Show simple item record

dc.contributor.authorFitri Rahayuningsih
dc.date.accessioned2014-01-28T11:16:43Z
dc.date.available2014-01-28T11:16:43Z
dc.date.issued2014-01-28
dc.identifier.nimNIM030910302110
dc.identifier.urihttp://repository.unej.ac.id/handle/123456789/26459
dc.description.abstractSebagai manusia, waria juga memiliki keinginan untuk menikmati hidup sebagaimana layaknya masyarakat pada umumnya. Hal ini tak terlepas bahwa waria juga manusia biasa yang memiliki naluri sama dengan masyarakat ‘normal’. Adalah hal yang wajar apabila waria mengharapkan kehadiran anak untuk melengkapi kebahagiaan. Demikian pula waria yang berumah tangga juga menginginkan kehadiran anak. Karena pasangan waria tidak bisa menjalankan fungsi reproduksi, maka berbagai cara yang dilakukan untuk memperoleh anak. Misalnya dengan mengangkat anak dari keluarga, teman dan tetangga. Banyak polemik yang muncul di masyarakat dengan tindakan yang dilakukan oleh waria. Baik pernikahan yang dilakukannya serta tindakan mengangkat anak. Dimana masyarakat khawatir jika anak yang diasuh dan dirawat waria akan memiliki karakter diri yang tidak jauh berbeda dengan orang tuanya. Oleh karena adanya berbagai polemik yang muncul akibat dari perkawinan serta mengangkat anak yang dilakukan oleh waria, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai hal tersebut. Ada berbagai pertanyaan yang ingin coba digali jawabannya oleh peneliti yaitu mengenai makna anak bagi waria. Kemudian jika waria memiliki anak, bagaimana cara waria sebagai orang tua mendidik anak mereka, padahal menurut pandangan masyarakat mereka termasuk pribadi menyimpang. Bagaimana proses sosialisasi antara orang tua sejenis tersebut terhadap anaknya tentang nilai dan norma yang terdapat di masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan mengambil lokasi penelitian tiga wilayah yaitu Kabupaten Banyuwangi, Nganjuk dan Jember dengan menggunakan metode purposive. Cara penentuan informan dengan menggunakan metode snowball sampling. Pengumpulan data penelitian melalui observasi, serta wawancara mendalam. Pemeriksaan keabsahan data dengan menggunakan member check, yaitu peneliti melakukan cek interpretasi data dengan subjek penelitian dan informan dari mana data itu diperoleh. Menurut waria, anak memiliki makna sosial, makna ekonomi, dan psikologi. Pertama, makna sosial yaitu anak merupakan lambang kebanggaan orang tua dan dengan mempunyai anak dapat membuat diri waria menjadi lebih bertanggungjawab. Kedua, makna ekonomi adalah membuat waria semangat dalam bekerja, serta mengharapkan anak dapat merawat dan menjaga orang tua (waria) kalau sudah tua dan tidak mampu lagi untuk bekerja. Ketiga, makna psikologis adalah pemenuhan kebutuhan batin. Kehadiran anak juga menambah keeratan hubungannya dengan pasangan. Adapun nilai psikologis anak dapat diartikan sebagai pandangan mereka terhadap keberadaan anaknya dalam hubungannya dengan aspek kejiwaan atau emosional mereka. Dalam mensosialisasikan nilai sosial pada anak, waria belajar dari pengalaman sendiri. Waria selalu memperhatikan serta mengarahkan anak dalam bermain. Dalam mengenalkan nilai-nilai yang ada di masyarakat, waria mengenalkan nilai-nilai pada anak ketika anak sejak kecil. Anak dididik untuk tidak memiliki sifat sombong, suka mengganggu teman, dididik untuk suka menolong, dan bersikap sopan pada setiap orang khususnya yang berusia lebih tua. Dalam pengenalan identitas diri anak pada anak, misalnya pengenalan terhadap jenis kelamin anak kepada anak, waria mengenalkannya sejak anak masih berusia 2-3 tahun. Namun, ada waria yang tidak menjelaskan jenis kelamin anak kepada anak, dengan alasan kelak anak akan tahu dengan sendirinya baik dari lingkungan bermain maupun dari sekolah. Begitu pula terhadap penjelasan akan jati diri orang tua yang sebenarnya, dilakukan ketika anak sudah masuk usia sekolah. Ada berbagai macam respon dari anak, ada yang terkejut dan ada yang merasa bangga dengan keadaan orang tuanya. Penerimaan anak terhadap keadaan orang tua juga tidak lepas dari peran anggota keluarga lainnya. Waria dalam mensosialisasikan nilai sosial pada anak tidak ada perbedaan dengan orang tua normal. Serta anak yang dibesarkan oleh waria juga tidak perbedaan dengan anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua normal. Namun, tidak menutup kemungkinan ada perbedaan dalam diri antara anak yang memiliki orang tua “waria” dengan anak yang memiliki orang tua normal. Anak yang memiliki orang tua “waria” mampu terbentuk sebagai diri yang introvet (tertutup) akibat dari rasa ketidakterimaan diri anak terhadap keberadaan orang tuanya yang tidak sama dengan orang tua pada umumnya. Rasa malu dari ejekan teman-teman sebayanya akan membuat anak menjadi anak yang pendiam dan menutup diri dalam pergaulan.en_US
dc.language.isootheren_US
dc.relation.ispartofseries030910302110;
dc.subjectANAK ANGKAT, WARIAen_US
dc.titleANAK ANGKAT BAGI WARIA (Studi Deskriptif Pada Komunitas Waria di Kabupaten Banyuwangi, Nganjuk dan Jember)en_US
dc.typeOtheren_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record