Show simple item record

dc.contributor.advisorMarchianti, Ancah Caesarina Novi
dc.contributor.advisorFATMAWATI, Heni
dc.contributor.authorMAULANA, MIzan
dc.date.accessioned2020-07-22T06:29:51Z
dc.date.available2020-07-22T06:29:51Z
dc.date.issued2019-02-27
dc.identifier.nimNIM 152010101115
dc.identifier.urihttp://repository.unej.ac.id/handle/123456789/99894
dc.description.abstractDiabetes mellitus (DM) merupakan sebuah penyakit kronis yang ditandai dengan tingginya kadar gula dalam darah. Penyebabnya dapat berupa berkurangnya sekresi insulin, berkurangnya sensitivitas sel terhadap insulin dan bertambahnya produksi dari glukosa tubuh. Luka diabetik merupakan salah satu komplikasi kronis dari DM. Penyembuhan luka pada penderita DM akan memerlukan waktu yang lebih panjang jika dibandingkan dengan luka pada penderita non-DM. Hal tersebut disebabkan oleh hiperglikemia berkepanjangan yang dapat mengakibatkan penurunan angiogenesis, migrasi fibroblast dan produksi fibroblast yang terjadi bersama-sama dengan gangguan pembuluh darah dan gangguan saraf perifer serta risiko infeksi yang meningkat. Salah satu tanaman obat lokal Indonesia yang ditemukan di Taman Nasional Meru Betiri dan berpotensi sebagai anti diabetes juga sebagai penyembuh luka ialah Bidara Upas (Merremia mammosa Lour). Di dalam tanaman tersebut terkandung senyawa glikosida resin berupa merremosida yang berperan sebagai antibakteri dan anti inflamasi, juga flavonoid sebagai antibakteri, anti inflamasi, dan antioksidan yang diperlukan dalam perawatan luka penderita DM. Kondisi DM mempengaruhi seluruh fase penyembuhan luka dari fase inflamasi, proliferatif, remodeling. Umbi bidara upas diharapkan mampu memperbaiki kondisi luka diabetes pada fase inflamasi dan proliferatif. Gel fraksi umbi bidara upas memiliki zat aktif berupa glikosida resin dan flavon. Glikosida resin menghambat bakteri yang memperparah kerusakan jaringan dan menghambat peningkatan dari COX 1 dan 2. Flavon menstimulasi makrofag M2 untuk menghasilkan growth factor yang berfungsi meningkatkan sintesis kolagen oleh fibroblas dan menghambat peningkatan ROS dengan meningkatkan SOD, sebuah enzim yang berfungsi mereduksi ROS. Sediaan gel berfungsi menyediakan kondisi yang ideal bagi fibroblas untuk migrasi dan proliferasi, juga meningkatkan debridemen autolitik. Aktivitas pada fase inflamasi diharapkan akan mempercepat transisi ke fase proliferasi, aktivitas pada fase proliferatif diharapkan meningkatkan kadar hidroksiprolin secara langsung. Jenis dari penelitian ini menggunakan quasi experimental laboratories dengan rancangan posttest only control group design. Metode pengambilan sampel yang digunakan yakni probability sampling dengan metode simple random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 20 ekor. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Biomedik Hewan Coba Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember. Hewan coba penelitian ini ialah tikus wistar jantan dengan berat 150-200 gram yang dikelompokkan menjadi 5 kelompok. Kelompok tersebut terdiri atas kelompok kontrol negatidf (K-) yang diberi aquades setiap 2 hari selama 10 hari, kelompok kontrol positif (K-) yang diberi obat topikal yang mengandung ekstrak plasenta dan neomisin setiap 2 hari selama 10 hari, serta 3 kelompok perlakuan (T1, T2, dan T3) yang diberi gel umbi bidara upas (Merremia mammosa Lour) dengan vehicle secara berturut-turut, HPMC, carbopol, CMC-Na, setiap 2 hari selama 10 hari. Perakuan diberikan secara topikal pada luka diabetik derajat 2 setiap hewan coba. Pada akhir penelitian tikus diterminasi dan diambil jaringan kulit yang mengalami luka diabetik, kemudian dilakukan pemeriksaan hidroksiprolin denga menggunakan ELISA kit dan pembacaan dengan spektrofotometer 450nm. Data yang didapat berupa kadar hidroksiprolin dengan satuan ng/ml. Hasil pengukuran rata-rata kadar hidroksiprolin dan standar deviasi tiap kelompok perlakuan adalah K(-) 12,321 ± 4,65; K(+) 29,085 ± 8,34; T1 46,531 ± 28,64; T2 25,296 ± 7,11; T3 42,778 ± 32,25. Hasil pengukuran kadar hidroksiprolin dianalisis dengan menggunakan Kruskal Wallis dan dilanjutkan uji post hoc Man Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gel fraksi umbi bidara upas (Merremia mammosa Lour) memberikan efek berupa peningkatan kadar hidroksiprolin pada luka tikus diabetes derajat 2 (p < 0,05). Perbedaan kadar hidroksi tiap kelompok perlakuan (T1-HPMC, T2-carbopol, dan T3-CMC Na) menunjukkan hasil yang tidak signifikan sehingga masing-masing vehicle dapat dipilih untuk formulasi gel fraksi umbi bidara upas.en_US
dc.language.isoInden_US
dc.publisherFAKULTAS KEDOKTERANen_US
dc.subjectJenisVehicle Gel Fraksi Umbi Bidara Upas (Merremia mammosa Lour)en_US
dc.subjectLuka Tikus Diabetesen_US
dc.titleEfek JenisVehicle Gel Fraksi Umbi Bidara Upas (Merremia mammosa Lour) pada Penyembuhan Luka Tikus Diabetes Berdasarkan Analisis Hidroksiprolinen_US
dc.typeThesisen_US
dc.identifier.prodiKEDOKTERAN
dc.identifier.kodeprodi2010101


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record