Respons Imun Humoral Imunoglobulin M Pascainjeksi Protein Rekombinan DBL2β-PfEMP1 Pada Tikus Wistar Sebagai Kandidat Vaksin Malaria

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Kedokteran

Abstract

Malaria termasuk ke dalam tiga penyakit infeksi utama di dunia dengan 249 kasus dengan 608.000 kematian di seluruh dunia pada tahun 2022. Pada tahun 2023, Indonesia menempati posisi kedua di Asia dengan angka mortalitas dan morbiditas tertinggi akibat malaria. Plasmodium falciparum menjadi penyebab utama malaria di Indonesia dan bertanggung jawab terhadap gejala malaria berat yang berhubungan dengan kemampuan sitoadherensi dan rosetting yang dimilikinya. Perlu adanya strategi pencegahan, salah satunya adalah penggunaan vaksin dengan menggunakan protein target Plasmodium falciparum Erythrocyte Membrane Protein 1 (PfEMP1). Penelitian terhadap respons imun yang dihasilkan terutama imunoglobulin M pascainjeksi protein rekombinan DBL2β-PfEMP1 masih terbatas, sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran respons imun humoral melalui pengukuran kadar IgM pada tikus Wistar (Rattus norvegicus) pascainjeksi variasi dosis protein rekombinan DBL2β-PfEMP1. Penelitian ini menggunakan desain true experimental dengan rancangan penelitian posttest only control group design. Penelitian ini menggunakan 15 ekor tikus wistar (Rattus norvegicus) jantan yang terbagi ke dalam 4 kelompok. Proses dimulai dengan produksi, ekstraksi, dan purifikasi protein rekombinan DBL2β-PfEMP1. Protein yang telah terpurifikasi divisualisasikan menggunakan SDS-PAGE dan konsentrasi protein diukur menggunakan Bradford protein assay. Protein rekombinan DBL2β-PfEMP1 diinjeksikan secara subkutan dalam tiga kelompok dosis yang berbeda (150 μg dengan adjuvan, 300 μg dengan adjuvan, 450 μg dengan adjuvan), serta terdapat kelompok kontrol yang diberi injeksi NaCl 0,9%. Injeksi dilakukan sebanyak tiga kali, dengan injeksi primer pada hari ke-0 dan dua injeksi sekunder pada hari ke-21 dan ke-42. Pengambilan sampel darah secara retro-orbital dilakukan pada hari ke-14, 35, dan 56. Kadar IgM diukur menggunakan ELISA. Analisis data penelitian ini menggunakan uji one-way ANOVA untuk mengetahui perbedaan antar kelompok dosis dan uji mixed methods ANOVA untuk mengetahui perbedaan antar waktu. Hasil analisis data yang menunjukkan adanya perbedaan signifikan akan dilanjutkan dengan uji post hoc Bonferroni. Hasil penelitian menunjukkan adanya tren peningkatan kadar IgM pascainjeksi protein rekombinan DBL2β-PfEMP1 pada kelompok perlakuan terutama pada kelompok dosis 450 µg dengan adjuvan pascainjeksi primer. Hasil analisis data menggunakan uji one-way ANOVA menunjukkan adanya perbedaan signifikan kadar IgM pascainjeksi primer (p=0,033). Hasil analisis data antar kelompok dosis, selain dosis 450 µg dengan adjuvan pascainjeksi primer, menggunakan uji one-way ANOVA dan antar waktu menggunakan uji mixed methods ANOVA menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p≥0,05).

Description

Dosen Pembimbing Utama : Dr.rer.biol.hum. dr. Erma Sulistyaningsih, M.Si., Gcert. AgHealthMed Dosen Pembimbing Anggota : dr. Rosita Dewi, M.Biotek

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By