Identifikasi Intrusi Air Laut Menggunakan Metode Geolistrik Resistivitas 2D Di Kecamatan Puger, Kabupaten Jember

Abstract

Fisika merupakan ilmu yang mempelajari fenomena alam dan prinsip-prinsip yang mendasarinya, salah satunya konsep kelistrikan yang menjadi dasar dalam metode geofisika. Metode geolistrik resistivitas merupakan salah satu metode geofisika yang memanfaatkan sifat kelistrikan batuan untuk mengidentifikasi kondisi bawah permukaan. Metode ini banyak digunakan dalam bidang hidrogeologi, termasuk untuk mendeteksi intrusi air laut pada wilayah pesisir. Wilayah Pesisir Kecamatan Puger, Kabupaten Jember merupakan daerah yang berpotensi mengalami intrusi air laut karena berbatasan langsung dengan Samudera Hindia dan didominasi oleh endapan aluvial yang bersifat permeabel. Peningkatan kebutuhan air tanah akibat aktivitas penduduk dan pertanian menyebabkan penurunan muka air tanah, sehingga memungkinkan air laut masuk ke dalam akuifer. Hal ini berdampak pada penurunan kualitas air tanah yang ditandai dengan meningkatnya salinitas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menentukan sebaran resistivitas bawah permukaan serta mengidentifikasi zona intrusi air laut menggunakan metode geolistrik resistivitas 2D konfigurasi Wenner – Schlumberger. Metode penelitian yang digunakan adalah metode geolistrik resistivitas 2D dengan konfigurasi Wenner – Schlumberger. Pengambilan data dilakukan pada empat lintasan dengan panjang 30 m, 60 m, 80 m, dan 60 m. Data berupa arus listrik (I) dan beda potensial (V) diolah untuk memperoleh nilai resistivitas semu. Selanjutnya, data dimodelkan menggunakan software Res2Dinv untuk menghasilkan penampang bawah permukaan dua dimensi yang menggambarkan variasi nilai resistivitas dan jenis material penyusunnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai resistivitas bawah permukaan bervariasi antara 0,113 Ωm hingga 4702 Ωm. Nilai resistivitas sangat rendah ( <1 Ωm ) mengindikasikan keberadaan air laut, sedangkan nilai 1 – 10 Ωm menunjukkan zona air payau, dan nilai lebih tinggi menunjukkan air tanah tawar atau material padat. Pada lintasan 1 ditemukan indikasi awal intrusi pada kedalaman 0,375 – 1,16 meter. Lintasan 2 menunjukkan zona intrusi air laut pada kedalaman 2,32 – 4,06 meter dengan nilai resistivitas sangat rendah. Lintasan 3 menunjukkan intrusi pada kedalaman lebih dalam yaitu 10,7 – 13,8 meter, sedangkan lintasan 4 menunjukkan intrusi pada kedalaman dangkal sekitar 0,75 – 4,36 meter. Material penyusun bawah permukaan di lokasi penelitian didominasi oleh lempung, lanau, pasir, kerikil, dan batuan kompak yang merupakan ciri khas sedimen aluvial di wilayah pesisir. Variasi litologi ini mempengaruhi tingkat kerentanan terhadap intrusi air laut, dimana material berpori seperti pasir dan kerikil mempermudah pergerakan air laut kedalam akuifer. Kesimpulan dari penelitian ini adalah wilayah pesisir Kecamatan Puger telah mengalami intrusi air laut dengan pola sebaran yang bervariasi baik secara lateral maupun vertikal. Intrusi teridentifikasi pada seluruh lintasan dengan karakteristik yang berbeda-beda, mulai dari tahap awal hingga intrusi kuat, serta terjadi pada kedalaman dangkal hingga dalam. Kondisi ini dipengaruhi oleh faktor geologi, sifat litologi, serta aktivitas pemanfaatan air tanah oleh masyarakat.

Description

Validasi file repositori 4 Agustus 2026_Firli

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By