Show simple item record

dc.contributor.authorIFTITAH ALFIYANI
dc.date.accessioned2013-12-06T02:10:58Z
dc.date.available2013-12-06T02:10:58Z
dc.date.issued2013-12-06
dc.identifier.nimNIM052210101022
dc.identifier.urihttp://repository.unej.ac.id/handle/123456789/5429
dc.description.abstractDispepsia adalah sekumpulan gejala (sindrom) yang terdiri dari nyeri atau rasa tidak nyaman di epigastrium, mual, muntah, kembung, rasa penuh atau cepat kenyang, dan sering bersendawa (Wibawa, 2006). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil pasien (usia, jenis kelamin dan persentase tingkat kejadian penyakit), dan profil penggunaan obat yang diberikan pada pasien rawat inap dengan kasus dispepsia di RSD dr. Soebandi Jember. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Daerah dr. Soebandi Jember pada bulan Mei sampai Juni 2010. Penelitian dilakukan secara non-eksperimental dengan rancangan deskriptif, dan retrospektif dengan menggunakan data rekam medik selama 1 Januari 2009 - 31 Desember 2009. Sampel adalah data rekam medik pasien rawat inap dengan diagnosa dispepsia. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode total sampling yang berjumlah 46. Data-data kualitatif yang diperoleh disajikan dalam bentuk uraian atau narasi, sedangkan data kuantitatif disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini antara lain: Berdasarkan distribusi usia pasien diketahui usia 40-49 tahun sebanyak 9 pasien (19.57%), usia 50-59 tahun sebanyak 8 pasien (17.36%), usia 20-29 tqhun sebanyak 6 pasien (13.04%), usia 30-39 tahun sebanyak 6 pasien (13.04%), usia 70-79 tahun sebanyak 6 pasien (13.04%), usia 10-19 tahun sebanyak 5 pasien (10.87%), usia 60-69 tahun sebanyak 3 pasien (6.52%) dan usia 80-89 sebanyak 3 pasien (6.52%). Jumlah golongan obat dispepsia yang paling banyak digunakan adalah golongan Antagonis Reseptor H 60,86%, Proton Pump Inhibitor 2,17%, kombinasi Antagonis Reseptor H vii 2 2 dan Proton Pump Inhibitor 23,91% dan yang tidak menggunakan obat dispepsia sebesar 15,22%. Antagonis Reseptor H (ranitidin dan cimetidin) cepat diabsorbsi secara oral. Obat-obat tersebut mengeblok kerja histamin pada sel parietal dan mengurangi asam. Obat tersebut mengurangi nyeri akibat ulkus peptikum dan meningkatkan kecepatan penyembuhan ulkus. Simetidin juga terikat pada sitokrom P-450 dan bisa menurunkan metabolisme obat di hati (Neal, 2003). Inhibitor Pompa Proton tidak aktif pada pH netral, tetapi dalam keadaan asam obat-obat tersebut disusun kembali menjadi dua macam molekul reaktif, yang bereaksi dengan gugus sulfhidril pada H viii + /K + -ATPase (pompa proton) yang berperan untuk mentransfor ion H + keluar dari sel parietal. Oleh karena enzim dihambat secara ireversibel, maka sekresi asam hanya terjadi setelah sintesis enzim baru. Obat-obat tersebut berguna terutama pada pasien dengan hipersekresi asam lambung berat yang disebabkan oleh sindrom Zollinger-Ellison, suatu keadaan yang jarang terjadi akibat tumor sel pankreas yang mensekresi gastrin dan dengan pasien esofagitis refluks di mana ulkus yang berat biasanya resisten terhadap obat lain. Penggunaan terapi obat dispepsia digunakan sebagai kombinasi untuk mengurangi kumpulan keluhan/gejala-gejala klinis (sindrom) yang timbul pada dispepsia yang terdiri dari, rasa tidak enak/sakit perut di bagian atas yang disertai dengan keluhan lain, perasaan panas di dada, daerah jantung (heart burn), regurgitasi, kembung, perut terasa penuh, cepat kenyang, sendawa, anoreksia, mual, muntah, dan beberapa keluhan lain (Citra, 2003). Obat yang digunakan yaitu, antasida sebanyak 80%, antiemetik sebanyak 76%, antibiotik 76%, analgesik dan antipiretik 67%, antispasmodik sebanyak 50% dan ansiolitik sebanyak 15%.en_US
dc.language.isootheren_US
dc.relation.ispartofseries052210101022;
dc.subjectPENGOBATAN DISPEPSIAen_US
dc.titlePOLA PENGOBATAN DISPEPSIA PADA PASIEN RAWAT INAP di RSD Dr. Soebandi Jember Tahun 2009en_US
dc.typeOtheren_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record