Pengaruh Fase Cekaman Kekeringan Terhadap Sifat Agronomi Beberapa Varietas Tanaman Kedelai (Glycine Max L.)

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

fakultas Pertanian

Abstract

Kedelai adalah tanaman jenis kacang-kacangan yang banyak dikonsumsi di Indonesia. Kedelai merupakan salah satu tanaman yang mengandung protein tinggi sekitar 30-40%. Konsumsi kedelai di Indonesia diperkirakan akan terus meningkat setiap tahunnya. Hal tersebut berbanding terbalik dengan produktivitas kedelai yang menurun setiap tahunnya. Produktivitas kedelai yang menurun disebabkan oleh cekaman kekeringan akibat perubahan iklim. Cekaman kekeringan pada proses budidaya kedelai berdampak negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman hingga penurunan hasil panen kedelai hingga lebih dari 50%. Salah satu inovasi yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menggunakan varietas lokal yang tahan atau toleran terhadap berbagai fase cekaman kekeringan. Kajian toleransi fase cekaman kekeringan berdasarkan sifat agronomi tanaman kedelai belum banyak dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh interaksi fase cekaman kekeringan pada berbagai fase pertumbuhan dan varietas kedelai lokal terhadap sifat agronomi tanaman. Penelitian ini menggunakan rancangan percobaan RAL tunggal dengan tiga ulangan. Taraf perlakuan adalah fase cekaman kekeringan yang terdiri dari tiga taraf yaitu tanpa cekaman kekeringan (kontrol), cekaman kekeringan fase vegetatif (50% dari kapasitas lapang), dan cekaman kekeringan fase generatif (50% dari kapasitas lapang). Setiap taraf dicobakan pada 15 varietas kedelai yang diperoleh dari BRIN yaitu Argomulyo, Gepak Kuning, Grobogan, Dering 1, Demas 1, Derap 1, Detam 1, Dega 1, Detap 1, Devon 1, Devon 2, Dena 1, Dena 2, Deja 1, dan Deja 2. Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman, diameter batang, umur berbunga, volume akar, rasio tajuk akar, berat segar tajuk, jumlah polong per tanaman, berat polong per tanaman, jumlah biji per tanaman, berat biji per tanaman, dan indeks sensitivitas cekaman kekeringan. Data dianalisis menggunakan ANOVA untuk mengetahui pengaruhinteraksi faktor utama. Perlakuan yang signifikan akan dilanjutkan dengan uji DMRT 5% untuk mengetahui pengaruh perlakuan antar taraf. Korelasi pearson dilakukan untuk mengetahui hubungan antar parameter pengamatan. Analisis regresi menggunakan metode stepwise dilakukan untuk mengetahui sifat agronomi yang paling sensitif terhadap cekaman kekeringan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa cekaman kekeringan pada fase vegetatif menurunkan tinggi tanaman dan diameter batang secara signifikan pada tanaman kedelai dibandingkan dengan perlakuan kontrol. Kedelai dengan cekaman kekeringan fase vegetatif (50% dari kapasitas lapang) memiliki umur berbunga yang lebih lambat dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Akan tetapi, volume akar kedelai akan meningkat secara signifikan pada perlakuan cekaman kekeringan fase vegetatif. Cekaman kekeringan pada fase generatif (50% dari kapasitas lapang) menurunkan berat segar tajuk, jumlah polong per tanaman, berat polong per tanaman, jumlah biji per tanaman, dan berat biji pertanaman secara signifikan dibandingkan perlakukan kontrol. Sebagian besar varietas yang digunakan pada penelitian ini merupakan varietas yang agak toleran cekaman kekeringan pada fase vegetatif dan generatif.

Description

Reupload file repository 5 februari 2026_agus/feren

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By