Kekeringan Meteorologis Kabupaten Jember Berdasarkan Standardized Precipitation Index
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Pertanian
Abstract
Kekeringan meteorologis merupakan indikasi awal terjadinya kekeringan
yang ditandai oleh kekurangan curah hujan dalam jangka waktu yang panjang.
Kekeringan diklasifikasikan menjadi empat kategori, yaitu kekeringan
meteorologis, hidrologis, pertanian, dan sosial ekonomi. Sebagai langkah mitigasi,
pemantauan kekeringan meteorologis menjadi sangat penting. Studi mengenai
kekeringan meteorologis di Kabupaten Jember masih terbatas, sehingga diperlukan
pembaruan informasi dengan cakupan wilayah yang lebih luas. Penelitian ini
bertujuan memperbarui informasi dan memetakan sebaran spasial kekeringan
meteorologis di Kabupaten Jember pada periode 2004–2023 menggunakan metode
Standardized Precipitation Index (SPI).
SPI digunakan untuk mengukur kekeringan berdasarkan data curah hujan.
Data yang digunakan dalam perhitungan SPI berasal dari curah hujan bulanan 77
stasiun pengamatan di Kabupaten Jember. Uji homogenitas data dilakukan dengan
Buishand Range Test dan diperoleh 71 stasiun yang memenuhi syarat. Indeks
kekeringan SPI dihitung berdasarkan skala waktu 1, 3, 6, 9, dan 12 bulan
menggunakan perangkat lunak SPI Generator. Rentang indeks SPI yang digunakan
dalam analisis adalah ≤ -1.00, dengan kategori agak kering (-1.00 hingga -1.49),
kering (-1.50 hingga -1.99), dan sangat kering (≤ -2.00). Hasil SPI negatif diolah
secara spasial dengan metode interpolasi Inverse Distance Weighted (IDW).
Kekeringan meteorologis di Kabupaten Jember bervariasi, mulai dari agak
kering hingga sangat kering. Kejadian terparah tercatat pada periode tertentu,
terutama saat El Niño. Contohnya, SPI 3 di Stasiun Sumberejo mencapai -2,96 pada
bulan Desember 2019, yang menandakan kondisi sangat kering. Kekeringan yang
terjadi pada tahun 2019 dipicu oleh fenomena El Niño yang berlangsung dari
September 2018 hingga Juli 2019, dan diperkuat oleh fase positif Indian Ocean
Dipole (IOD+) sejak Mei hingga Desember 2019.
Hasil analisis menunjukkan bahwa selama periode 2004–2023, kekeringan
meteorologis di Kabupaten Jember didominasi oleh kategori kering. Luasan
tertinggi kategori kering bervariasi tergantung skala waktu SPI. Pada SPI 1,
dominasi kekeringan kategori kering tercatat pada bulan November dengan luas
296.707,08 ha. Untuk SPI 3, puncak sebaran terjadi pada bulan Februari seluas
298.472,02 ha. SPI 6 menunjukkan luasan tertinggi pada bulan Mei sebesar
329.100,21 ha. Sementara itu, SPI 9 mencatat dominasi pada bulan Maret dengan
luas 309.993,20 ha, dan SPI 12 pada bulan April sebesar 297.350,91 ha.
Pada SPI 1 bulan Desember, keseluruhan wilayah Kecamatan Silo
(32.145,73 ha) teridentifikasi mengalami kondisi kekeringan dengan kategori
kering. Pada SPI 3 di bulan Desember, Kecamatan Balung lebih dari setengah
wilayahnya (2.645,17 ha) mengalami kondisi sangat kering. Pada SPI 6 di bulan
Februari, teridentifikasi lebih dari setengah wilayah Kecamatan Ambulu (9.484,84
ha) mengalami kondisi kekeringan dengan kategori sangat kering. Pada SPI 9 di
bulan November, wilayah Kecamatan Puger seluas 4,72 ha berada pada kondisi
sangat kering. Pada SPI 12 di bulan Januari, keseluruhan wilayah di Kecamatan
Gumukmas (9.293,99 ha) mengalami kondisi kekeringan dengan kategori kering.
Potensi kekeringan dapat terjadi di bulan-bulan musim penghujan, kemungkinan
dapat dipengaruhi karena anomali yang muncul di luar periode kemarau akibat dari
gangguan pola iklim global, seperti kondisi El Niño dan IOD+.
Penggunaan SPI dalam berbagai skala waktu memberikan gambaran yang
lebih komprehensif terhadap dinamika kekeringan, baik dalam jangka pendek
maupun panjang. Pemantauan kekeringan meteorologis secara berkala dan
berkelanjutan perlu dilakukan dalam memberikan peringatan dini dan informasi
keparahan. Upaya ini dilakukan untuk mendukung langkah mitigasi dan
pengambilan keputusan di bidang pengelolaan sumber daya air dan pertanian.
Description
Reuploud file repositori 6 Feb 2026_Firli
