Analisis Kadar Radionuklida berdasarkan Ketinggian Daun Tembakau serta Estimasi Excess Lifetime Cancer Risk Sebagai Screening Potensi Bahaya Merokok
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Kedokteran
Abstract
Latar belakang/permasalahan. Paparan radiasi merupakan faktor risiko
lingkungan yang tidak terlihat dan dapat meningkatkan risiko kanker dalam jangka
panjang. Di sisi lain, rokok telah lama dikenal berbahaya, namun kajian risiko
biasanya lebih menekankan zat kimia karsinogenik, bukan kontribusi radionuklida
alami yang dapat ikut terhirup dari tembakau saat merokok. Karena itu, diperlukan
gambaran awal mengenai aktivitas radionuklida pada daun tembakau dan potensi
risikonya.
Penelitian ini bertujuan yang pertama untuk mengidentifikasi aktivitas
radionuklida alami K-40, Th-232, dan U-238 pada daun tembakau, selanjutnya
menganalisis hubungan ketinggian daun dengan aktivitas masing-masing
radionuklida, serta untuk menilai implikasi kesehatan melalui estimasi Annual
Effective Dose (AED) dan Excess Lifetime Cancer Risk (ELCR) pada skenario
paparan merokok. Metode penelitian. Penelitian dilakukan pada 13 sampel daun
(D13–D25) dari ketinggian berbeda. Data aktivitas K-40, Th-232, dan U-238 diolah
menggunakan statistik deskriptif (rata-rata, median, minimum–maksimum,
simpangan baku). Hubungan ketinggian daun dengan aktivitas dianalisis
menggunakan korelasi Spearman. Selanjutnya, AED dan ELCR dihitung untuk
skenario merokok menggunakan parameter konsumsi atau massa tembakau, fraksi
asap yang diasumsikan masuk dan mencapai paru, serta DCF inhalasi. Pendekatan
yang dipakai bersifat konservatif untuk keperluan screening. Hasil. Secara
deskriptif, K-40 memiliki aktivitas paling besar dibandingkan Th-232 dan U-238,
dan ketiga radionuklida menunjukkan variasi antar sampel. Uji Spearman
menunjukkan K-40 cenderung menurun pada ketinggian yang lebih tinggi namun
tidak signifikan, sedangkan Th-232 dan U-238 meningkat secara bermakna seiring
kenaikan ketinggian daun. Estimasi kesehatan menunjukkan AED total berada pada
kisaran 1,09 – 5,40 mSv/tahun, dan ELCR total berada pada kisaran 0,0041 –
0,0201. kontribusi ELCR terbesar terutama berasal dari radionuklida dengan DCF
lebih tinggi, terutama Th-232. Kesimpulan. Penelitian ini menunjukkan adanya
variasi aktivitas radionuklida berdasarkan ketinggian daun, dengan kecenderungan
peningkatan Th-232 dan U-238 pada daun yang lebih tinggi. Secara konservatif,
hasil AED dan ELCR menunjukkan potensi paparan dan risiko kesehatan yang
perlu diperhatikan sebagai screening awal, serta menjadi dasar untuk penelitian
lanjutan dengan jumlah sampel lebih besar dan parameter paparan yang lebih
spesifik.
Description
reupload 2026 Rudi H
