“Istilah-Istilah Jamu Tradisional pada Masyarakat Madura di Kecamatan Silo Kabupaten Jember (Suatu Tinjauan Etnosemantik)
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Ilmu Budaya
Abstract
Kegiatan penelitian etnosemantik ini berlangsung di Dusun Kajar RT
003/RW 015 Desa Sumberjati Kecamatan Silo. Topik penelitian ini adalah bentuk
istilah-istilah, makna dan proses pembuatan jamu tradisional Madura. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk istilah, makna dan proses dalam
pembuatan jamu Tradisional Madura.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Data dalam
penelitian ini berupa istilah-istilah jamu dan proses dalam pembuatan jamu
tradisional pada masyarakat Madura di Desa Sumberjati. Kegiatan pengumpulan
data dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi, dan membaca dokumen
dokumen. Setelah data terkumpul, selanjutnya adalah menganalisis data tersebut
sesuai dengan tujuan pembahasan. Dalam tahap analisis data, peneliti menggunakan
metode padan. Metode padan yaitu metode analisis data yang alat penentunya di
luar bahasa yang merupakan konteks sosial bagi terjadinya penggunaan bahasa di
dalam masyarakat. Metode padan digunakan untuk menganalisis makna istilah
jamu tradisional pada masyarakat Madura. Metode padan yang digunakan adalah
metode padan referensial. Metode padan referensial dengan alat penentunya
kenyataan yang ditunjuk bahasa (memiliki acuan atau referent). Peneliti
menghubungkan bahasa dengan hal yang berada di luar bahasa. Sehingga, dengan
metode analisis padan ini, akan diperoleh gambaran makna dari istilah-istilah jamu
dan proses pembuatannya pada masyarakat Madura di Kecamatan Silo Kabupaten
Jember.pr
Hasil analisis data pada penelitian ini yaitu: (1) bentuk istilah-istilah jamu
tradisional Madura, (2) makna istilah jamu tradisional Madura, dan (3) proses
dalam pembuatan jamu tradisional Madura di Kecamatan Silo Kabupaten Jember.
Bentuk istilah-istilah jamu Madura diperoleh dua bentuk yaitu bentuk asal dan
bentuk kata majemuk. Bentuk asal dalam penelitian ini yaitu terdapat pada bahanbahan untuk pembuatan jamu Madura yaitu: 1) Alar [alar], 2) Krocok [krɔcɔk], 3)
Bhesarap [bhəsarap], 4) Jrenguh [jrəŋuh], 5) Mimbeh [mimbəh], 6) Bhegegen
[bhəgəgən], 7) Lalang [lalaŋ] dan Konceh [kɔncèh].
Bentuk kata majemuk terdapat pada beberapa istilah jamu Madura yaitu: 1)
sere penang [sɛrɛ pɛnaŋ], 2) konceh alar [kɔncèh alar], 3) Jhemu Alar [jhəmu alar],
4) Jhemu Krocok [jhəmu krɔcɔk], 5) Jhemu Bhesarap [jhəmu bhəsarap], 6) Jhemu
Jrenguh [jhəmu jrəŋuh], 7) Jhemu Mimbeh [jhəmu mimbəh], 8) Jhemu bhegegen
[jhəmu bhəgəgən], 9) Jhemu pejjhe [jhəmu pəjjhə], 10) Jhemu sarkoyo [jhəmu
sarkɔyɔ], dan 11) Jhemu totop [jhəmu tᴐtᴐp]. Makna istilah jamu Madura sebagian
besar oleh masyarakat Madura dilihat dari bahan utama dalam jamu tersebut.
Proses dalam pembuatan jamu Madura dalam penelitian ini terdapat empat
proses yaitu; (1) Notoh [nᴐtᴐh] atau menumbuk bahan-bahan yang akan dijadikan
sebagai jamu, (2) Merres [mərrəs] atau memeras bahan-bahan yang sudah ditumbuk
untuk diambil sari patinya, (3) Ngolop [ŋᴐlᴐp] atau merebus bahan-bahan yang akan
dijadikan sebagai jamu. Proses ini dilakukan agar jamu lebih tahan lama, dan (4)
Ngobber [ŋᴐbbər] atau membakar bahan-bahan jamu, contohnya seperti jamu
krocok. Bahan-bahan untuk membuat jamu tersebut harus melewati proses ngobber
atau dibakar terlebih dahulu untuk diambil abunya.
Description
Reupload file repository 20 februari 2026_agus/feren
