Show simple item record

dc.contributor.authorROMADHON, Wahyu
dc.date.accessioned2023-05-23T07:08:02Z
dc.date.available2023-05-23T07:08:02Z
dc.date.issued2022-12-13
dc.identifier.nim181510901007en_US
dc.identifier.urihttps://repository.unej.ac.id/xmlui/handle/123456789/116393
dc.description.abstractIdentifikasi Petani dalam Berusahatani Buah Naga Bersertifikat di Desa Jambewangi Kecamatan Sempu Kabupaten Banyuwangi; Wahyu Romadhon, 181510901007; Halaman; Program Studi Penyuluhan Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Jember. Kabupaten Banyuwangi merupakan sentra terbesar penghasil buah naga di Provinsi Jawa Timur. Buah naga merupakan salah satu komoditas yang dapat menunjang perekonomian masyarakat dan menunjang kebutuhan gizi. Gizi buah naga yang terjamin didapatkan dari budidaya buah naga bersertifikat. Budidaya buah naga bersertifikat merupakan suatu syarat untuk dapat memasarkan buah naga secara global. Pemasaran buah naga diekspor ke berbagai negara diantaranya China, Malaysia, Hongkong, Czech republic, Kuwait, Italy, Saudi arabia, United arab emirates, France, Bahrain, Qatar, Russian federation (Karantiana Peranian, 2022). Identifikasi petani dalam berusahatani buah naga bersertifikat pada kelompok tani Pucangsari di Desa Jambewangi Kecamatan Sempu ini menarik untuk diteliti karena berdasarkan pemasaran yang luas baik secara dalam negeri maupun luar negeri, harga yang mahal dalam penjualan dan teknologi yang mumpuni dapat mendongkrak perekonomian masyarakat Desa Jambewangi khususnya petani buah naga bersertifikat. Berdasarkan hal tersebut peneliti akan meneliti tentang: 1) identifikasi faktor sosial ekonomi usahatani buah naga bersertifikat di Desa Jambewangi Kecamatan Sempu Kabupaten Banyuwangi, 2) faktor pendorong dan penghambat usahatani buah naga bersertifikat di Desa Jambewangi Kecamatan Sempu Kabupaten Banyuwangi. Penelitian dilakukan di Desa Jambewangi dengan pertimbangan Desa Jambewangi merupakan satu-satunya desa yang mampu menghasilkan buah naga bersertifikat di Kabupaten Banyuwangi dengan kualitas sesuai SOP yang diberikan dari LeSOS daerah Mojokerto dengan cara penerapan sistem pertanian GAP (Good Agriculture Practices) dengan kata lain penerapan sistem budidaya buah naga pada taham pembudidayaan yang dikelolah secara organik. Penelitian ini menggunkan metode kualitatif. Metode yang digunakan dalam penentuan informan dalam DIGITAL REPOSITORY UNIVERSITAS JEMBER DIGITAL REPOSITORY UNIVERSITAS JEMBER viii penelitian ini menggunakan purposive sampling atau informan yang digunakan dalam penelitian ini informan kunci yakni ketua kelompok tani Pucangsari dan penentuan secara snowball sampling atau informan pendukung yang digunakan dalam penelitian ini informan pendukung yakni anggota kelompok tani Pucangsari yang di dapat berdasarkan arahan informan kunci atau ketua kelompok tani Pucangsari. Metode pengumpulan data menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis menggunakan metode Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat faktor internal dan eksternal sosial ekonomi. Faktor internal meliputi: 1) pendidikan formal yang notabennya petani buah naga bersertifikat pada tingkat yang rendah menjadikan petani lebih memilih menjadi petani dibandingkan dengan melamar pekerjaan yang lebih tinggi dalam memenuhi kebutuhan karena lebih menjanjikan petani, pendidikan non formal petani bermanfaat dalam menambah skill petani dimana artian petani dapat menguasai bidang secara ahli, keahlian tersebutlah yang digunakandalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari, 2) umur menyatakan bahwasanya petani semakin berumur, maka semkin bayak pekerjaan yang dilakukan yang menandakan kebutuhan petani semakin banyak untuk keluarga 3) lahan usahatani dengan keterangan status kemelikian lahan, jika milik sendiri maka petani akan lebih berfikir bahwasanya lahan tersebut bisa di olah secara bebas sesuai keinginan petani tanpa memikirkan batas waktu penanaman dan komoditas apa yang ingin ditanam, luas lahan yang notabennya petani memiliki luas lahan yang dalam kategori sempit, maka petani akan lebih berfikir cara mengembangkan secara maksimal lahan tersebut denga keuntungan yang setinggi mungkin 4) lama berusahatani yang menandakan petani pernah berusahatani kategori tahunan yang sudah sering melihat potensi terhadap tanaman, maka petani akan lebih memilih suatu tanaman yang dapat menghasilkan keuntungan tinggi. Faktor eksternal meliputi: 1) bantuan pemerintah dalam bentuk fisik (pupuk organik cair, kultivator, pemangkas, keranjang, traktor, kultifatur, hand sprayer dan cool-storage) dan non fisik (pelatihan pembuatan pupuk organik padat dan pestisida nabati, sekolah lapang GAP (Good Agriculture Practices), sekolah lapang GHP (Good Handling DIGITAL REPOSITORY UNIVERSITAS JEMBER DIGITAL REPOSITORY UNIVERSITAS JEMBER ix Practices) dan perkenalan ke market daerah luar lewat bazar, pembuatan saluran irigas yang menjadikan petani lebih siap pada peralatan dan juga penguasaan skil yang menjadikan petani lebih terdorong dalam melakukan kegiatan usahatani dan ciri-ciri petani biasanya ingin ikut karena ada sesuatu yang ingin dicapai atau didapatkan yakni bisa berasal dari bantuan pemerintah, 2) penyuluhan yang memberikan edukasi, pelatihan serta pendampingan bagi petani buah naga organik meliputi materi budidaya, pembuatan pupuk, pembuatan pestisida nabati, pascapanen dan pemasaran hal tersebut didasarkan juga pada sejatinya petani butuh akan adanya penyuluh karena penyuluh merupakan jembatan antara pemerintah dengan petani baik berupa inovasi baru, penanggulan masalah dan juga bantuan dalam berbagai hal baik secara barang ataupun non barang. Faktor pendorong petani dalam usahatani buah naga bersertifikat meliputi: 1) biaya produksi minimal pada usahatani buah naga bersertifikat dalam artian jika petani akan lebih memilih penggunaan bahan organik dalam kegiatan produksi ketimbang yang instan yang notabennya mahal seperti sekarang ini, 2) kualitas produk akan dijaga karena harapannya dengan kualitas yang bagus konsumen akan membeli lagi buah naga yang dihasilkan atau produk yang dihasilkan akan dicari karena jaminan mutu yang jelas pada buaha naga bersertifikat, 3) kuantitas dengan keterangan jumlah pemetikan yang sama tapi beda harga yakni lebih mahal yang organik maka petani akan lebih memilih usahatani buaha naga bersertifikat, 4) harga buah naga bersertifikat yang dijual lebih mahal dibandingkan buah naga konvensional yang menandkan petani mampu menghasilkan buah yang memiliki mutu yang tinggi dengan target pemasaran adalah orang yang berorientasikan pada kesehatan dan jaminan mutu yang berkualitas pada kalangan masyarakat, 5) peluang pasar yang terbuka lebar pada pemasaran buah naga bersertifikat sehingga petani lebih menyukai usahatani buah naga bersertifiat tersebut dengan keterangan untuk skala lokal pemasaran lokal buah naga bersertifikat ini sendiri yakni di Surabaya dan Malang dan Penjualan skala ekspor bisa dipasarkan pada negara Timur Tengah, negara Eropa dan negara China, 6) teknologi yang menjadikan petani lebih berfikir bahwasanya jika dengan penggunaan teknologi akan mampu mendongkrak perkembangan usahatani dengan pertimbangan pada estimasi input DIGITAL REPOSITORY UNIVERSITAS JEMBER DIGITAL REPOSITORY UNIVERSITAS JEMBER x serta output yang bisa dihasilkan, 7) pendapatan petani budidaya buah naga organik mampu menghasilkan pendapatan 100 juta lebih pertahun artinya bahwasanya bukan merupakan pendapatan yang minim, sehingga orang berfikir jika berusahatani buah naga dapat untuk menutupi kebutuhan bahkan bisa lebih dari luar kebutuhan. Faktor Penghambat budidaya buah naga yakni 1) Sulitnya pembuatan sertifikasi kebun pada budidaya buah naga bersertifikat yang membuat menurunnya semangat petani dalam berbudidaya buah naga bersertifikat, 2) sulitnya ditangani masalah penyakit terhadap tanaman yang dibudidayakan secara organik akan sangat berbeda halnya dengan petani konvensional yang notabennya banyak menggunakan bahan kimia dalam pengendalaian yang tingkat keefektifitasannya bisa dirasakan secara langsung atau berefek secara langsung pada tanaman sehingga membuata petani kesulitan menangani penyakit jika menggunakan bahan oganik yang notabennya lama dalam merespon pada tanaman sehingga petani merasa kesulitan, 3) produk yang bisa dihasilkan petani sulit sesuai dengan grade yang dibutuhkan oleh pasar sehingga petani merasa bahwasanya pemasaran buah naga bersertifikat ini harus benar-benar sesuai kualitas standart yang harus dihasilkan.en_US
dc.description.sponsorshipDra. Sofia, M.Hum.en_US
dc.publisherFakultas Pertanianen_US
dc.subjectBuah Naga Organiken_US
dc.subjectUsahatanien_US
dc.subjectBuah Naga Bersertifikaten_US
dc.titleIdentifikasi Petani dalam Berusahatani Buah Naga Bersertifikat di Desa Jambewangi Kecamatan Sempu Kabupaten Banyuwangien_US
dc.typeSkripsien_US
dc.identifier.prodiPenyuluhan Pertanbianen_US
dc.identifier.pembimbing1Dra. Sofia, M.Hum.en_US
dc.identifier.finalizationFinalisasi tanggal 23 Mei 2023_M.Arif Tarchimansyahen_US


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record