Show simple item record

dc.contributor.authorSubagio, Achmad
dc.date.accessioned2014-12-23T04:33:04Z
dc.date.available2014-12-23T04:33:04Z
dc.date.issued2010-06-02
dc.identifier.citationKebutuhan kedelai nasional yang terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk dan kesadaran masyarakat tentang manfaat kedelai bagi kesehatan menyebabkan swasembada kedelai menjadi sulit terjangkau. Pemerintah telah mengupayakan peningkatan produksi nasional dengan jalan ekstensifikasi berupa perluasan lahan, maupun intensifikasi sebagai usaha meningkatkan produktivitas lahan persatuan luas. Namun, usaha ini menghadapi kendala bahwa: kenyataannya kedelai adalah tanaman subtropis yang membutuhkan siang hari yang panjang, sehingga produktivitasnya menjadi rendah.en_US
dc.identifier.issn0852 - 0607
dc.identifier.urihttp://repository.unej.ac.id/handle/123456789/60756
dc.description.abstractKebutuhan kedelai nasional yang terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk dan kesadaran masyarakat tentang manfaat kedelai bagi kesehatan menyebabkan swasembada kedelai menjadi sulit terjangkau. Pemerintah telah mengupayakan peningkatan produksi nasional dengan jalan ekstensifikasi berupa perluasan lahan, maupun intensifikasi sebagai usaha meningkatkan produktivitas lahan persatuan luas. Namun, usaha ini menghadapi kendala bahwa: kenyataannya kedelai adalah tanaman subtropis yang membutuhkan siang hari yang panjang, sehingga produktivitasnya menjadi rendah. Strategi tambahan yang cukup bijak untuk mencapai swasembada adalah mengurangi kebutuhan nasional akan kedelai dengan jalan memberikan alternatif komoditi lain. Konsumen mempunyai pilihan untuk tidak menggunakan kedelai, ketika mengolah sebuah produk, karena ada komoditi lain yang dapat menggantikannya dengan nilai kompetitif lebih baik atau setara jika dibandingkan kedelai. Dengan demikian, tarikan kebutuhan kedelai nasional menjadi lebih longgar, yang akhirnya berujung pada semakin sempitnya jarak antara kebutuhan dengan produksi kedelai nasional. Dalam pendekatan diversifikasi horisontal ini, harus dipilih potensi local yang murah, berkesinambungan dan cocok ditanam di lahan yang belum termanfaatkan, agar tidak hanya sekedar proses shifting terhadap komoditi lain yang lebih penting. Salah satu komoditi yang mempunyai karakteristik tersebut adalah koro-koroan. Kandungan protein dari koro-koroan ini cukup tinggi (18 – 25%), menjadikan komoditi ini dapat digunakan sebagai bahan pangan sumber protein alternatif pengganti kedelai. Untuk menjamin keberhasilan dari program diversifikasi kedelai ini, maka pengembangan koro-koroan harus dilakukan secara komprehensif, meliputi: (i) penguasaan teknologi produksi, pasca panen dan pengolahan; dan (ii) rekayasa sosial untuk mendorong masyarakat mau menggunakan dan mengkonsumsi koro-koroan dan produknya, sehingga petani akan terdorong monanam dan investor mau berinvestasi pada bisnis di komoditi ini.en_US
dc.description.sponsorshipDivisi R & D Perum BULOGen_US
dc.language.isootheren_US
dc.publisherDivisi R & D Perum BULOGen_US
dc.relation.ispartofseriesPangan, Media Komunikasi dan Informasi;127 - 134
dc.subjectdiversifikasi horisantal, kedelai, koro-koroan, swasembadaen_US
dc.titleStrategi Pencapaian Swasembada Kedelai dengan Pengembangan Sumber Protein Nabati Alternatifen_US
dc.typeArticleen_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record