Show simple item record

dc.contributor.advisorBADRIANI, Ririn Endah
dc.contributor.advisorSUYOSO, Hernu
dc.contributor.authorTRESNAWATI, Firdha Ulfa
dc.date.accessioned2018-11-19T05:58:09Z
dc.date.available2018-11-19T05:58:09Z
dc.date.issued2018-11-19
dc.identifier.nimNIM161910301154
dc.identifier.urihttp://repository.unej.ac.id/handle/123456789/88178
dc.description.abstractIndonesia sebagai negara yang berkembang mengalami pembangunan infrastruktur yang terus berjalan. Sebuah konstruksi dapat merusak lingkungan jika tidak dikelola dengan baik, karena berpotensi menimbulkan limbah. Model Assessment Green Construction (MAGC) merupakan sistem penilaian yang dikembangkan oleh Ervianto untuk menilai proses konstruksi hijau atau ramah lingkungan. Penelitian ini mengidentifikasi hal-hal yang telah di implementasi pada tahap konstruksi oleh kontraktor dengan menggunakan model assessment green construction. Konstruksi hijau dapat mengurangi kerusakan lingkungan yang terjadi sejak awal perencanaan, hingga dekonstruksi. Metode yang digunakan pada artikel ini adalah diskusi langsung dan observasi dilapangan. Penelitian ini menggunakan 6 aspek, 16 faktor, dan 142 indikator penilaian green construction yang didapat melalui model assessment green construction. Metode pengolahan data dengan Analytical Hierarchy Process (AHP) yang diolah melalui software Expert Choice 11. Berdasarkan pengolahan data melalui software Expert Choice 11 didapat hasil pembobotan Aspek sebesar 0,387 dan bobot faktor sebesar 0,9. Nilai tersebut digunakan sebagai perhitungan model assessment green construction. Nilai green construction yang didapat dari rata-rata penilaian 5 responden yaitu sebesar 22,24 dari NGCIdeal sebesar 25,43. Faktor yang memiliki persentase ketidakcapaian paling tinggi yaitu: (a) Kualitas Udara Tahap Konstruksi sebesar 49,98%, kendalanya kurang adanya persyaratan kualitas udara yang terdapat dalam dokumen lelang/ kontrak, (b) Pemilihan dan Operasional Peralatan Konstruksi sebesar 40%, kendalanya sulit didapatkan sumber energi alternatif untuk peralatan konsruksi, serta kurangnya kesadaran pekerja konstruksi mengenai green consruction, (c) Manajemen Limbah Konstruksi sebesar 41,667%, kendalanya berupa kurangnya teknologi mengenai green construction untuk mengolah limbah konstruksi.en_US
dc.language.isoiden_US
dc.relation.ispartofseries161910301154;
dc.subjectKONSTRUKSI HIJAUen_US
dc.subjectMODEL ASSESSMENT GREEN CONSTRUCTIONen_US
dc.titleIMPLEMENTASI KONSTRUKSI HIJAU DALAM PROYEK BANGUNAN GEDUNG MENGGUNAKAN MODEL ASSESSMENT GREEN CONSTRUCTION (STUDI KASUS PROYEK APARTEMEN GRAND SUNGKONO LAGOON TOWER CASPIAN SURABAYA)en_US
dc.typeUndergraduat Thesisen_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record