Potensi Gel Ekstrak Biji Kopi Robusta dalam Menghambat Penurunan Ketinggian Tulang Alveolar (Penelitian pada Tikus Model Periodontitis Kombinasi LPS P. gingivalis dan Wire Niti)

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Kedokteran Gigi

Abstract

Periodontitis merupakan penyakit peradangan destruktif pada jaringan penyangga gigi yang disebabkan oleh infeksi bakteri, terutama spesies Porphyromonas gingivalis (P.gingivalis). Bakteri patogen ini menghasilkan berbagai faktor virulen seperti gingipain, lipopolisakarida, dan fimbria yang memicu respons inflamasi kronis. Proses inflamasi yang berkepanjangan ini merusak ligamen periodontal dan tulang alveolar, mengakibatkan terbentuknya poket periodontal, resesi gingiva, dan akhirnya hilangnya gigi. Selain itu, penggunaan kawat gigi atau archwire dari bahan nikel-titanium (NiTi) juga dapat memperburuk peradangan pada jaringan periodontal. Struktur kawat gigi yang kompleks seringkali menyulitkan pembersihan sehingga memungkinkan penumpukan plak bakteri. Akumulasi plak inilah yang kemudian memicu dan memperparah inflamasi pada gusi, yang dapat berujung pada periodontitis. Maka diperlukan obat terapeutik untuk mencegah terjadinya penurunan ketinggian tulang alveolar akibat peningkatan inflamasi kedua faktor tersebut. Ekstrak biji kopi robusta dapat dijadikan sebagai obat alami alternatif untuk mencegah terjadinya inflamasi yang berlebihan dari proses sistem pertahanan tubuh. Biji kopi robusta memiliki banyak kandungan seperti flavonoid dan polifenol sebagai senyawa antioksidan, alkaloid, dan saponin. Asam klorogenat yang merupakan senyawa polifenol yang mampu menurunkan sekresi sitokin proinflamasi. Kafein yang terkandung dalam ekstrak biji kopi robusta juga membantu meningkatkan aktivitas dan pembentukan osteoblas serta mampu menghambat produksi mediator inflamasi. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental yang dilakukan dengan mengukur penurunan ketinggian tulang alveolar secara histologi pada model tikus periodontitis yang dibagi dalam beberapa kelompok perlakuan diantaranya adalah induksi dengan LPS P. gingivalis, wire NiTi, dan kombinasi LPS P.gingivalis dan wire NiTi tanpa terapi dan dengan terapi gel ekstrak biji kopi robusta. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan pembesaran 40x untuk melihat gigi molar dan tulang alveolar, kemudian bagian interdental diantara molar 1 dan molar 2 dicapture menggunakan optilab. Setelah itu menggunakan software Image Raster dilakukan pengukuran. Data pengukuran penurunan tulang alveolar dianalisis statistik dengan menggunakan program Statistical Package for The Social Sciences (SPSS) versi 3.0. Hasil pengukuran rata-rata penurunan ketinggian tulang alveolar pada semua kelompok tikus yang diinduksi periodontitis, baik yang hanya diberi LPS P. gingivalis, diberi wire NiTi, maupun kombinasi keduanya, lebih rendah dibandingkan dengan semua kelompok yang diterapi. Hasil uji statistik menunjukan bahwa kelompok yang memiliki perbedaan signifikan (p<0,05) pada kelompok yang tidak diterapi dan yang diterapi yaitu kelompok LPS dan kelompok LPS yang diterapi saja. Namun pada kelompok kombinasi LPS dan NiTi dengan LPS dan NiTi yang diterapi tidak menunjukan hasil signifikansi (p>0,05). Hal ini dimungkinkan karena adanya keterbatasan dalam durasi perlakuan, jumlah sampel, dan jumlah konsentrasi bahan terapi. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pemberian gel ekstrak biji kopi robusta (Coffea canephora) memiliki potensi untuk menghambat penurunan ketinggian pada tulang alveolar tikus model periodontitis yang diinduksi kombinasi LPS P. gingivalis dan wire NiTi.

Description

Reupload Repository 26 Maret 2026 Maya

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By