Show simple item record

dc.contributor.advisorSETIOPUTRO, Baskoro
dc.contributor.advisorWANTIYAH
dc.contributor.authorSARI, Rindyawati Kusuma
dc.date.accessioned2019-08-22T02:32:53Z
dc.date.available2019-08-22T02:32:53Z
dc.date.issued2019-08-22
dc.identifier.nimNIM152310101019
dc.identifier.urihttp://repository.unej.ac.id/handle/123456789/92051
dc.description.abstractDiagnosis keperawatan merupakan bagian dari proses keperawatan yang menjadi dasar bagi perawat untuk mengambil keputusan mengenai intervensi keperawatan yang sesuai dengan masalah kesehatan pasien. Hal tersebut harus dilakukan oleh perawat yang profesional. Pandangan tentang penerapan diagnosis keperawatan dalam praktek klinis bervariasi, dan setiap lembaga kesehatan menggunakan ringkasan diagnostiknya sendiri (Félix, Ramos, Nascimento, Moreira, & Oliveira, 2018; Mynarikova & Ziakova, 2014). Diagnosis keperawatan merupakan bagian yang mendasar dalam menentukan asuhan keperawatan yang sesuai untuk membantu klien mencapai kesehatan yang maksimal. Mengingat pentingnya diagnosis keperawatan, sehingga dibutuhkan standar diagnosis keperawatan yang bisa digunakan atau diterapkan secara nasional dengan mengacu pada standar diagnosis yang telah ditetapkan sebelumya dan sudah diakui secara international (PPNI, 2017). Penelitian ini dilakukan di ruang ICCU RSD dr. Soebandi Jember selama satu bulan. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Metode penelitian ini adalah survei deskriptif dengan pendekatan prospektif. Variabel dalam penelitian ini adalah diagnosis keperawatan. Populasi dalam penelitian ini adalah semua klien yang dirawat di ruang ICCU RSD dr. Soebandi Jember. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah consecutive sampling. Hasil penelitian menunjukkan enam diagnosis keperawatan yang sering terjadi pada klien di ruang ICCU adalah nyeri akut 33 pasien (82,5%), risiko perfusi miokard tidak efektif 32 pasien (80,0%), penurunan curah jantung 31 pasien (77,5%), risiko perdarahan 30 pasien (75,0%), risiko infeksi dan risiko gangguan sirkulasi spontan sebanyak 29 pasien (72,5%). Tanda dan gejala serta faktor resiko pada pasien dengan gangguan jantung seperti rasa nyeri dada, gelisah, dan faktor risiko seperti hipertensi, aterosklerosis, serta adanya tindakan invasif dan pemberian terapi farmakologi pada pasien jantung, sehingga diagnosis keperawatan nyeri akut, risiko perfusi miokard tidak efektif, penurunan curah jantung, risiko perdarahan, risiko infeksi dan risiko gangguan sirkulasi spontan lebih sering ditegakkan. Selama penelitian terdapat beberapa diagnosis keperawatan yang masih sulit untuk ditegakkan karena tidak mencapai 80-100%, berdasarkan SDKI dalam menegakkan diagnosis aktual harus mencapai 80-100%. Sehingga diharapkan terdapat perbaikan yang dilakukan oleh PPNI sebagai penyusun SDKI untuk memperbaiki data tanda dan gejala mayor.en_US
dc.language.isoiden_US
dc.relation.ispartofseries152310101019;
dc.subjectIccuen_US
dc.subjectDiagnosis Keperawatanen_US
dc.subjectSDKIen_US
dc.titleGambaran Diagnosis Keperawatan Menurut SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) di Ruang Iccu (Intensive Coronary Care Unit) Rsd Dr. Soebandi Jemberen_US
dc.typeUndergraduat Thesisen_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record