Show simple item record

dc.contributor.authorPERA WIBOWO PUTRO
dc.date.accessioned2014-01-17T04:30:17Z
dc.date.available2014-01-17T04:30:17Z
dc.date.issued2014-01-17
dc.identifier.nimNIM070810201192
dc.identifier.urihttp://repository.unej.ac.id/handle/123456789/15869
dc.description.abstractSaham adalah salah salah satu jenis investasi dipasar modal. Saham dikelompokkan menjadi beberapa indeks saham. Salah satu kategori indeks saham yang ada di pasar modal adalah ILQ’45. ILQ’45 terbentuk dari 45 saham terlikuid dari seluruh saham yang ada di Bursa Efek Indonesia. Dengan tingkat Likuiditas yang tinggi menyebabkan saham ini sering mengalami harga yang tidak wajar (mispriced). Saham yang harganya tidak wajar merupakan saham yang tidak sesuai dengan nilai intrinsik dari saham tersebut. Untuk mengetahui mispriced atau tidaknya saham ini maka diperlukan cara untuk dapat menganalisis mispriced saham ILQ’45. Tujuan dari penelitian ini adalah menilai apakah saham ILQ’45 mengalami mispriced atau wajar. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dipergunakan para investor yang ingin melakukan investasi di pasar modal sehingga investor mempunyai pengetahuan tentang menganalisis kewajaran harga saham. Dalam penelitian ini akan dilakukan perbandingan antara real return dan expected return. Real return tentukan dengan mencari selisih harga saham mingguan saham pembentuk ILQ’45. Real return yang sama dengan nol berarti harga saham hari ini sama dengan saham hari kemaren. Dalam posisi ini investor tidak mendapatkan keuntungan dari modal yang ditanamkannya. Real return yang positif menunjukkan harga saham hari ini mengalami kenaikan. Pada posisi ini investor mendapatkan keuntungan dari modal yang ditanamkannya. Real return yang negatif artinya harga saham hari ini mengalami penurunan dari harga yang kemaren. Hal ini menunjukkan investor mengalami kerugian dari modal yang ditanamkannya. Untuk menentukan expected return dilakukan dengan menggunakan model CAPM. Model CAPM ini dipilih karena memiliki kelebihan dari model lainnya yaitu memberikan expected return yang akurat. Model dari metode ini tidak mendasarkan pada apa yang sudah terjadi, akan tetapi mendasarkan pada apa yang diharapkan investor akan terjadi. Dalam model CAPM risiko bukan berarti sebagai standar deviasi tingkat keuntungan tetapi risiko diukur dengan menggunakan beta (β). Beta saham menggambarkan respon dari suatu saham terhadap pasar. Dalam melakukan penilaian harga saham, perbandingan real return dan expected return akan ditentukan dengan menggunakan SML (securities market line). Dalam SML akan ditentukan batas atas dari SML (underpriced) dan batas bawah dari SML (overpriced) terhadap saham yang harganya wajar, jika ada saham yang berada diluar jangkauan dari batas overpriced dan batas underpriced yang telah ditentukan maka terjadi mispriced. Tahap akhir dari SML adalah menggunakan metode tabulasi distribusi frekuensi. Dengan menggunakan metode ini mendapatkan 14 saham (38,8%) mengalami kecenderungan underpriced dan 26 saham (61,2%) mengalami kecenderungan overpriced. Sehingga saham pembentuk ILQ,45 mengalami mispriced.en_US
dc.language.isootheren_US
dc.relation.ispartofseries070810201192;
dc.subjectKEWAJARAN HARGA SAHAM PEMBENTUK INDEKS LQ’45en_US
dc.titlePENILAIAN KEWAJARAN HARGA SAHAM PEMBENTUK INDEKS LQ’45 DI BURSA EFEK INDONESIAen_US
dc.typeOtheren_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record