Show simple item record

dc.contributor.authorRika Adistyana
dc.date.accessioned2013-12-04T03:42:59Z
dc.date.available2013-12-04T03:42:59Z
dc.date.issued2013-12-04
dc.identifier.nimNIM082010101046
dc.identifier.urihttp://repository.unej.ac.id/handle/123456789/3573
dc.description.abstractDiethyltoluamide (DEET) merupakan bahan aktif yang paling banyak dan sering digunakan untuk repellent di Indonesia. Repellent dikenal sebagai salah satu jenis pestisida rumah tangga yang digunakan untuk melindungi tubuh (kulit) dari gigitan nyamuk. Produk repellent banyak digunakan di Indonesia karena Indonesia merupakan Negara tropis dengan curah hujan yang tinggi, sehingga banyak penyakit yang disebabkan oleh nyamuk (Goldfrank, 2002). Tertelan DEET menyebabkan gangguan pada saluran pencernaan seperti mual, muntah, rasa terbakar pada mulut dan kerongkongan. Sistem pencernaan adalah salah satu dari jaringan tubuh yang rentan terhadap keracunan. Salah satu saluran pencernaan yang mengalami gangguan setelah paparan DEET adalah esofagus. Jika zat aktif DEET melewati esofagus, maka dapat merusak mukosanya (Lipscomb et al., 2001). Kerusakan pada esofagus berupa gambaran esofagitis korosif dimana terjadi peradangan di daerah esofagus yang disebabkan oleh luka bakar karena tertelannya zat kimia yang bersifat korosif misalnya DEET (Soepardi, 2003). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efek paparan DEET terhadap gambaran mikroskopis esofagitis korosif pada mencit dan untuk mengetahui macam-macam perubahan mikroskopis esofagitis korosif akibat paparan DEET pada mencit. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratoris, dilaksanakan di Laboratorium Patologi Anatomi Universitas Jember pada bulan Februari 2012. Bahan yang digunakan adalah DEET dalam repellent antinyamuk. Hewan coba yang digunakan adalah 30 ekor mencit jantan yang sudah dibagi dalam 5 kelompok yaitu 1 kelompok K atau kontrol dan 4 kelompok P atau perlakuan yaitu P1, P2, P3, dan P4 yang diberikan per oral melalui sonde lambung dengan volume yang berbeda yaitu 200µL, 400µL, 600 µL, dan 800 µL DEET. Ditunggu selama 8 jam lalu dimasukkan kedalam botol yang berisi eter sampai mati. Langkah selanjutnya pembedahan mencit dengan mengambil organ esofagus dan dibuat preparat histopatologi kemudian diamati dengan menggunakan mikroskop cahaya Olympus (CX31) dengan pembesaran 400x dan diklasifikasikan sesuai dengan derajat caustic of oesophageal injury. Data hasil penelitian kemudian dianalisis dengan analisis Chi-Square. Pengamatan mikroskopis esofagus mencit pada kelompok K didapatkan hasil 6 ekor mencit memperlihatkan gambaran jaringan esofagus yang normal. Kelompok P1 didapatkan hasil 2 ekor mencit normal (derajat 0) dan 4 ekor mencit mengalami esofagitis korosif (derajat 1). Kelompok P2 didapatkan hasil 2 ekor mencit normal (derajat 0), 2 ekor mencit mengalami esofagitis korosif (derajat 1) dan 2 ekor mencit mengalami esofagitis korosif (derajat 2). Kelompok P3 didapatkan hasil yaitu 4 ekor mencit mengalami esofagitis korosif (derajat 1) dan 2 ekor mencit mengalami esofagitis korosif (derajat 2). Kelompok P4 didapatkan hasil 3 ekor mencit mengalami esofagitis korosif (derajat 1) dan 3 ekor mencit mengalami esofagitis korosif (derajat 2). Hasil analisis data dengan menggunakan Chi-Square menunjukkan X 2 hitung > X 2 tabel 21,451 > 15,507 dan Sig. X viii 2 hitung < yaitu 0,006 < 0,05 (p < 0,05) jadi dapat disimpulkan bahwa ada efek paparan DEET terhadap gambaran esofagitis korosif pada mencit. Gambaran esofagitis korosif yang ditimbulkan dapat diamati secara mikroskopis yaitu edema epitel mukosa dan kerusakan mukosa berupa erosi epitel.en_US
dc.language.isootheren_US
dc.relation.ispartofseries082010101046;
dc.subjectMIKROSKOPIS ESOFAGITIS KOROSIF , MENCIT (Mus musculus)en_US
dc.titleEFEK PAPARAN DEET (Diethyltholuamide) TERHADAP GAMBARAN MIKROSKOPIS ESOFAGITIS KOROSIF PADA MENCIT (Mus musculus)en_US
dc.typeOtheren_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record