Studi Empiris Volatilitas Pasar Keuangan dan Ketidakpastian Ekonomi Global terhadap Kebijakan Moneter di ASEAN 3

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Abstract

Fenomena ketidakpastian ekonomi yang pada tiap periodenya mengalami peningkatan menimbulkan banyak perdebatan di kalangan para ekonom terkait dengan dampaknya terhadap perekonomian secara riil (Ozturk and Simon, 2017; Antonakakis et al., 2018). Ketidakpastian ekonomi global berkaitan dengan ketidakpastian keuangan yang dihasilkan oleh arus modal internasional yang bergejolak dengan ketidaksesuaian jatuh tempo pada neraca perusahaan non finansial untuk meningkatkan volatilitas output, investasi, dan total faktor produktivitas (TFP) dalam ekonomi pasar yang sedang berkembang (Chinn, Ferrara and Giacomini, 2017; Converse and Converse, 2017). Kondisi tersebut memberikan pengaruh terhadap dinamika kebijakan moneter karena terkait dengan implementasi kebijakan untuk menstabilkan perekonomian. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis volatilitas pasar keuangan dan ketidakpastian ekonomi global terhadap monetary aggregates dan exchange rate di Indonesia, Thailand dan Filipina. Variabel yang menjadi objek penelitian adalah M2, CPI, INTDIFF, nilai tukar, GDP riil, VIX, GEPU di Negara ASEAN 3 yaitu Indonesia, Filipina dan Thailand. Metode penelitian yang digunakan adalah Vector Auto Regressive (VAR) dan VAR Panel. Rentan waktu pemilihan dari tahun 2001Q1-2018Q2 dikarenakan terdapat kondisi perekonomian dalam kondisi krisis ekonomi yang menyebabkan terjadi volatilitas di pasar keuangan dan ketidakpastian ekonomi global yang berdampak pada siklus bisnis ekonomi negara maju dan negara berkembang. Berdasarkan hasil analisis VAR untuk negara Indonesia menunjukkan hasil lag optimum pada lag 4. Berdasarkan respon akumulasi akumulasi dari depresiasi nilai tukar Rupiah atas USD berdampak pada penurunan M3, hasil ini berdasarkan pada penelitian Abdullah et al., (2010) yang menjelaskan bahwa terdapat hubungan signifikan antara nilai tukar dengan monetary aggregate dengan hubungan negatif terutama pada jangka pendek. Hasil IRF tersebut juga dibuktikan dari hasil VD yang menunjukkan bahwa NER memiliki kontribusi terbesar dibandingkan dengan variabel independen lainnya yaitu sebesar 18,79%. Hasil ini didukung oleh penelitian terdahulu yaitu oleh Abdullah et al., (2010). Secara akumulasi, pertumbuhan INTDIFF berdampak pada kenaikan M3 dan pertumbuhan dari GEPU berdampak pada penurunan M3. prediksi variabel yang memiliki kontribusi terbesar terhadap M3 adalah RGDP, NER dan GEPU, sehingga Indonesia perlu melakukan penataan kebijakan moneter terutama pada kestabilan harga dan kestabilan nilai tukar dalam mempertahankan ekonomi dari ketidakpastian global (Bank Indonesia, 2018). Hasil analisis VAR untuk Negara Filipina secara akumulasi menunjukkan bahwa peningkatan CPI akan berdampak pada kenaikan M3 sampai periode ke 15 dan setelahnya memberikan pengaruh negatif. Selanjutnya peningkatan dari RGDP dan mata uang Peso yang terdepresiasi dapat secara akumulasi dapat meningkatkan M3. Berdasarkan hasil akumulasi respon akumulasi menunjukkan bahwa INTDIFF, VIX, dan GEPu berdampak negatif terhadap M3 yang mengindikasikan bahwa ketika tingkat suku bunga differensial, volatilitas pasar dan ketidakpastian kebijakan ekonomi global meningkat dapat berpengaruh pada penuruunan M3 (Berger et al., 2017). Hasil analisis untuk negara Thailand berdasarkan hasil akuulasi menunjukkan bahwa peningkatan CPI berdampak pada peningkatan M3. Pengaruh dari depresiasi nilai tukar Bath atas USD secara akumulasi berdampak pada penurunan M3. Secara akumulasi pada Gambar 4.15 peningkatan INTDIFF cenderung berdampak positif, selain itu peningkatan dari nilai VIX dan GEPU dapat berdampak padda peningkatan M3. Selanjutnya volatilitas dari nilai tukar Bath atas USD berdasarkan uji variance decomposition memiliki pengaruh yang signifikan yang dibuktikan bahwa pada setiap periodenya kontribusi dari NER cenderung terus meningkat. Hal ini sejalan dengan penelitian Baccetta (2009) yang menyebutkan bahwa pergerakan dari nilai tukar suatu negara dapat mempengaruhi pertumbuhan dari negara yang bersangkutan. Hasil analisis VAR panel untuk ASEAN 3 adalah Berdasarkan pada hasil akumulasi menunjukkan bahwa ketika terjadi peningkatan INTDIFF, VIX dan GEPU berdampak pada penurunan M3 meskipun pengaruhnya cukup rendah. Secara akumulasi tingkat suku bunga diferensial dapat berdampak pada terdepresiasinya nilai tukar ASEAN 3 pada periode awal dan juga dapat menyebabkan NER mengalami apresiasi pasca periode ke 7. Peningkatan volatilitas dan ketidakpastian ekonomi secara kumulatif berdampak pada apresiasi nilai tukar ASEAN 3 (Caldara et al., 2016). Berdasarkan hasil variance decomposition untuk ASEAN 3 dapat disimpulkan bahwa untuk menjaga stabilitas nilai tukar ASEAN 3 diperlukan adanya pengelolaan M3 dan stabilitas harga. Selain itu juga perlu memperhatikan risiko yang mungkin terjadi terkait dengan ketidakpastian global seperti gejolak di pasar saham, penetapan suku bunga negara maju sebagai bentuk dari perbaikan ekonomi dan kebijakan moneter internasional yang dapat merugikan salah satu pihak (Chinn et al., 2017; Kido,2018)

Description

Reupload file repository 7 April 2026_Rudy/Halima

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By