Adaptasi Budaya Arab di Kampung Arab Airmata Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur

Abstract

Penelitian ini melatarbelakangi keberadaan komunitas minoritas muslim keturunan Arab Saudi yang menetap di Kampung Arab Airmata, Kota Kupang. Di tengah realitas masyarakat Kupang yang mayoritas beragama Kristen, kelompok diaspora ini menghadapi tantangan untuk mempertahankan eksistensi kulturalnya sekaligus beradaptasi dengan lingkungan lokal dominan. Penelitian ini berfokus menganalisis bagaimana proses adaptasi budaya Arab terbentuk, dinegosiasikan, dan dipertahankan melalui instrumen ruang domestik serta ruang publik. Untuk membedah fenomena tersebut, penelitian ini mengandalkan konseptualisasi Identitas Budaya dan Teori Adaptasi Budaya dengan pendekatan kualitatif-etnografi. Pemilihan informan dilakukan secara purposive sampling yang mencakup warga peranakan Arab dan tokoh masyarakat setempat. Pengumpulan data dilaksanakan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan dokumentasi, yang kemudian diuji keabsahannya menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adaptasi komunitas Arab di Kampung Airmata telah mencapai fase penyesuaian matang dan berhasil memproduksi identitas sosiologis hibrida baru, yaitu "Arab-Kupang". Di ruang domestik keluarga, dapur berfungsi sebagai laboratorium sosial tempat terjadinya asimilasi rasa. Komunitas ini memanfaatkan komoditas lokal seperti petis Kupang, gula lempeng, dan asam ke dalam olahan masakan Arab. Pembauran paling kuat terlihat pada penerimaan daging se'i sebagai "identitas rumah" serta penggunaan gula lempeng sebagai pemanis wajib dalam tradisi menyeduh kopi rempah khas Timur Tengah. Adaptasi budaya ini juga terwujud secara simultan dalam ranah formal dan non-formal. Pada ranah formal seremonial, identitas ke-Araban dipertahankan secara tegas melalui busana resmi, arsitektur Masjid Baitul Qadim, serta penyajian menu murni pada prasmanan resmi. Sebaliknya, pada ranah non-formal, kelenturan sosial mengemuka lewat penggunaan bahasa Melayu Kupang harian yang menyisakan kata serapan kekerabatan, serta pelunakan tradisi salaman tempel hidung menjadi jabat tangan biasa saat berinteraksi dengan warga non-Arab. Di ruang publik dan ritus lingkaran hidup, komunitas Arab melebur dalam birokrasi lokal dan pasar tradisional tanpa sekat eksklusivitas. Acara hajatan diselenggarakan secara inklusif dengan mengundang warga lintas agama, menyandingkan musik gambus dengan lagu daerah NTT, serta menyajikan sambal lu'at bersama nasi kebuli sebagai bentuk gastrodiplomasi akar rumput. Penelitian ini menyimpulkan bahwa komunitas Arab Airmata berhasil mengintegrasikan nilai esensial Hadramaut dengan kearifan lokal Nusa Tenggara Timur secara damai. Hal ini membuktikan bahwa identitas budaya bersifat dinamis dan dapat dinegosiasikan melalui piring makanan serta keterbukaan ruang sosial. Peneliti merekomendasikan agar masyarakat merawat tradisi hibrida ini, pemerintah daerah menetapkannya sebagai warisan budaya lokal, serta akademisi dapat memperluas riset pada pergeseran sistem kekerabatan patrilineal akibat pernikahan silang.

Description

Validasi dan Finalisasi Repositori File 05 Agustus 2026_Kholif Basri

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By