Hubungan Status Ekonomi, Ketahanan Pangan, dan Keragaman Pangan Rumah Tangga dengan Kejadian Balita Stunting di Wilayah Perkebunan (Studi di Desa Lokus Stunting dan Rawan Pangan Wilayah Puskesmas Silo II Kabupaten Jember)
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Ruang Sidang 2 Lt. 2
Abstract
Stunting masih menjadi topik utama permasalahan malnutrisi pada bayi dan
balita yang disebabkan oleh faktor langsung, tidak langsung, dan penyebab dasar.
Status ekonomi menjadi salah satu faktor penyebab stunting yang berpengaruh
terhadap pemenuhan makanan bergizi dalam keluarga yang bergantung pada
ketersediaan dan keterjangkauan akses pangan sehingga mempengaruhi tingkat
ketahanan dan keragaman pangan. Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun
2022 menunjukkan prevalensi stunting di Indonesia dan Jawa Timur belum
mencapai target 14%, di mana Kabupaten Jember menjadi kabupaten/kota dengan
prevalensi tertinggi di Jawa Timur. Kecamatan Silo menjadi daerah perkebunan
dengan prevalensi tertinggi di Kabupaten Jember yaitu sebesar 17,9%. Wilayah
Puskesmas Silo II memiliki tiga desa yang termasuk desa lokus stunting sekaligus
rawan pangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara status
ekonomi, ketahanan pangan, dan keragaman pangan rumah tangga dengan kejadian
balita stunting di wilayah perkebunan.
Jenis penelitian ini observasional analitik dengan pendekatan cross
sectional. Sampel berjumlah 160 keluarga di Desa Mulyorejo, Karangharjo, dan
Harjomulyo yang diambil dengan teknik proportional random sampling.
Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner karakteristik balita dan
keluarga, status ekonomi, Household Food Insecurity Access Scale (HFIAS), serta
Household Dietary Diversity Score (HDDS). Data dianalisis menggunakan analisis
univariat dan bivariat dengan uji regresi logistik sederhana. Penelitian dilakukan
pada bulan April – Mei 2024 dan telah mendapatkan persetujuan dari Komite Etik
Penelitian Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember dengan
nomor etik: No.501/KEPK/FKM-UNEJ/V/2024.
Hasil penelitian ini menunjukkan balita lebih banyak yang berjenis kelamin
laki – laki (51,9%), berusia 36 – 47 bulan (40,6%), serta berstatus gizi tidak stunting
(56,3%). Ayah balita lebih banyak berusia pada rentang 31 – 40 tahun (48,1%),
dengan pendidikan terakhir SD/MI (50%), serta bekerja sebagai petani/perkebun
(50%). Lebih dari setengah dari ibu balita berusia pada rentang usia 21 – 30 tahun
(55%), dengan pendidikan terakhir SMP/SMA (53%), serta tidak memiliki
pekerjaan (72,5%). Mayoritas ayah dan ibu balita tidak memiliki pekerjaan
sampingan yaitu sebesar 86,3% dan 98,1% dan memiliki pendapatan di bawah
Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) Kabupaten Jember (83%). Jumlah
anggota keluarga balita kebanyakan terdiri dari 4 – 6 orang (60,6%). Keluarga balita
lebih banyak yang memiliki status ekonomi miskin (67,5%), status ketahanan
pangan kategori rawan pangan ringan, di mana keluarga khawatir tidak memiliki
makanan serta tidak bisa memakan ragam makanan yang diinginkan (38,1%), serta
status keragaman pangan rendah, yaitu keluarga hanya mengkonsumsi empat
kelompok zat gizi berupa karbohidrat, lemak, protein nabati dan hewani (58,8%).
Kejadian stunting lebih mungkin terjadi pada keluarga dengan kategori ketahanan
pangan rawan pangan berat, di mana keluarga tidak memiliki makanan sehingga
mengurangi porsi dan frekuensi makan bahkan seringkali tidak memakan makanan
apapun (p=0,008). Sebaliknya, pola dari kejadian stunting tersebut tidak sama
dengan ketahanan pangan kategori rawan pangan ringan (p=0,477), kategori rawan
pangan sedang, di mana keluarga memakan makanan yang tidak disukai serta mulai
mengurangi porsi dan frekuensi makan (p=0,076), variabel status ekonomi
(p=0,108), dan variabel keragaman pangan (p=0,312).
Saran yang dapat diberikan oleh peneliti yaitu pihak – pihak yang terkait
diharapkan lebih aktif melakukan kampanye kepada masyarakat mengenai
pemanfaatan lahan pekarangan untuk budid
Description
Reuploud file repositori 13 Apr 2026_Firli_Tata
