Show simple item record

dc.contributor.advisorZulkarnain, Elfian
dc.contributor.advisorRirianty, Mury
dc.contributor.authorIrfa’iah, Wiska
dc.date.accessioned2017-08-10T03:50:22Z
dc.date.available2017-08-10T03:50:22Z
dc.date.issued2017-08-10
dc.identifier.nim122110101025
dc.identifier.urihttp://repository.unej.ac.id/handle/123456789/80977
dc.description.abstractMasa lanjut usia (lansia) merupakan tahap terakhir dari tahapan perkembangan manusia. Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) terjadi peningkatan UHH pada tahun 2011 adalah 69,65 tahun (dengan persentase populasi lansia adalah 7,58%). Meningkatnya populasi lansia ini membuat pemerintah perlu merumuskan kebijakan dan program yang ditujukan kepada kelompok penduduk lansia sehingga dapat berperan dalam pembangunan dan tidak menjadi beban bagi masyarakat. Didalam masyarakat, masa lansia sering diidentikkan dengan masa penurunan dan ketidakberdayaan, pada lanjut usia akan muncul berbagai masalah baik yang bersifat umum maupun khusus. Proses menua menyebabkan terjadinya gangguan kognitif yang jelas terlihat pada daya ingat dan kecerdasan. Lansia yang mengalami penurunan dalam semua fungsi di dirinya akan mengakibatkan tidak stabilnya konsep diri. Konsep diri adalah penilaian terhadap diri sendiri merupakan suatu konsep yang ada pada setiap manusia. Konsep diri berkembang dengan bertambahnya usia dan berhubungan dengan apa yang lansia rasakan dengan menjadi tua. Penduduk lanjut usia di Indonesia sebagian hidup bertempat tinggal bersama keluarga. Dukungan sosial dan perhatian dari keluarga sangat dibutuhkan lansia. Keluarga menawarkan solusi untuk mengurangi efek dari perubahan yang dialami oleh lansia. Tinggal bersama keluarga juga dianggap lebih membahagiakan lansia karena berada bersama keluarganya sehingga tidak akan merasa kesepian. Keluarga sering menghadapi keadaan yang tidak memungkinkan untuk merawat sendiri orang tua yang sudah lanjut usia. Banyak alasan yang dikemukakan bagi keluarga yang dengan sengaja menaruh orangtua di panti tresna werdha, alasan karena merasa sibuk, tidak cukup waktu untuk mengurus orangtua, adanya ketidaksesuaian antara orang tua dan anak, ketidakcocokan antara menantu dengan mertua sehingga membuat sang menantu menolak kehadiran orangtua pasangannya dalam kehidupan rumah tangga. Segala fasilitas, situasi, dan kegiatan yang terdapat di panti tresna werdha tidak sepenuhnya dapat diterima oleh semua lansia untuk menggantikan suasana rumah. Penempatan lansia di panti ini masih menimbulkan perdebatan di masyarakat karena ada sebagian masyarakat yang masih menganggap bahwa penitipan lansia di panti ini menyalahi tradisi dan nilai–nilai agama, dan bagi lansia sendiri antara lain merasakan harus berpisah dengan keluarga, kerabat, serta lingkungan sebelumnya dan harus beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Hal ini dapat menimbulkan rasa cemas, tidak berdaya, bahkan rasa malu sehingga dapat mempengaruhi konsep diri pada lansia. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan studi perbandingan. Populasi dalam penelitian ini adalah 50 lansia yang tinggal di panti tresna werdha dan 50 lansia yang tinggal bersama keluarga. Pengambilan sampel responden di panti tresna werdha dengan menggunakan simple random sampling sedangkan lansia yang bersama keluarga dengan menggunakan cluster sampling untuk menentukan wilayah setelah itu menggunakan simple random sampling dengan pengambilan data dilakukan menggunakan wawancara dengan kuisioner lima komponen konsep diri. Dalam penelitian ini analisis data yang digunakan adalah teknik analisis menggunakan uji statistik Chi square pada derajat kemaknaan 95% (α = 0.05). Berdasarkan penelitian responden lansia yang tinggal di panti tresna werdha mayoritas adalah perempuan berusia 65 tahun ke atas yang beragama islam, memiliki status janda (mati) yang kebanyakan tidak pernah bersekolah. Sedangkan responden lansia yang tinggal bersama keluarga mayoritas adalah perempuan berusia 65 tahun ke atas yang beragama islam dengan status masih menikah dan juga kebanyakan dari lansia tidak bersekolah. Berdasarkan hasil wawancara dengan kuesioner yang dilakukan kepada lansia yang tinggal di panti tresna werdha memiliki identitas diri positif, citra tubuh negatif, ideal diri negatif, harga diri negatif dan peran negatif sedangkan lansia yang tinggal bersama keluarga memiliki identitas diri positif, citra tubuh positif, ideal diri positif, harga diri negatif dan peran positif. Hasil dari lima komponen konsep diri disimpulkan bahwa lansia yang tinggal bersama keluarga memiliki konsep diri yang positif daripada lansia yang tinggal di panti tresna werdha. Saran yang dapat diberikan oleh peneliti bagi keluarga lansia sangat diharapkan dapat memberikan perhatian dan dukungan yang lebih optimal kepada lansia dengan juga dibantu oleh pihak panti yang dapat menyiapkan tenaga kesehatan untuk konseling ataupun pengasuh lansia lebih memperhatikan lansia dan mendengarkan berbagai keluhan lansia, berbagi perasaan sehingga dapat mengurangi beban fikiran lansia. Bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk melakukan penelitian terkait “Peran Komunikasi Antarpribadi Pengasuh Panti terhadap Perilaku Keseharian Lansia di Panti Sosial Tresna Werdha” secara kualitatif karena peran seorang pengasuh sangat penting untuk membantu para lansia dalam merubah perilaku kesehariannya menjadi lebih baik.en_US
dc.language.isoiden_US
dc.subjectLANSIAen_US
dc.subjectKONSEP DIRIen_US
dc.subjectTINGGAL BERSAMA KELUARGAen_US
dc.subjectTINGGAL DI PANTI TRESNA WERDHAen_US
dc.titleKONSEP DIRI LANSIA YANG TINGGAL DI PANTI TRESNA WERDHA DENGAN LANSIA YANG TINGGAL BERSAMA KELUARGA (Studi pada Lansia di Unit Pelaksana Teknis Pelayanan Sosial Tresna Werdha Jember dan Wilayah Kerja Puskesmas Kasiyan Kecamatan Puger Kabupaten Jember)en_US
dc.typeUndergraduat Thesisen_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record