Show simple item record

dc.contributor.authorMELANDI JEFRI AGUS NOVIANTO
dc.date.accessioned2013-12-04T04:31:06Z
dc.date.available2013-12-04T04:31:06Z
dc.date.issued2013-12-04
dc.identifier.nimNIM071810201070
dc.identifier.urihttp://repository.unej.ac.id/handle/123456789/3676
dc.description.abstractComputed Tomography (CT) merupakan metode untuk melihat kondisi dalam sebuah obyek dengan melakukan pemetaan terhadap kerapatan jaringan berdasarkan intensitas penyerapannya terhadap energi Sinar-X. Untuk menghasilkan sebuah citra, diperlukan sejumlah data proyeksi yang menginformasikan tentang kondisi tubuh yang dilalui oleh sinar-X. Semakin banyak data proyeksi yang digunakan untuk merekonstruksi citra maka semakin baik kualitas citra yang dihasilkan. Dengan kata lain semakin banyak sudut penyinaran yang digunakan maka semakin baik kualitas citra CT. Akan tetapi, seringkali pada sudut penyinaran lebih dari 180 , data proyeksi tidak terdistribusi merata atau tidak dapat dihasilkan, sehingga hal ini tidak memungkinkan untuk menghasilkan data proyeksi dalam jumlah yang banyak. Dengan demikian, diperlukan metode yang tepat untuk merekonstruksi citra dengan data proyeksi terbatas. Untuk menghasilkan citra dengan data proyeksi yang terbatas digunakan metode iteratif yakni Algebraic Reconstruction Technique (ART) dan Simultaneous Iterative Reconstruction Technique (SIRT). Metode ART dan SIRT membutuhkan parameter input yang dilakukan secara iteratif, hal ini mengakibatkan proses rekonstruksi berjalan lambat. Oleh karena itu, dilakukan modifikasi parameter input secara non iteratif. Tujuan penelitian untuk mengetahui perbandingan algoritma iteratif perekonstruksi sistem 2D menggunakan metode ART dan SIRT pada tomografi linier dengan menggunakan parameter input non iteratif. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi mengenai efektivitas proses rekonstruksi dengan melakukan modifikasi terhadap parameter input secara non iteratif. Penelitian dilakukan berdasarkan tiga tahap, tahap pertama menentukan obyek yang digunakan, dalam hal ini obyek dimisalkan dalam bentuk matriks berdimensi 100×100. Tahap kedua menentukan parameter perekonstruksi secara non iteratif dengan cara menentukan variasi sudut proyeksi yang terdiri dari 10 ˚ , 15 . Banyaknya data proyeksi diperoleh dengan membagi besar sudut putar maksimum terhadap variasi sudut proyeksi. Serta menetukan matriks beban yang memiliki dimensi matriks W=N×M dimana N merupakan perkalian antara banyaknya proyeksi dengan ukuran matriks benda, sedangkan M merupakan jumlah piksel dari matriks benda. Pada tahap ketiga melakukan proses rekonstruksi dengan menggunakan metode ART dan SIRT. ART memiliki nilai error yang menurun seiring bertambahnya sudut proyeksi, sementara itu SIRT memiliki nilai error yang semakin besar seiring bertambahnya sudut proyeksi. Hal ini terjadi karena ART tidak membutuhkan terlalu banyak proyeksi dan algoritma ART lebih sederhana jika dibandingkan dengan SIRT. Metode rekonstruksi ART memiliki kecepatan yang tinggi untuk mencapai konvergensi terhadap nilai error. Parameter rekonstruksi secara non iteratif sangat efektif jika digunakan pada tomografi linier karena memiliki kecepatan rekonstruksi yang cukup tinggi dan memiliki nilai error yang kecil.en_US
dc.language.isootheren_US
dc.relation.ispartofseries071810201070;
dc.subjectMetode ART dan SIRT pada Tomografi Linieren_US
dc.titleINVESTIGASI ALGORITMA PARAMETER INPUT NON ITERATIF DALAM METODE ART DAN SIRT PADA TOMOGRAFI LINIERen_US
dc.typeOtheren_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record