Hubungan Kejadian Karies Gigi dengan Kualitas Hidup Anak Tunagrahita di SLB Negeri Jember dan Slb C TPA Jember

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Kedokteran Gigi

Abstract

Anak tunagrahita merupakan anak yang memiliki keterbatasan dalam fungsi intelektual, keterampilan adaptif, dan keterbatasan psikomotorik sehingga mereka sulit untuk menerapkan praktik kebersihan rongga mulut di kehidupan sehari-hari. Kondisi tersebut menyebabkan mereka memiliki kebersihan rongga mulut yang buruk, risiko karies yang tinggi, dan mengalami penyakit periodontal. Angka kejadian karies pada anak dapat memengaruhi perkembangan umum dan berdampak terhadap kualitas hidup. Kualitas hidup terkait kesehatan rongga mulut adalah persepsi individu mengenai dampak kesehatan rongga mulut terhadap kualitas hidup dan kesejahteraannya secara keseluruhan. Kualitas hidup dipengaruhi oleh jenis kelamin, usia, dan kesehatan fisik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa hubungan antara kejadian karies gigi dengan kualitas hidup anak tunagrahita. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan metode pendekatan cross-sectional. Penelitian dilakukan di SLB Negeri Jember dan SLB C TPA Jember pada bulan Agustus-Oktober 2024. Populasi penelitian mencakup 98 anak tunagrahita yang bersekolah di kedua SLB tersebut. Metode pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling, dengan jumlah sampel minimum yang dihitung menggunakan rumus Slovin sebanyak 79 sampel. Penelitian ini melibatkan dua variabel utama, yaitu karies gigi yang diukur menggunakan indeks DMF-T/def-t dan kualitas hidup terkait kesehatan rongga mulut yang dinilai melalui kuesioner COHIP-SF 19. Data yang didapat adalah 73 responden retardasi mental dan 7 responden down syndrome dengan rentang usia 6-22 tahun. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata karies gigi anak tunagrahita di SLB Negeri Jember dan SLB C TPA Jember sebesar 5,27 dan 5,03 yang temasuk dalam kategori tinggi. Rata-rata kualitas hidup pada anak tunagrahita di kedua SLB sebesar 41,53 dan 40,62 yang termasuk dalam kategori sedang. Uji korelasi Pearson menunjukkan nilai signifikansi 0,000 (p<0,05), mengindikasikan adanya hubungan antara karies gigi dan kualitas hidup anak tunagrahita. Nilai korelasi Pearson sebesar -0,557 dan -0,650 menunjukkan hubungan kuat, di mana semakin tinggi tingkat karies gigi, semakin rendah kualitas hidup anak tunagrahita. Karies yang tidak ditangani dapat mengganggu fungsi rongga mulut, psikologis, dan sosial. Nyeri akibat karies membuat anak kesulitan mengunyah, yang berdampak negatif pada status gizi. Secara psikologis, karies dapat menyebabkan gangguan tidur, perubahan suasana hati, dan penurunan kewaspadaan. Dari sisi sosial, karies memicu absensi sekolah dan kecenderungan menghindari interaksi dengan orang lain. Berbagai gangguan ini dapat menghambat aktivitas sehari-hari dan memperburuk kualitas hidup anak tunagrahita. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan signifikan antara kejadian karies gigi dengan kualitas hidup anak tunagrahita di SLB Negeri Jember dan SLB C TPA Jember. Semakin tinggi kejadian karies gigi, semakin rendah kualitas hidup mereka. Temuan ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi instansi kesehatan dalam merancang program penurunan angka karies, khususnya untuk anak berkebutuhan khusus di Kabupaten Jember.

Description

Reupload File Repositori 28 Januari 2026 Maya

Keywords

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By