Analisis Daya Tampung Beban Pencemaran Sungai Bedadung Kabupaten Jember (Kecamatan Sumbersari–Kaliwates) Dengan Wasp (Water Quality Analysis Simulation Program)
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Teknik
Abstract
Sungai Bedadung di Kabupaten Jember berfungsi sebagai sumber air yang dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan masyarakat. Kegiatan ini berdampak pada penurunan kualitas air sungai, terutama karena pencemaran dari limbah domestik dan tumpukan sampah di bantaran sungai. Berdasarkan laporan Dinas Lingkungan Hidup Jember tahun 2021, nilai COD melampaui ambang batas mutu air kelas I sesuai PP No. 22 Tahun 2021. Pemodelan menggunakan software WASP digunakan untuk menganalisis kualitas air dan daya tampung beban pencemaran sungai.
Sungai Bedadung terbagi menjadi 3 segmen, yaitu Kecamatan Sumbersari hingga Kaliwates. Pembagian segmen bertujuan untuk memudahkan analisis dan pengumpulan data yang dibutuhkan. Parameter COD digunakan sebagai indikator kualitas air, sedangkan validasi model dilakukan menggunakan Mean Absolute Percentage Error (MAPE). Penentuan beban pencemar dilakukan dengan dua skenario yaitu keadaan sungai di tahun 2026 dan variasi reduksi beban pencemaran di sektor domestik dan point source hingga 75%.
Hasil analisis menunjukkan bahwa konsentrasi COD tertinggi di Sungai Bedadung berada pada titik A, yaitu 185,2 mg/L, nilai ini melebihi baku mutu air kelas I maupun kelas IV berdasarkan PP No. 22 Tahun 2021. Hasil validasi model menunjukkan MAPE sebesar 27,70% yang tergolong kategori layak. Perhitungan daya tampung beban pencemaran Sungai Bedadung menunjukkan bahwa sungai tidak dapat lagi menampung beban pencemaran, ditandai dengan nilai negatif pada daya tampung. Nilai daya tampung pada segmen 1, 2, dan 3 adalah -42.893 kg/hari, -44.098,84 kg/hari, dan -95.146,72 kg/hari. Strategi alternatif yang dapat diterapkan untuk mengurangi pencemaran COD di sektor domestik yaitu melakukan sosialisasi dan kampanye lingkungan, larangan melakukan kegiatan buang air besar di sungai, menerapkan lahan basah buatan (Constructed Wetland), serta menggunakan teknologi sanitasi Tripikon-S.
Description
Reapluod Repositori File 26 Januari 2026_Kholif Basri
