Lampersari: Kamp Perempuan dan Anak-anak di Semarang Tahun 1942-1945
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Ilmu Budaya
Abstract
Penelitian ini mengkaji tentang keberadaan Kamp Interniran Lampersari di
Semarang pada masa pendudukan Jepang antara tahun 1942 hingga 1945.
Penelitian ini memiliki tujuan, yaitu 1) Menjelaskan latar belakang pendirian
kamp interniran Lampersari, 2) Menggambarkan kondisi sosial, kesehatan, serta
struktur internal interniran di dalam Kamp Lampersari, 3) menjabarkan proses
pembebasan interniran setelah kekalahan Jepang pada tahun 1945. Penelitian ini
menggunakan metode sejarah dengan pendekatan politik dan teori kekuasaan
Michel Foucault untuk menganalisis bagaimana ruang kamp digunakan sebagai
instrumen kekuasaan melalui pengawasan, disiplin, dan pengendalian terhadap
tubuh dan perilaku para interniran.
Kamp Lampersari merupakan salah satu kamp interniran sipil terbesar di
wilayah Jawa, yang diperuntukkan khusus bagi perempuan dan anak-anak
keturunan Belanda. Kamp ini berdiri sebagai bagian dari strategi militer dan sosial
Jepang dalam mengendalikan warga sipil asing yang dianggap sebagai
perpanjangan tangan kekuasaan kolonial Barat. Interniran yang ditempatkan di
dalam kamp tidak hanya kehilangan kebebasan fisik, tetapi juga mengalami
represi sosial, ekonomi, dan psikologis yang berlangsung selama lebih dari tiga
tahun.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi kehidupan di dalam Kamp
Lampersari sangat memprihatinkan. Para interniran, mayoritas perempuan dan
anak-anak, mengalami penderitaan akibat kurangnya pasokan makanan, sanitasi
yang buruk, minimnya akses kesehatan, serta perlakuan keras dari penjaga kamp.
Meskipun berada dalam situasi represif, solidaritas sosial antar penghuni kamp
tetap terjalin, terutama melalui aktivitas pendidikan informal, kegiatan keagamaan, dan pembentukan struktur organisasi internal yang membantu
menjaga ketertiban dan semangat bertahan hidup.
Setelah Jepang menyerah pada Sekutu, lembaga Recovery of Allied
Prisoners of War and Internees (RAPWI) melakukan proses evakuasi dan
rehabilitasi terhadap para interniran, termasuk di Kamp Lampersari. Penelitian ini
menyimpulkan bahwa Kamp Lampersari bukan hanya menjadi simbol penderitaan
warga sipil Eropa di bawah kekuasaan militer Jepang, tetapi juga mencerminkan
dinamika kuasa yang bekerja melalui pengawasan tubuh dan ruang hidup. Di sisi
lain, keberadaan kamp juga menjadi arena perlawanan diam-diam melalui
ketahanan sosial dan psikologis para perempuan dan anak-anak yang menjadi
korban sistem interniran.
Description
Reupload file repositori 06 Mar 2026_Maya
