Show simple item record

dc.contributor.advisorBaroya, Ni’mal
dc.contributor.advisorRamani, Andrei
dc.contributor.authorAmalia, Sindi Eka Nur
dc.date.accessioned2020-05-12T00:54:53Z
dc.date.available2020-05-12T00:54:53Z
dc.date.issued2019-12-19
dc.identifier.nim152110101158
dc.identifier.urihttp://repository.unej.ac.id/handle/123456789/98904
dc.description.abstractKejadian BBLR di Indonesia mengalami penurunan dari tahun ketahun. Tahun 2013, kejadian BBLR sebesar 10,2% kemudian menurun menjadi 7% pada tahun 2017, selanjutnya pada tahun 2018 Indonesia mampu menurunkan angka kejadian BBLR menjadi 6,2%, meskipun demikian BBLR perlu untuk dikaji lebih lanjut karena BBLR merupakan masalah yang kompleks dan menimbulkan dampak jangka panjang dan fatal, seperti stunting dan kematian bayi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko kejadian BBLR di Indonesia. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini menggunakan data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017. Teknik analisis data menggunakan uji chi square dan logistic regression dengan α 0,05 (5%). Variabel yang diteliti terdiri dari jenis kelamin bayi, status kehamilan kembar, riwayat ANC (kualitas dan kuantitas), kepemilikan asuransi kesehatan, penggunaan alat kontrasepsi, status keinginan kehamilan, komplikasi, asupan tablet tambah darah (TTD), umur ibu, status pernikahan ibu, paritas, jarak kelahiran, wilayah (pedesaan atau perkotaan), wilayah administratif (provinsi), pendidikan, pekerjaan, status ekonomi, dan sanitasi perumahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari separuh bayi (51,5%) berjenis kelamin laki-laki dan mayoritas kehamilan tunggal (99,2%). Mayoritas ibu tidak mengalami komplikasi selama kehamilan (82,2%), menginginkan kehamilan anak terakhir (83,5%), dan memiliki kualitas ANC kurang baik (80,3%). Sebagian besar ibu tidak memiliki asuransi kesehatan (62,7%) dan memiliki kuantitas ANC lengkap (77,5%). Lebih dari separuh menggunakan alat kontrasepsi (53,9%) dan mengkonsumsi tablet tambah darah kurang lengkap (55,7%). Sebagian besar ibu melahirkan pada usia 20-35 tahun (77,1%) dan memiliki paritas 2-4 (62,5%) dengan jarak kelahiran anak terakhir dengan anak sebelumnya adalah ≥2 tahun (62,9%). Mayoritas ibu berstatus menikah (97,1%). Lebih dari separuh ibu bertempat tinggal di perkotaan (51,9%). Tamat SD/MI/sederajat (35,9%) adalah status pendidikan terakhir ibu dengan jumlah paling banyak. Hampir separuh ibu tidak bekerja (46,6%) dan status ekonomi keluarga berturut-urut dari yang jumlahnya terbanyak adalah sangat miskin, miskin, menengah, kaya, dan sangat kaya. Sebagian besar ibu bertempat tinggal pada sanitasi yang baik (79,9%). Kejadian BBLR sebesar 916 (7,1%) dan tersebar di seluruh provinsi Indonesia. Hasil ini diperoleh berdasarkan SDKI 2017 yang merupakan survei dengan desain sampel tertentu. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan kejadian BBLR adalah kehamilan kembar (OR 24,69 CI 16,48-36,98), kuantitas ANC (OR 1,67 CI 1,44-1,93), komplikasi (OR 1,87 CI 1,61-2,18), asupan TTD (OR 1.36 CI 1,19-1,57), umur ibu <20 tahun (OR 1,45 CI 1,12-1,87), status pernikahan tidak pernah bersatu atau menikah (OR 5,52 CI 1,94-15,71), paritas 1 (OR 1,26 CI 1,09-1,46) dan >4 (OR 1,36 CI 1,05-1,77), jarak kelahiran < 2 tahun (OR 1,33 CI 1,01-1,75) dan anak pertama (OR 1,38 CI 1,19-1,59), pendidikan ibu (tidak sekolah (OR 2,28 CI 1,51-3,44), tamat SD/MI/sederajat (OR 2,04 CI 1,52-2,72), tamat SMP/MTs/ sederajat (OR 1,89 CI 1,39-2,58), dan tamat SMA/SMK/sederajat (OR 1,46 CI 1,08-1,97)), pekerjaan ibu (pejabat pelaksana dan tata usaha (OR 0,54 CI 0,36-0,81), status ekonomi (sangat miskin (OR 1,90 CI 1,52-2,36) dan miskin (OR 1,36 CI 1,08-1,72)), dan sanitasi (OR 1,18 CI 1,01-1,39). Berdasarkan analisis multivariat, variabel yang menjadi faktor risiko kejadian BBLR adalah kehamilan kembar, komplikasi, status ekonomi , kuantitas ANC, jarak kelahiran, pendidikan ibu, kepemilikan asuransi, asupan TTD, sanitasi, status keinginan hamil, dan status pernikahan. Institusi kesehatan perlu melakukan kerja sama lintas sektor untuk menanggulangi BBLR. Kerja sama dengan Dinas Pendidikan untuk memberikan penyuluhan terkait kesehatan reproduksi kepada siswa. Kerja sama dengan Dinas Sosial untuk memberikan penyuluhan terkait kesehatan reproduksi kepada anak dan remaja dari keluarga miskin dan sangat miskin yang tidak bersekolah.en_US
dc.language.isoInden_US
dc.publisherFakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jemberen_US
dc.subjectBerat Bayi Lahir Rendahen_US
dc.titleFaktor Risiko Berat Bayi Lahir Rendah (Bblr) DI Indonesia (Analisis Lanjut Data Sdki 2017)en_US
dc.typeThesisen_US
dc.identifier.prodiKesehatan Masyarakat
dc.identifier.kodeprodi2110101


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record