Gambaran Gangguan Tidur pada Anak Terdampak Pasca Bencana Erupsi Gunung Semeru di Lumajang
Abstract
Bencana memiliki dampak yang besar terutama pada kelompok yang rentan
yaitu anak-anak. Hal ini dikarenakan anak dengan nyata melihat, mengalami, dan
merasakan dampak yang ditimbulkan karena faktor usia yang masih belum matang
secara pertumbuhan dan emosional dari anak. Salah satu hal yang dapat teejadi pada
anak pasca bencana yaitu masalah gangguan tidur. Tidur merupakan salah satu
kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi untuk mempertahankan
kelangsungan hidupnya. Pola tidur buruk menjadi faktor yang berperan dalam
perkembangan mental emosional pada anak. Pola tidur dengan kualitas dan durasi
yang baik dapat menjaga kesehatan mental emosional pada anak. Gangguan tidur
seperti berkurangnya durasi tidur dapat memacu kesulitan emosional sehingga dapat
meningkatkan kondisi stress serta kecemasan akibat trauma. Anak dengan gangguan
pada tidurnya dapat mempengaruhi pada penilaian akademik yang buruk, kondisi
perasaan yang rendah dan akan berlanjut pada problem karakter dan
kepribadiannya.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran gangguan tidur
pada anak terdampak pasca bencana erupsi Gunung Semeru di Lumajang. Penelitian
ini menggunakan metode penelitian statistik deskriptif dengan pendekatan cross –
sectional dan teknik yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan Purposive
Sampling dengan sampel yang diambil berjumlah 108 responden anak usia sekolah.
Pengambilan data pada penelitian ini menggunakan Kuesioner Sleep Disturbancde
Scale For Childer. Analisa data pada penelitian ini adalah analisis univariat.
Hasil penelitian karakteristik responden menunjukkan usia anak sekolah
dengan gangguan tidur terbanyak pada usia 11 tahun dengan jumlah (9.3%), jenis
kelamin yang mendominasi mengalami gangguan tidur yaitu laki – laki sebanyak
(26.9%). Usia orang tua responden rata – rata lebih banyak pada usia dewasa awal
sebanyak (40.7%) dan pendidikan orang tua responden mayoritas tingkat SD
sejumlah (77.8%). Sebanyak (92.6%) anak di Huntara tidak menggunakan media
pra tidur. Hasil SDSC menunjukkan (40.7%) anak terdampak pasca bencana di
Huntara mengalami gangguan tidur sebanyak (16.7%) mengalami jenis gangguan
tidur transisi tidur bangun, (15.7%) mengalami jenis gangguan tidur kesadaran dan
(14.8%) mengalami jenis gangguan tidur memulai dan mempertahankan.
Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah Gambaran Gangguan Tidur pada
Anak Terdampak Pasca Bencana Erupsi Gunung Semeru di Lumajang sebanyak 44
anak dari 108 responden terjadi gangguan pada tidurnya. Pemberian edukasi dan
care giver pada anak dan orang tua responden perlu terus diperhatikan serta
ditingkatkan, sehingga pada saat anak mengalami gangguan tidur orang tua sudah
tidak khawatir dan acuh dikarenakan orang tua sudah paham dan mengerti harus
bagaimana dan berkonsultasi pada siapa mengenai hal tersebut, sehingga gangguan
tidur pada anak dapat diatasi dengan segera.
Collections
- UT-Faculty of Nursing [1570]