Show simple item record

dc.contributor.advisorHairrudin
dc.contributor.advisorNormasari, Rena
dc.contributor.authorDewi, Putu Ratih Pradnyani
dc.date.accessioned2016-01-13T03:49:22Z
dc.date.available2016-01-13T03:49:22Z
dc.date.issued2016-01-13
dc.identifier.nim112010101067
dc.identifier.urihttp://repository.unej.ac.id/handle/123456789/71260
dc.description.abstractAktivitas fisik adalah kegiatan hidup yang harus dikembangkan dengan harapan dapat memberikan nilai tambah berupa peningkatan kualitas, kesejahteraan, dan martabat manusia. Aktivitas fisik yang berat membutuhkan energi yang lebih banyak. Aktivitas fisik berat merupakan stressor fisiologis yang menimbulkan stres fisik. Secara fisiologis, peningkatan kebutuhan energi berhubungan dengan peningkatan kebutuhan oksigen. Konsumsi oksigen yang meningkat pada rantai pernapasan akan menyebabkan peningkatan produksi radikal bebas yang dihasilkan. Ketidakseimbangan jumlah senyawa radikal bebas dan antioksidan yang ada dalam tubuh menyebabkan peningkatan produksi Reactive Oxygen Species (ROS) yang berasal dari metabolisme terutama metabolisme aerobik sel-sel otot selama aktivitas fisik tersebut. Stres fisik akan menimbulkan kerusakan progresif pada jaringan tubuh yang kemudian akan mengakibatkan kematian sel. Pada organ ginjal akan mengakibatkan kematian sel tubulus sehingga terjadi obstruksi kreatinin yang dalam kondisi normal seharusnya lolos dalam filtrasi. Sehingga kreatinin akan tertumpuk dan menyebabkan peningkatan kadar kreatinin yang berdifusi ke dalam plasma sehingga terjadi peningkatan kadar kreatinin serum. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik dengan rancangan Post Test Only Control Group Design. Sampel penelitian yang diambil adalah tikus wistar jantan berusia 2-3 bulan dengan berat ±200 gram. Metode yang digunakan untuk pengambilan sampel adalah simple random sampling, yaitu sampel yang diambil dalam penelitian diambil secara acak. Sampel diambil berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Besar sampel dalam penelitian ini adalah 10 ekor tikus wistar jantan yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu 1 kelompok kontrol dan 1 kelompok perlakuan, masing-masing sejumlah 5 ekor tikus. Sebelum dilakukan perlakuan, tikus diaklimatisasikan terlebih dahulu selama 7 hari. Setelah itu dilakukan randomisasi dengan membagi hewan coba ke dalam 2 kelompok, masing-masing 5 tikus. Semua kelompok diberi pakan standar ad libitum. Kelompok kontrol (K) tidak diberi stres fisik; kelompok perlakuan (P) diberikan stres fisik berupa swimming stress dengan beban 6% dari BB tikus dilakukan selama 30 menit perhari selama 10 hari. Selanjutnya dilakukan pengambilan data hasil pengukuran kadar kreatinin serum tikus pada masing-masing kelompok dengan menggunakan metode Jaffe dan dihitung rata-rata kadar kreatinin serum untuk tiap kelompok. Data hasil penelitian kemudian dilakukan uji statistik menggunakan program SPSS. Uji analisis data yang digunakan adalah uji Mann Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna pada kadar kreatinin serum tikus wistar jantan yang diberi stres fisik dengan yang tidak diberi stres fisik.en_US
dc.language.isoiden_US
dc.subjectStres Fisik Terhadap Kadar Kreatinin Serum Tikus Wistar Jantanen_US
dc.titlePENGARUH STRES FISIK TERHADAP KADAR KREATININ SERUM TIKUS WISTAR JANTAN (Rattus norvegicus)en_US
dc.typeUndergraduat Thesisen_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record