Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Merkuri (Hg) pada Ikan Laut yang Dikonsumsi Nelayan di Desa Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi

Abstract

Pencemaran logam berat merkuri (Hg) di lingkungan perairan masih menjadi permasalahan yang berpotensi menimbulkan dampak kesehatan melalui konsumsi ikan laut. Salah satu sumber pencemaran merkuri berasal dari aktivitas Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK) yang menggunakan merkuri dalam proses amalgamasi. Dusun Ringinsari, Desa Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi merupakan wilayah pesisir yang memiliki muara sungai yang terhubung dengan kawasan PESK, sehingga berpotensi mengalami pencemaran merkuri. Penelitian ini bertujuan menganalisis risiko kesehatan lingkungan akibat kandungan merkuri (Hg) pada ikan laut yang dikonsumsi nelayan di Dusun Ringinsari, Desa Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi menggunakan pendekatan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan ARKL. Sampel penelitian terdiri atas tiga jenis ikan laut, yaitu ikan tongkol (Euthynnus affinis), ikan layur (Trichiurus lepturus), dan ikan solok/kembung (Rastrelliger sp.) yang diperoleh dari hasil tangkapan nelayan di perairan sekitar Pantai Lampon. Sebanyak 67 nelayan dipilih sebagai responden menggunakan teknik accidental sampling. Konsentrasi merkuri dianalisis menggunakan metode Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry (ICP-MS), sedangkan data konsumsi ikan diperoleh melalui wawancara menggunakan Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ). Analisis risiko meliputi identifikasi bahaya, analisis dosis-respons, analisis pajanan, dan karakterisasi risiko menggunakan nilai Risk Quotient (RQ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi merkuri tertinggi terdapat pada ikan solok sebesar 0,2029 mg/kg, diikuti ikan tongkol sebesar 0,0333 mg/kg dan ikan layur sebesar 0,0209 mg/kg. Seluruh konsentrasi masih berada di bawah batas maksimum BPOM sebesar 0,5 mg/kg. Namun, hasil karakterisasi risiko menunjukkan nilai RQ populasi pada ikan tongkol, ikan layur, dan ikan solok masing-masing sebesar 204,493; 10,001; dan 299,025, sehingga seluruhnya termasuk kategori tidak aman (RQ ≥1). Pada tingkat individu, seluruh responden yang mengonsumsi ikan tongkol dan ikan solok berada pada kategori tidak aman, sedangkan sebagian responden yang mengonsumsi ikan layur masih berada pada kategori aman. Meskipun kadar merkuri pada ikan masih memenuhi baku mutu BPOM, konsumsi ikan secara terus-menerus berpotensi menimbulkan risiko kesehatan. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengelolaan dan komunikasi risiko untuk meminimalkan pajanan merkuri pada masyarakat nelayan.

Description

Finalisasi Repository/HASYIM Agustus 2026

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By