Klasifikasi Tanaman Pada Lahan Pertanian Terfragmentasi Menggunakan Integrasi Data Satelit Remote Sensing Radar dan Optik
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Abstract
Lahan pertanian di Kabupaten Jember mengalami tekanan signifikan akibat
konversi lahan menjadi area non-pertanian, seperti pemukiman dan infrastruktur.
Fenomena ini tidak hanya mengurangi luas lahan produktif, tetapi juga memicu
terjadinya fragmentasi lahan yang mengacu pada pemecahan lahan pertanian menjadi
bidang-bidang kecil yang tersebar secara tidak merata. Fragmentasi ini menyulitkan
dalam pemetaan dan pengelolaan tanaman, khususnya di wilayah dengan topografi
kompleks dan pola tanam campuran.
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan metode klasifikasi tanaman
pertanian pada lahan terfragmentasi dengan mengintegrasikan data citra satelit radar
(Sentinel-1) dan optik (Sentinel-2). Integrasi dilakukan melalui pendekatan fusi pada
feature-level fusion, yang menggabungkan berbagai indeks spektral (NDVI, NDWI,
NDBI) dari Sentinel-2 dan informasi backscatter radar (VV, VH, VV/VH) dari
Sentinel-1. Pengolahan dan klasifikasi dilakukan menggunakan algoritma Random
Forest yang diimplementasikan pada platform Google Earth Engine (GEE), dengan
dukungan data observasi lapang sebagai titik referensi klasifikasi.
Penelitian dilakukan di empat kecamatan di Kabupaten Jember: Jombang,
Umbulsari, Kencong, dan Gumukmas. Wilayah ini dipilih karena karakteristiknya
yang merepresentasikan kondisi fragmentasi pertanian di daerah tropis. Data citra
satelit digunakan dalam bentuk deret waktu selama periode 2021-2024, dengan
pembatasan tutupan awan maksimal 15%. Titik observasi terdiri dari 122 titik training
dan 51 titik validasi, mewakili delapan kelas tutupan lahan, yaitu: lahan terbangun,
sawah, jagung, tebu, jeruk, vegetasi non-pertanian, semak belukar, dan badan air.
Tahap awal berupa preprocessing citra dilakukan untuk memastikan kualitas
data. Citra Sentinel-2 mengalami proses cloud masking menggunakan Scene
Classification Layer (SCL), sedangkan citra Sentinel-1 dikoreksi radiometrik
menggunakan filter Lee untuk menggunakan speckle noise. Proses fusi kemudian
menghasilkan citra gabungan yang mengandung informasi struktural, tekstural, dan
spektral dari kedua jenis data satelit. Fusi ini memungkinkan perbedaan antar kelas
lahan yang secara spektral saling tumang tindih dapat lebih mudah dikenali oleh
algoritma klasifikasi.
Hasil klasifikasi menunjukkan bahwa metode fusi Sentinel-1 dan Sentinel-2
memberikan representasi spasial yang lebih detail, khususnya pada wilayah dengan
keragaman vegetasi tinggi. Peta hasil klasifikasi memperlihatkan distribusi tanaman
seperti jeruk, tebu, dan sawah yang tersebar dengan pola tertentu. Jeruk banyak
ditemukan di sisi timur laut dan barat daya, sementara tebu tersebar di wilayah datar
bagian tengah. Kelas semak belukar merupakan tutupan lahan terluas, disusul oleh
tebu dan jeruk. Kelas sawah, meskipun luasnya signifikan, mengalami kesalahan klasifikasi yang cukup tinggi karena kemiripan spektral dengan tanaman musiman lain
seperti jagung dan tebu.
Evaluasi akurasi dilakukan menggunakan confusion matrix dan metode stratified
random sampling. Hasil pengujian menunjukkan nilai overall accuracy sebesar
84.375% yang termasuk dalam kategori substantial agreement menurut standar
Cohen’s Kappa. Kelas dengan akurasi tertinggi adalah lahan terbangun, badan air, dan
vegetas non-pertanian, yang memiliki ciri khas spektral dan tekstural yang mudah
dibedakan. Sebaliknya, kesalahan klasifikasi banyak terjadi pada kelas pertanian
musiman akibat tumpang tindih spektral pada fase pertumbuhan awal tanaman.
Hasil ini menunjukkan bahwa integrasi data radar dan optik dalam klasifikasi
tutupan lahan, terutama dengan pendekatan fusi fitur, mampu meningkatkan ketepatan
identifikasi di wilayah degan fragmentasi spasial tinggi. Selain itu, penggunaan
platform GEE memungkinkan pengolahan data skala besar secara efisien dan cepat,
tanpa perlu infrastruktur komputasi lokal yang kompleks. Pendekatan ini juga terbukti
lebih unggul dibandingkan klasifikasi dengan sensor tunggal, seperti yang dilaporkan
dalam penelitian terdahulu oleh Dagne et al. (2023), yang hanya mencapai akurasi
81% di wilayah tropis menggunakan metode serupa.
Penelitian ini memberikan kontribusi pentig dalam pengembangan metode
klasifikasi berbasis penginderaan jauh untuk wilayah pertanian tropis yang
terfragmentasi. Temuan ini dapat dimanfaatkan oleh instansi seperti Balai Penyuluhan
Pertanian (BPP) untuk memantau distribusi dan dinamika tanaman pertanian secara
periodik. Selain itu, model ini juga dapat diadaptasi untuk wilayah lain yang memiliki
kompleksitas spasial dan keragaman tutupan lahan serupa.
Meskipun hasil yang dicapai tergolong tinggi, penelitian ini masih memiliki
keterbatasan, khususnya dalam keterbatasan titik observasi lapang untuk beberapa
kelas tutupan yang lebih kecil (misalnya badan air dan semak belukar). Oleh sebab itu,
pengembangan lebih lanjut dapat dilakukan dengan menambahkan fitur tekstur dari
citra radar secara eksplisit atau integrasi dengan data topografi (DEM dan slope) untuk
meningkatkan akurasi klasifikasi pada skala yang lebih luas.
Secara keseluruhan, penelitian ini berhasil membuktikan bahwa pendekatan fusi
citra optik dan radar berbasis GEE dengan algoritma Random Forest merupakan
metode yang efektif untuk klasifikasi tanaman pertanian di lahan terfragmentasi.
Metode ini mendukung perancangan pertanian berkelanjutan dan penagmbilan
kebijakan berbasis data spasial yang lebih akurat.
Description
Reupload Repository 4 Februari 2026_Hasim
