Penerapan Good Agriculture Practices (Gap) Usahatani Kakao di Desa Jambewangi Kabupaten Banyuwangi

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Pertanian

Abstract

Perkebunan merupakan salah satu subsektor yang memiliki kontribusi besar dalam pembangunan pertanian dan perekonomian Indonesia. Salah satu komoditas perkebunan yang memegang peranan penting sebagai penghasil devisa negara adalah tanaman kakao (Theobroma cacao L.). Komoditas kakao sangat berpotensi menjadi sumber pendapatan, menciptakan lapangan pekerjaan, mendorong pertumbuhan agroindustri dan agribisnis, serta mendukung pengembangan pengelolaan sumber daya alam. Meskipun memiliki potensi yang besar, produksi kakao secara nasional cenderung masih rendah dan belum optimal, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat penerapan Good Agriculture Practices (GAP) pada usahatani kakao di Desa Jambewangi Kabupaten Banyuwangi; mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi penerapan sistem GAP oleh petani kakao di wilayah tersebut; serta merumuskan strategi peningkatan penerapan GAP guna mendorong perbaikan mutu dan produktivitas usahatani kakao secara berkelanjutan. Ketiga tujuan tersebut saling berkaitan dan memiliki peran penting dalam memperkuat fondasi pengembangan kakao nasional, karena penerapan GAP yang optimal di tingkat petani akan berdampak langsung pada peningkatan daya saing produk kakao Indonesia di pasar global serta mendukung pembangunan pertanian yang berkelanjutan. Metode analisis menggunakan analisis skoring, regresi linier berganda dan Analisis Hirarki Proses (AHP). Hasil penelitian ini adalah tingkat penerapan Good Agriculture Practices (GAP) pada usahatani kakao di Desa Jambewangi Kabupaten Banyuwangi sebesar 58,28%, yang tergolong dalam kategori kurang baik. Penilaian penerapan GAP dilakukan berdasarkan enam indikator utama, yaitu pemilihan lahan, persiapan lahan, pengelolaan tanaman penaung, pemeliharaan tanaman, pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), serta kegiatan panen dan pasca panen. Berdasarkan hasil analisis, variabel yang berpengaruh signifikan terhadap tingkat penerapan GAP meliputi pendidikan terakhir dan jumlah anggota keluarga. Sementara itu, variabel umur petani dan luas lahan diketahui tidak berpengaruh signifikan terhadap penerapan GAP. Strategi peningkatan penerapan GAP yang diprioritaskan pada aspek budidaya adalah program perbaikan kakao rakyat, sedangkan pada aspek pasca panen adalah pendampingan pasca panen yang baik guna mendorong perbaikan mutu dan keberlanjutan usahatani kakao di Desa Jambewangi.

Description

Reupload File Repositori 4 Februari 2026_Teddy/Hendra

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By