Gambaran Faktor Risiko Keluhan de Quervain Syndrome pada Pekerja Pengolahan Tapai Singkong di Kabupaten Jember
| dc.contributor.author | Faihaa Jannatuz Zahro | |
| dc.date.accessioned | 2026-06-08T04:43:40Z | |
| dc.date.issued | 2025-07-03 | |
| dc.description | Reuploud Repository hasyim Juni 2026 Validasi file repositori 8 Juni 2026_Magang SP_(Tirta)_Firli | |
| dc.description.abstract | Sindrom de Quervain merupakan peradangan kronis berupa nyeri pada selubung otot extensor pollicis brevis (EPB) dan abductor pollicis longus (APL) (Suryani, 2018). Penggunaan sendi di sekitar ibu jari dan pergelangan tangan secara berlebihan dapat berdampak pada munculnya nyeri dan inflamasi (Adiputra & Rahman, 2021). Kondisi de Quervain bahkan berujung pada hilangnya 2 juta hari kerja per tahun di negara maju (Badri, 2023). Hal ini umum terjadi di seluruh populasi tenaga kerja di dunia dengan prevalensi mencapai 0,7%-36% (Ramdan et al., 2022). Pekerja pengolahan tapai singkong membutuhkan berbagai gerakan repetitif dalam aktivitas kerjanya, terutama pada proses pengupasan singkong, pembersihan serat, peragian, dan pengemasan. Aktivitas repetitif tersebut dapat memicu timbulnya keluhan de Quervain pada pekerja. Bila tidak segera ditangani, pekerja dapat merasakan kebas dan kekakuan otot parah yang berujung pada keterbatasan gerak untuk beraktivitas dan kecacatan (Naim & Wahyuni, 2024:230). Konsekuensi lainnya berupa kehilangan waktu kerja, peningkatan absenteeism, dan penurunan produktivitas kerja (Williams et al., 2024:72). Terdapat beberapa faktor risiko dari sindrom de Quervain, yakni faktor individu seperti usia, jenis kelamin, dan indeks massa tubuh (IMT), serta faktor pekerjaan berupa masa kerja, durasi kerja, dan repetitive motion (Fitriana et al., 2024:46). Dengan demikian, penelitian ini bertujuan mengkaji gambaran faktor risiko berupa faktor individu dan pekerjaan dari keluhan de Quervain syndrome pada pekerja industri pengolahan tapai singkong di Kabupaten Jember. Metode penelitian yang digunakan mengaplikasikan jenis penelitian kuantitatif dengan metode deskriptif. Lokasi penelitian bertempat pada industri pengolahan tapai singkong A, B, C, dan D di Kabupaten Jember. Waktu penelitian dimulai dari Desember 2024 hingga April 2025. Populasi penelitian berupa total pekerja dari keempat industri sejumlah 35 orang dengan penerapan teknik total sampling untuk dijadikan sampel penelitian. Data dikumpulkan melalui teknik wawancara dan observasi menggunakan bathroom scale, microtoise, Visual Analogue Scale for Pain (VAS), Assessment of Repetitive Tasks (ART) tools for upper limbs, dan kuesioner penelitian. Data akan dianalisis secara deskriptif dan dikaji menggunakan crosstabs sebelum disajikan menggunakan tabel dan narasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih banyak pekerja yang memiliki usia 25-34 tahun (45,7%), berjenis kelamin laki-laki (77,1%), dan memiliki IMT normal (68,6%). Berdasarkan faktor pekerjaan, sebagian besar pekerja telah bekerja selama ≤ 5 tahun (71,4%), memiliki durasi kerja > 8 jam/hari (51,4%), dan melakukan repetitive motion > 20 kali/menit (85,7%). Keluhan de Quervain lebih banyak dialami oleh pekerja pada tangan kanan (65,7%) dengan gejala yang muncul berupa nyeri saat bergerak di area pangkal ibu jari hingga pergelangan tangan. Proporsi keluhan de Quervain pada tangan kanan berdasarkan faktor individu sebagian besar dirasakan oleh pekerja berusia ≥ 55 tahun (100%), berjenis kelamin perempuan (87,5%), serta memiliki IMT gemuk tingkat berat (100%). Sementara itu, proporsi keluhan berdasarkan faktor pekerjaan lebih banyak dirasakan oleh pekerja dengan masa kerja > 5 tahun (70%), bekerja > 8 jam/hari (66,7%), serta melakukan repetitive motion sebanyak > 20 kali/menit (70%). Saran dari peneliti bagi pemilik industri ialah pemilik dapat mengatur shift antarpekerja, atau pemberian edukasi dan pengawasan terhadap postur kerja masing-masing pekerja. Bagi pekerja, disarankan untuk melakukan peregangan di sela-sela pergantian proses kerja, memperhatikan postur kerja tubuh bagian atas, serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika mengalami nyeri yang memburuk di area ibu jari dan pergelangan tangan. Selain itu, peneliti selanjutnya sebaiknya dapat melakukan Finkelstein’s test untuk mengukur keluhan de Quervain secara objektif agar didapat hasil data yang lebih akurat dan mencari signifikansi hubungan antarvariabel pada faktor risiko keluhan de Quervain. | |
| dc.description.sponsorship | Dosen Pembimbing Utama : Ana Islamiyah Syamila, S.Keb., M.KKK. Dosen Pembimbing Anggota : dr. Ragil Ismi Hartanti, M.Sc. | |
| dc.identifier.uri | https://repository.unej.ac.id/handle/123456789/8279 | |
| dc.language.iso | other | |
| dc.publisher | Fakultas Kesehatan Masyarakat | |
| dc.subject | Keluhan de Quervain Syndrome | |
| dc.subject | Pekerja | |
| dc.subject | Tapai Singkong | |
| dc.title | Gambaran Faktor Risiko Keluhan de Quervain Syndrome pada Pekerja Pengolahan Tapai Singkong di Kabupaten Jember | |
| dc.type | Other |
