Hubungan Kehadiran Peran Ayah terhadap Kecemasan pada Remaja Awal di SMP Negeri 1 Jenggawah
Loading...
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Keperawatan
Abstract
Remaja awal merupakan fase perkembangan yang ditandai dengan
perubahan fisik, kognitif, dan psikososial yang berlangsung cepat, sehingga rentan
menimbulkan ketegangan emosional atau yang dikenal sebagai storm and stress.
Pada fase ini, kehadiran ayah memiliki peran penting sebagai figur protektif,
pendidik, sekaligus pembentuk rasa aman psikologis anak, tidak hanya melalui
pemenuhan kebutuhan finansial, tetapi juga melalui keterlibatan emosional dan
pengawasan sehari-hari. Namun, fenomena fatherless atau rendahnya keterlibatan
ayah dalam pengasuhan masih banyak ditemukan di lingkungan keluarga
Indonesia, termasuk di wilayah pedesaan seperti Kecamatan Jenggawah,
Kabupaten Jember. Rendahnya kehadiran peran ayah diduga berkontribusi
terhadap meningkatnya kerentanan remaja mengalami kecemasan, sementara
penelitian yang secara khusus mengkaji hubungan ini pada remaja SMP di
wilayah rural Indonesia masih terbatas.
Penelitian ini menggunakan desain korelasional dengan pendekatan crosssectional. Sampel penelitian berjumlah 253 siswa remaja awal berusia 12–15
tahun di SMP Negeri 1 Jenggawah yang dipilih menggunakan teknik multistage
sampling, yang menggabungkan metode proportionate stratified sampling dan
simple random sampling. Pengukuran kehadiran peran ayah dilakukan
menggunakan instrumen Father Presence Questionnaire (FPQ) yang terdiri dari 32
item pertanyaan dalam 8 indikator (α = 0,91), sedangkan kecemasan diukur
menggunakan Spence Children’s Anxiety Scale (SCAS) yang terdiri dari 38 item
inti dalam 6 indikator (α = 0,92). Analisis data menggunakan uji korelasi
Spearman’s rho (CI = 95%) dan penelitian telah memperoleh persetujuan etik dari
Komite Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Keperawatan Universitas Jember.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor kehadiran peran ayah
responden sebesar 115,34 ± 20,692, dengan dimensi perlindungan terhadap risiko
sebagai dimensi yang paling dominan dirasakan oleh remaja. Sebagian besar
responden, baik laki-laki (85,2%) maupun perempuan (84,8%), berada pada
kategori kecemasan normal, dengan ketakutan terhadap cedera fisik sebagai
indikator kecemasan meningkat yang paling menonjol (39,9%). Hasil uji
Spearman’s rho menunjukkan terdapat hubungan negatif yang signifikan antara
kehadiran peran ayah dan kecemasan pada remaja awal (r = -0,258; p = 0,001).
Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi kehadiran peran ayah yang
dirasakan remaja, semakin rendah tingkat kecemasan yang dialami, meskipun
kekuatan hubungan antara kedua variabel tergolong lemah.
Temuan ini menegaskan pentingnya peningkatan kualitas keterlibatan ayah
dalam pengasuhan, tidak hanya dari aspek pemenuhan kebutuhan finansial, tetapi
juga aspek emosional dan psikologis, sebagai salah satu upaya menurunkan risiko
kecemasan pada remaja awal. Penelitian ini memberikan gambaran penting
mengenai hubungan kehadiran peran ayah dengan kecemasan remaja awal,
khususnya di SMP Negeri 1 Jenggawah, sehingga dapat menjadi dasar bagi upaya
kolaboratif antara tenaga kesehatan, sekolah, dan keluarga dalam mendukung
kesejahteraan psikologis remaja, serta menjadi acuan bagi penelitian selanjutnya
untuk mengkaji faktor-faktor lain yang turut berkontribusi terhadap kecemasan
remaja.
Description
Validasi file repositori 4 Agustus 2026_Firli
