Show simple item record

dc.contributor.advisorTitin Agustina
dc.contributor.advisorAryo Fajar Sunartomo
dc.contributor.authorAnggi Wiranata
dc.contributor.authorAryo Fajar Sunartomo
dc.contributor.authorTitin Agustina
dc.date.accessioned2015-12-28T03:31:18Z
dc.date.available2015-12-28T03:31:18Z
dc.date.issued2014
dc.identifier.urihttp://repository.unej.ac.id/handle/123456789/68832
dc.description.abstractKapas (Gossypium hersutum) merupakan salah satu komoditi perkebunan penghasil serat alam untuk bahan baku industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Namun perkembangan industri TPT tersebut belum didukung oleh kemampuan penyediaan bahan baku berupa serat kapas dalam negeri, sehingga sekitar 99,5% kebutuhan bahan baku tersebut masih dipenuhi dari impor. Menyadari hal tersebut Pengembangan kapas secara intensif dilakukan melalui program Intensifikasi Kapas Rakyat (IKR) yang dimulai tahun 1978/1979 dengan luas areal sekitar 22.000 ha. Daerah pengembangan kapas meliputi daerah dengan iklim kering, yaitu Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat. Kabupaten Situbondo adalah salah satu kabupaten di Propinsi Jawa Timur yang memiliki potensi akan usahatani kapas. Usahatani kapas dikembangkan oleh petani di kabupaten Situbondo diatas tersebut karena memiliki prospek yang cerah, lahan yang cocok untuk ditanami tanaman kapas serta wilayah yang cukup dekat dengan PT. Nusafarm. Akan tetapi hal ini masih kurang intensif, dikarenakan petani masih belum memperhatikan perincian biaya yang dikeluarkan mulai dari penggunaan biaya pupuk, biaya obat-obatan, hingga biaya tenaga kerja, sehingga petani memperoleh keuntungan yang rendah.. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan analitik. Alat analisis yang digunakan adalah analisis R/C Ratio, analisis Break Event Point, dan analisis SWOT. Hasil analisis menunjukkan bahwa: (1) rata-rata efisiensi biaya usahatani kapas sebesar 1,67, maka dapat disimpulkan bahwa usahatani kapas di kabupaten Situbondo efisien, (2) posisi (Break Even Point) usahatani kapas di Kabupaten Situbondo berada di atas titik impas dengan nilai (BEPQ) sebesar 13,08 Kg dan (BEP(Rp)) menunjukkan angka sebesar Rp 64.328,12, secara keseluruhan rata-rata produksi dari usahatani kapas di Kabupaten Situbondo adalah sebesar 638,98 Kg dan mampu menghasilkan total penerimaan sebesar Rp 3.067.100,00, (3) strategi pengembangan usahatani kapas di Kabupaten Situbondo berada pada posisi Grey Area (Bidang Kuat-Terancam) yang artinya usahatani tersebut cukup kuat dan memiliki kompetensi untuk mengerjakannya, namun peluang pasar sangat mengancam. Strategi pengembangan komoditas kapas di Kabupaten Situbondo yaitu mengikuti perkembangan teknologi yang terkait dengan budidaya dan perawatan tanaman kapas guna meningkatkan hasil produksi.en_US
dc.language.isoiden_US
dc.publisherUNEJen_US
dc.subjectefisiensi biayaen_US
dc.subjectBEPen_US
dc.subjectstrategi pengembanganen_US
dc.titleANALISIS EFISIENSI BIAYA DAN STRATEGI PENGEMBANGAN USAHATANI KAPASen_US
dc.typeArticleen_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record