Gambaran Keluhan Risiko Carpal Tunnel Syndrome (CTS) pada Petani Kelurahan Antirogo Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Keperawatan

Abstract

Pekerjaan yang berisiko tinggi terjadi keluhan carpal tunnel syndrome sebagian besar berada di sektor pertanian. Petani mengalami tekanan fisik dalam bekerja seperti; penanganan beban berat secara manual dan berulang, getaran alat dan postur yang tidak ergonomis saat bekerja. Selain itu petani bekerja dengan masa kerja dan durasi kerja yang lama. Sehingga terjadi keluhan berupa kerusakan sendi, ligamen, dan tendon (musculosceletal disorders), misalnya carpal tunnel syndrome. Apabila keluhan tersebut tidak ditangani dengan baik dapat mengganggu aktivitas petani. Seringkali penderita datang dengan gejala carpal tunnel syndrome dan telah terjadi kerusakan saraf dengan neuropati sensorik, kelemahan otot, bahkan keterbatasan fungsional. Penderita mungkin melaporkan telah mengalami gejala tersebut selama beberapa waktu sebelum ada masalah tersebut. Sehingga identifikasi dini penting untuk mempercepat penatalaksanaan dan membatasi komplikasi jangka panjang, terutama pada pasien yang pekerjaannya manual menggunakan tangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran keluhan risiko carpal tunnel syndrome (CTS) pada petani Kelurahan Antirogo Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember. Desain penelitian kuantitatif dengan rancangan cross-sectional dan analisis deskriptif. Populasi penelitian adalah petani Kelurahan Antirogo Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember dengan jumlah sampel sebanyak 101 petani sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Pengambilan data menggunakan kuesioner Boston Carpal Tunnel Syndrome Questionnaire (BCTQ) dan tes phalen. Teknik analisa data penelitian ini berupa analisa univariant untuk mendapatkan gambaran karakteristik responden dan keluhan carpal tunnel syndrome pada petani. Hasil penelitian ini menunjukkan mayoritas petani berjenis kelamin laki laki sebanyak 64 responden (63,4%), usia terbanyak yaitu berada di rentang 46-55 sebanyak 37 responden (36,6%), IMT terbanyak berada di kategori normal sebanyak 61 responden (60,4%), semua responden tidak ada riwayat keturunan penyakit carpal tunnel syndrome yaitu 101 responden (100%), tidak ada kondisi medis lain yaitu 88 (87,1%) responden, penggunaan APD lebih banyak tidak menggunakan APD daripada yang menggunakan APD sebanyak 84 responden (83,2%), lama kerja didapatkan bahwa petani di Kelurahan Antirogo memiliki rata-rata usia 31,29 tahun dan durasi kerja petani di Kelurahan Antirogo memiliki rata-rata 6,38 jam per hari. Petani mengalami keluhan risiko carpal tunnel syndrome yaitu sebesar 45 (44,6%) berdasarkan kuesioner BCTQ dan 28 (27,7%) berdasarkan tes phalen. Keluhan risiko CTS tertinggi berdasarkan gejala keparahan BCTQ adalah sensasi kesemutan 34 (33,7%), mati rasa atau kesemutan pada tangan di malam hari 30 (29,7%), dan nyeri tangan atau pergelangan tangan di malam hari 25 (24,1%). Hampir separuh petani mengalami keluhan risiko CTS. Hal ini seharusnya menjadi perhatian serius bagi para petani untuk melakukan pencegahan dan pengobatan guna mengurangi keluhan ini agar tidak mengganggu produktivitas kerja.

Description

Reupload Repository 6 Februari 2026_Hasim

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By