Female Agency in G. B. Shaw's Man and Superman

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Ilmu Budaya

Abstract

Penelitian ini membahas tentang strategi agensi perempuan yang dilakukan oleh tokoh Ann Whitefield dalam drama Man and Superman karya George Bernard Shaw. Tujuan dari skripsi ini adalah mengetahui pentingnya kajian gender dalam memahami isu agensi perempuan pada karya sastra, terutama pada strategi tokoh perempuan dalam menghadapi norma-norma sosial yang restriktif di era Victoria. Penelitian ini menggunakan pendekatan teori representasi oleh Stuart Hall dan teori kendali sosial oleh Travis Hirschi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dan menggunakan analisis teks dalam mengkaji konten drama. Ann adalah sosok tokoh utama perempuan yang secara cerdik memanfaatkan norma-norma sosial Victoria untuk mencapai tujuannya, termasuk menggunakan kepatuhan berbakti kepada orang tua sebagai senjata, memanipulasi ingatan masa kecil untuk meluluhkan perlawanan Tanner, dan mengisolasi Tanner dari perempuan lain melalui pemerasan sosial dan penipuan berlapis. Penelitian ini berfokus pada strategi agensi yang dilakukan Ann dan bagaimana ia mencapai tujuannya tanpa pernah terlihat menantang sistem secara terbuka. Penelitian ini juga akan membahas tentang pandangan Shaw terhadap agensi perempuan yang merupakan negosiasi antara kritik sosial progresif dan filosofi evolusionernya, khususnya melalui konsep Life Force.

Description

Penelitian ini mengkaji strategi Ann Whitefield dalam drama Man and Superman karya George Bernard Shaw untuk menavigasi dan memanipulasi kendala masyarakat era Victoria. Ann mengatur takdirnya bukan melalui pemberontakan terbuka, melainkan dengan menguasai pementasan feminitas Victoria. Melalui manipulasi strategis sosial sebagai senjata, ia meruntuhkan otoritas patriarkal dari dalam, menunjukkan bahwa kekuatan sejati terletak pada penggunaan tampilan norma sebagai senjata. Taktik utama Ann melibatkan manipulasi terhadap laki-laki secara individual. Ia menggunakan kesan ketidakberdayaan perempuan dan kewajiban berbakti kepada orang tua untuk mengendalikan Octavius Robinson. Octavius adalah tokoh pria yang mencintai Ann, namun Ann tidak menginginkannya dan lebih memilih John Tanner. Dengan berbohong bahwa orang tuanya menghendakinya untuk menikahi Tanner, ia membingkai penolakannya terhadap Octavius sebagai pengorbanan diri, bukan pilihan pribadi, sehingga berhasil menyingkirkan pelamar tersebut tanpa terlihat egois. Ia konsisten menggunakan citra anak perempuan yang berkorban sebagai perisai retoris. Pertunjukan kepatuhan ini terbukti efektif karena Octavius akhirnya mengundurkan diri. Analisis hubungan tidak harmonis Ann dengan ibunya, Mrs. Whitefield, mengungkap keruntuhan otoritas keluarga. Taktik manipulatif Ann dan respons tak berdaya ibunya mendramatisasi runtuhnya kontrol sosial tradisional. Taktik Ann memalsukan keinginan orang tua, ketidakpeduliannya pada perasaan ibu, dan keluhan Mrs. Whitefield bahwa Ann tidak baik kepadanya menegaskan ketiadaan keterikatan Ann pada ibunya. Teori Kontrol Sosial Travis Hirschi menjelaskan dinamika ini. Hirschi mengidentifikasi empat ikatan sosial: keterikatan, komitmen, keterlibatan, dan keyakinan. Dalam kasus Ann, tiga ikatan telah gagal atau disubversi, memungkinkan perilaku manipulatifnya berkembang tanpa kendali. Ann tidak peduli apa yang ibunya inginkan, tidak takut kehilangan persetujuannya, dan tidak percaya pada kerangka moral yang dijunjungnya. Kebebasan Ann bermanuver adalah konsekuensi sosiologis dari ikatan yang tidak harmonis ini. Isolasi sistematis Ann terhadap Tanner untuk menjauhkannya dari wanita-wanita lain ditunjukkan melalui dua insiden. Rachel, wanita yang diam-diam dikencani Tanner di masa lalu, disingkirkan melalui pemerasan sosial. Ann mengancam membongkar pertemuan rahasia mereka, mengetahui bahwa pengungkapan itu akan membawa aib bagi Rachel. Rachel memilih mengakhiri hubungannya. Insiden kedua melibatkan Rhoda Whitefield, adik Ann. Ketika Tanner ingin bertemu Rhoda, Ann menghalanginya melalui penipuan berlapis; mengklaim Rhoda sakit, kemudian mengklaim ibunya menyuruhnya berbohong, dan akhirnya meracuni pikiran Rhoda terhadap Tanner. Hasilnya, Rhoda dan Tanner tidak bisa bertemu. Insiden ini menunjukkan ambisi Ann bukan sekadar meraih Tanner sebagai suami, melainkan mengendalikan seluruh dunia sosialnya. Taktik pribadi Ann selanjutnya mengungkap kedalaman kendali strategisnya. Ia memanfaatkan kenangan masa kecil untuk membuat Tanner gelisah. Dalam satu adegan, saat mereka berdua sedang sendirian, Ann sengaja menggoda Tanner dengan menaruh kadua lengannya di atas pundak Tanner. Hal yang dilakukan Ann bukan semata untuk menggoda, melainkan sebagai pembuktian yang memaksa Tanner menghadapi ketimpangan reputasi mereka. Tanner menyadari bahwa jika ia menceritakan kejadian ini kepada orang-orang, tidak seorang pun akan mempercayainya, sementara jika Ann memutarbalikkan fakta dan menuduhnya, semua orang akan mempercayai Ann. Citra gadis polos yang dibangun Ann membuat perkataannya tak terbantahkan, sementara reputasi revolusioner Tanner membuat perkataannya tak bernilai. Ann telah mencapai kekebalan reputasional dan dapat bertindak dengan bebas dari hukuman. Perspektif Shaw terhadap agensi Ann muncul sebagai negosiasi antara kritik sosial progresif dan filsafat evolusionernya. Ia mendukung kecerdasan strategis Ann dan penolakannya menjadi korban pasif, namun menempatkan agensinya dalam tujuan lebih besar dari filosofi Life Force, dorongan alam yang menggunakan manusia sebagai instrumen. Ann bukan sekadar perempuan cerdas, ia adalah instrumen Life Force. Kesuksesannya diraih melalui kecerdasan dan komitmen pada kepentingannya sendiri, yang melayani tujuan alam, yaitu kelanjutan dan evolusi. Pada akhirnya, Ann membuktikan bahwa membengkokkan norma sosial adalah strategi penting untuk meraih agensi dalam masyarakat era Victoria yang patriarkal dan restriktif. Ann menunjukkan bahwa perempuan yang memahami aturan permainan dan bersedia membengkokkannya secara strategis dapat mencapai tujuan tanpa membongkar tatanan sosial. Kesuksesannya adalah negosiasi dengan norma sosial tersebut, bukan penolakan. Melalui Ann, Shaw menyajikan visi agensi perempuan yang pragmatis, strategis, dan penuh kemenangan, mengungkapkan bahwa tantangan paling efektif terhadap otoritas patriarkal bukanlah pemberontakan terbuka, melainkan pembengkokkan norma sosial terselubung yang cerdas.

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By