Show simple item record

dc.contributor.authorNURYANI, Dewi Ikke
dc.date.accessioned2024-02-20T08:49:58Z
dc.date.available2024-02-20T08:49:58Z
dc.date.issued2024-01-24
dc.identifier.nim220120201001en_US
dc.identifier.urihttps://repository.unej.ac.id/xmlui/handle/123456789/119948
dc.descriptionFinalisasi unggah file repositori tanggal 20 Februari 2024_Kurnadien_US
dc.description.abstractGangguan berbahasa gagap adalah kondisi seseorang yang mengalami ketidaklancaran berbahasa. Penderita gagap cenderung mengulang-ulang kata, memberi jeda, memperpanjang, menyisipkan bunyi-bunyi yang tidak perlu atau mengalihkan topik. Kondisi tersebut disebabkan oleh beberapa hal di antaranya terdapat masalah pertumbuhan anak, terdapat gangguan neurogenik, faktor keturunan serta adanya tekanan dari lingkungan penderita gagap. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan psikolinguistik. Data pada penelitian ini berupa data verbal dan nonverbal. Data verbal berupa bunyi, kata, frasa, kalimat yang dituturkan oleh Mr. AG sedangkan data nonverbal berupa ekspresi dan gestur saat Mr. AG menuturkan sebuah tuturan. Sumber data berasal dari seorang pria dewasa yang mengalami gangguan berbahasa gagap dengan tingkat gagap berat, yang berdomisili di desa Petung, Kecamatan Curahdami Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi pastisipatif, teknik pancing, reflektif Instruspektif. Metode-metode tersebut digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang karakteristik berbahasa gagap Mr. AG. Selain itu digunakan metode wawancara untuk mengetahui faktor penyebab gagap pada Mr. AG. Setelah tahap pengumpulan data yang berupa data verbal maupun nonverbal dari subjek penelitian, kemudian data tersebut direduksi dan diklasifikasikan. Setelah semua data gangguan berbahasa gagap yang dialami oleh Mr. AG terkumpul dan dilakukan proses analisis maka dilakukan penyajian hasil analisis secara informal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat lima bentuk gagap yang dialami oleh Mr. AG yakni pegulangan, jeda, penyisipan, perpanjangan dan circumlocution. Bentuk pengulangan yang dialami oleh Mr. AG adalah pengulangan bunyi baik vokal maupun konsonan, pengulangan kata, pengulangan suku kata dan pengulangan frasa. Bentuk jeda yang dialami oleh Mr. AG berdurasi antara 2 sampai 6 detik. Bentuk penyisipan yang dialami oleh Mr. AG adalah penyisipan suara eeeee, eeeeb, eeed. Selain itu, bentuk gagap yang dilakukan oleh Mr. AG adalah perpanjangan. Saat Mr. AG hendak menuturkan kata yang diawali atau berdekatan dengan bunyi konsonan hambat letup /b,d,j,g,t,k,p/ dan nasal /m,n/ maka Mr. AG akan cenderung mengulang-ulang bunyi vokal, suku kata, kata yang berdekatan dengan konsonan tersebut. Kemudian terjadi pula penyisipan bunyi tertentu, jeda dan perpanjangan saat dia akan menuturkan kata yang diawali dan atau berdekatan dengan konsonan yang sulit dia ucapkan yaitu hambat letup /b,d,j,g,t,k,p/ dan nasal /m,n/. Bentuk gagap circumlocution yang dilakukan oleh Mr. AG dilakukan saat dia merasa kebingungan mendeskripsikan sesuatu, menjelaskan lokasi, dan menceritakan ulang sebuah kejadian. Circumlocution ditandai dengan otot leher yang tampak menegang, mata berkedip beberapa kali, bibir bergetar dan kepala agak bergoyang. Terdapat dua faktor penyebab gagap yang dialami oleh Mr. AG. Faktor tersebut adalah faktor gangguan neurologis dan faktor tekanan dari keluarga. Terdapat kaitan yang erat antara masalah disleksia dan epilepsi yang dialami oleh Mr. AG terhadap gangguan berbahasa gagapnya. Eplepsi yang Mr. AG alami menyebabkan kerusakan pada hemisfer kiri sebagai pusat pengendali bahasa. Oleh karena itu, hemisfer kanan berusaha mengambil alih peran bagian otak yang mengalami kerusakan. Kemudian terjadilah ketidakseimbangan antara kinerja hemisfer kiri dan kanan yang menyebabkan gangguan berbahasa gagap. Bukti lain bahwa hemisfer kiri Mr. AG mengalami gangguan dan hemisfer kanan lebih mendominasi adalah Mr.AG mengalami disleksia. Disleksia terjadi karena hemisfer kiri tidak matang. Selain itu, Mr. AG tidak mengalami kegagapan saat menyanyi karena aktivitas menyanyi menggunakan hemisfer kanan. Selain karena faktor neurologis faktor trauma psikologis akibat tekanan dari keluarga memperparah gangguan berbahasa gagap yang dialami oleh Mr. AGen_US
dc.description.sponsorship1. Prof. Dr. Bambang Wibisono, M.Pd. (196004091985031003) Sebagai Dosen Pembimbing Utama 2. Prof. Dr. Hairus Salikin, M.Ed. (196310151989021001) Sebagai Dosen Pembimbing Anggotaen_US
dc.language.isootheren_US
dc.publisherFakultas Ilmu Budayaen_US
dc.subjectGangguan Berbahasa Gagapen_US
dc.subjectPria Dewasaen_US
dc.titleGangguan Berbahasa Gagap pada Pria Dewasa di Bondowoso: Kasus Mr.AGen_US
dc.typeTesisen_US
dc.identifier.prodiMagister Linguistiken_US
dc.identifier.pembimbing1Prof. Dr. Bambang Wibisono, M.Pd.en_US
dc.identifier.pembimbing2Prof. Dr. Hairus Salikin, M.Ed.en_US
dc.identifier.validatorKacung- 15 Februari 2024en_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record