Optimasi Pektin dan Hydroxypropyl Methyl Cellulose dalam Sediaan Fast Dissolving Sublingual Film Salbutamol Sulfat
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Farmasi
Abstract
Penyakit asma termasuk salah satu masalah kesehatan terbesar di seluruh
dunia, baik di negara maju maupun negara yang sedang berkembang. Salbutamol
sulfat merupakan pilihan utama antiasma yang termasuk Short Acting β-Agonis
(SABA) selektif pertama sebagai bronkodilator. Salbutamol sulfat memiliki onset
yang lambat dan bioavailabilitas rendah yaitu 40% (Sallam dkk., 2017).
Fast Dissolving Sublingual Film (FDSF) menjadi sistem penghantaran yang
tepat untuk obat asma karena memberikan pelepasan obat dan onset yang cepat,
serta meningkatkan bioavailabilitas sediaan. Sediaan ini juga lebih efektif serta
fleksibel bagi pasien yang susah menelan obat. Sistem penghantaran FDSF melalui
pembuluh darah secara sistemik tanpa melewati sistem pencernaan sehingga tidak
terjadi first pass metabolism. Dalam pembuatan FDSF memiliki komponen sangat
penting yaitu film forming atau bahan pembentuk film. Pada penelitian ini
menggunakan kombinasi polimer pektin dan HPMC. Dalam pembuatan oral film
kombinasi polimer hidrofilik menghasilkan pelepasan obat yang lebih cepat
dibandingkan kombinasi polimer lipofilik (Ermawati dan Prilanti, 2019). Penelitian
ini menggunakan metode desain faktorial untuk melihat formulasi optimum.
Metode ini menggunakan 2 level yaitu level tinggi (+1) dan level rendah (-1). Pada
level rendah pektin sebanyak 0,20 g dan HPMC 0,01 g. Pada level tinggi pektin
sebanyak 0,30 g dan HPMC 0,015 g. Penentuan level rendah dan level tinggi
bertujuan untuk menentukan komposisi pektin dan HPMC yang optimum dengan
menghasilkan respon waktu disintegrasi dan ketahanan lipat sesuai dengan yang
diinginkan.
Description
Entry oleh Arif 2026 April 08
