Toksisitas Metarizium Anisopliae Perbanyakan Pada Berbagai Formulasi Untuk Mengendalikan Spodoptera Frugiperda J. E. Smith
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Pertanian
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi toksisitas jamur entomopatogen
M. anisopliae dalam berbagai formulasi untuk mengendalikan larva ulat S. frugiperda.
Metode penelitian dengan beberapa tahapan, yaitu persiapan media pertumbuhan,
inokulasi jamur, dan pengujian efektivitas terhadap larva S. frugiperda. Persiapan
media pertumbuhan dilakukan dengan mencuci subtrat jagung, merendam, mengering
anginkan, dan menggiling menjadi tepung. Mencampurkan tepung jagung tersebut
dengan berbagai tepung serangga dengan konsentrasi tertentu dan menstrerilkan
menggunakan autoklaf. Mendinginkan media setelah itu melakukan inokulasi dengan
M. anisopliae. Menyiapkan suspensi spora dengan memanen spora dengan aquades dan
larutan tween 80. Setelah menyuntikkan suspensi kedalam media formulasi.
Mendiamkan selama 2 minggu dalam penyimpanan. Menghitung kerapatan spora
formulasi. Menghitung dosis aplikasi dengan kerapatan spora 107. Melakukan
pengujian dengan merendam ulat S. frugiperda kedalam formulasi yang sudah
ditambahkan air steril dan larutan tween 80 dalam petridish. Pengamatan dilakukan
setiap hari untuk mengukur mortalitas, mikosis, dam mumifikasi larva akibat infeksi.
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktor tunggal
dengan 13 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuannya terdiri dari P1T1 = Formulasi
bioinsektisida (media formulasi yang terdiri dari tepung jagung ditambah 2,5% tepung
jangkrik, P1T2 = Formulasi bioinsektisida (media formulasi yang terdiri dari tepung
jagung ditambah 7,5% tepung jangkrik, P2T1 = Formulasi bioinsektisida (media
formulasi yang terdiri dari tepung jagung ditambah 2,5% tepung uret, P2T2 =
Formulasi bioinsektisida (media formulasi yang terdiri dari tepung jagung ditambah
7,5% tepung uret, P3T1 = Formulasi bioinsektisida (media formulasi yang terdiri dari
tepung jagung ditambah 2,5% tepung ikan, P3T2 = Formulasi bioinsektisida (media formulasi yang terdiri dari tepung jagung ditambah 7,5% tepung ikan, P4T1 =
Formulasi bioinsektisida (media formulasi yang terdiri dari tepung jagung ditambah
2,5% tepung ulat hongkong, P4T2 = Formulasi bioinsektisida (media formulasi yang
terdiri dari tepung jagung ditambah 7,5% tepung ulat hongkong, P5T1 = Formulasi
bioinsektisida (media formulasi yang terdiri dari tepung jagung ditambah 2,5% tepung
maggot, P5T2 = Formulasi bioinsektisida (media formulasi yang terdiri dari tepung
jagung ditambah 7,5% tepung maggot, A1T0 = Formulasi bioinsektisida (media
formulasi yang terdiri dari tepung jagung), A2T0 = Formulasi bioinsektisida (media
formulasi yang terdiri dari beras jagung), A3T0= Kontrol ( tanpa formulasi
bioinsektisida). Variabel yang diamati meliputi kerapatan spora, mortalitas serangga,
mikosis, dan mumifikasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung ikan pada media
perbanyakan formulasi meningkatkan kerapatan spora secara signifikan dengan
kerapatan tertinggi tercatat pada perlakuan P3T1 (26,37 x 10^7). Mortalitas tertinggi
(60%) ditemukan pada perlakuan P1T2, persentase mikosis tertinggi (53,33%)
ditemukan pada perlakuan P1T2, mumifikasi tertinggi (16,66%) ditemukan pada
perlakuan P2T2, P3T1, dan P4T1 sedangkan nilai LT50 M. anisopliae untuk
mengendalikan S frugiperda satu satunya terdapat pada perbanyakan pada formulasi
P1T2 sebesar 8,41 hari. Penelitian ini menunjukkan bahwa optimasi media formulasi
dan konsentrasi tepung serangga dapat meningkatkan efikasi M. anisopliae sebagai
agen pengendali hayati sehingga diperoleh hasil yang maksimal serta perlu penelitian
lebih lanjut pengembangan formulasi baru dengan bahan tambahan yang dapat
meningkatkan efektivitas dan daya tahan spora M. anisopliae.
Description
Reupload Repository 4 Februari 2026_Hasim/Firdiana
