaban simbolik yang unik (seperti pintu gerbang dan meja). Representasi detail melalui narasi ukuran dan posisi, serta pengelompokan alat peraga. Tunanetra mengungkapkan ide atau gagasan dengan gestur manipulatif (gerakan tangan meraba detail pada ide jawaban seperti pagar atau gerbang, mencerminkan ide yang imajinatif dan tidak biasa). Manipulasi balok untuk menyusun, menciptakan, dan mengatur ulang mencerminkan ide solusi baru yang orisinal dari pemikiran sendiri, dengan ciri gagasan yang unik, simbolik, dan berbasis pengalaman spasial. Tunanetra mengungkapkan ide jawaban dengan menunjukkan bangunan simbolik hasil eksplorasi taktil dan verbalisasi, disertai gestur manipulatif seperti menyusun berulang-ulang untuk menciptakan sketsa bangunan untuk menghasilkan solusi unik. Hasil penelitian mahasiswa tunanetra tipe Low vision pada aspek fluency, tunanetra mengutarakan atau memaparkan dengan cepat (intonasi bicara) serta responsif ide jawaban disertai dengan gerakan cepat dalam menyentuh, menyusun, dan memilih alat peraga. Pada waktu terbatas, mampu mengemukakan berbagai macam ide jawaban secara lebih variatif. Tunanetra sering mencoba pendekatan eksplorasi taktil dengan memanfaatkan sisa penglihatan. Tunanetra mengeksplorasi obyek secara cepat dengan penglihatan terbatas, sentuhan cepat, dan penjelasan verbal aktif menunjukkan strategi efektif dalam menghasilkan banyak ide dalam waktu singkat. Pada aspek flexibility, tunanetra dalam mengenali karakteristik bentuk geometri dengan menyentuh, memahami, menunjukkan melalui eksplorasi dengan pendekatan yang bervariasi, seperti memutar dan membandingkan balok secara cepat dan hati-hati untuk memahami bentuk dan dimensi geometri. Tunanetra menjelaskan pertimbangan dari berbagai pendekatan melalui gestur (meraba, memutar, menggambarkan) dan tindakan (membandingkan alat peraga secara sistematis terhadap bentuk dan struktur geometri). Pengelompokan alat peraga melalui kombinasi eksplorasi taktil dan penglihatan terbatas secara sistematis mencerminkan pemahaman klasifikasi konsep dalam penyelesaian masalah geometri. Pada aspek elaboration, tunanetra menambahkan informasi (menyentuh dengan cepat, merasakan tekstur, dan memberi fokus keterkaitan bentuk geometri dengan benda nyata) berkaitan dengan konsep memberikan ide jawaban yang rinci (pemanfaatan indra visual terbatas) menjadi jawaban yang lengkap. Perilaku ini menunjukkan pemanfaatan indra visual terbatas dan verbal secara bersamaan untuk membentuk solusi yang lebih lengkap. Tunanetra menguji (ide jawaban satu persatu) secara cepat dan efisien dengan modifikasi (variasi strategi dengan eksplorasi aktif yaitu gerak sentuhan cepat, penglihatan terbatas, dan gestur konfirmatif). Tunanetra memodifikasi ide jawaban secara selektif saat diperlukan, mencerminkan fokus pada efisiensi tanpa mengabaikan ketelitian. Tunanetra menandai ide melalui pola menyentuh (garis, titik, dan lekukan dengan jari) pada seluruh permukaan dengan gerakan konsisten (gerak meraba terurut dengan bantuan sisa penglihatan). Pada aspek originality, tunanetra menunjukkan gestur ekspresif dan gerakan tangan (penekanan pada hasil bangun fungsional seperti jemuran, denah rumah, atau kue dengan lilin untuk ditiup) untuk pelabelan alat peraga secara konsisten. Tunanetra mengungkapkan ide jawaban dengan gestur manipulatif (gerak tangan meraba detail pada ide jawaban) untuk menggambarkan ide imajinatif yang tidak biasa atau unik. Tunanetra memanipulasi alat peraga untuk menggambarkan dan menciptakan ide jawaban yang merupakan solusi baru yang unik dan orisinil hasil pemikiran sendiri dengan ciri ide jawaban unik, fungsional, dan berbasis pengalaman sisa penglihatan. Gestur menggambar (visualisaasi di udara) dengan jari mencerminkan keunikan ide yang lahir dari asosiasi dan pemaknaan terhadap obyek nyata. Berikut tiga temuan penting dalam penelitian beserta kontribusinya adalah: 1) kata kerja sebagai representasi berpikir kreatif, seperti “menyentuh”, “menyusun”, dan “menunjukkan”, terbukti mencerminkan proses kognitif dalam setiap aspek berpikir kreatif dengan kontribusinya adalah menyediakan dasar untuk mengembangkan indikator observasi yang obyektif dan berbasis tindakan nyata dalam menilai kreativitas tunanetra; 2) pola co-occurrence kata kerja antar aspek berpikir kreatif, menunjukkan hubungan sistematis antara tindakan fisik dan proses kognitif dengan berkontribusi pada pengembangan instrumen penilaian berpikir kreatif yang terstruktur, berbasis linguistik, dan sesuai dengan karakteristik multisensori mahasiswa tunanetra.
Description
Reupload file Repository 7 April 2026_Yudi
