Show simple item record

dc.contributor.authorANDRIYANI
dc.date.accessioned2022-10-05T13:01:17Z
dc.date.available2022-10-05T13:01:17Z
dc.date.issued2022-07-27
dc.identifier.nim180110201002en_US
dc.identifier.urihttps://repository.unej.ac.id/xmlui/handle/123456789/109792
dc.descriptionFinalisasi oleh Taufik Tgl 5 Oktober 2022en_US
dc.description.abstractPenelitian yang dilakukan mengkaji gelar wicara Mata Najwa dan Catatan Demokrasi episode penghapusan mural dari sudut pandang analisis wacana kritis. Analisis wacana kritis menunjukkan keberpihakan. Dalam Mata Najwa dan Catatan Demokrasi episode penghapusan mural terdapat bentuk keberpihakan pada tuturan-tuturan pemandu acara dan narasumber. Forum tersebut menjelaskan kasus penghapusan mural dilihat dari penilaian narasumber. Untuk memahami wacana tersebut digunakan teori analisis wacana kritis Norman Fairclough. Tujuan penelitian tersebut adalah: 1. mendeskripsikan hasil analisis teks dalam Mata Najwa dan Catatan Demokrasi pada episode penghapusan mural; 2. mendeskripsikan hasil analisis praktik diskursif dalam pada episode penghapusan mural Mata Najwa dan Catatan Demokrasi; 3. mendeskripsikan hasil analisis praksis sosial dalam pada episode penghapusan mural Mata Najwa dan Catatan Demokrasi; dan 4. mendeskripsikan perbandingan keberpihakan dalam Mata Najwa dan Catatan Demokrasi menyajikan topik diskusi penghapusan mural. Analisis wacana kritis menerapkan metode kualitatif. Penyediaan data menggunakan teknik simak tanpa ikut berpartisipasi. Data diperoleh dengan cara mendownload video Mata Najwa dan Catatan Demokrasi episode penghapusan mural di youtube. Proses analisis data terdiri dari tiga tahapan analisis teks, praktik diskursif, dan analisis sosial budaya. Hasil penelitian tersebut pertama, analisis teks pada Mata Najwa episode penghapusan mural menunjukkan keberpihakan Haris Azhar kepada seniman mural, Faldo Maldini kepada pemerintah, dan Trans 7 memberi tugas kepada Najwa Shihab sebagai pemandu acara untuk berpihak kepada pemerintah. Analisis teks pada Catatan Demokrasi episode penghapusan mural menunjukkan keberpihakan Ade Armando dan Ali Mochtar Ngabalin kepada pemerintah, Roy Suryo, Said Didu, dan Yusril Ihza Mahendra kepada seniman mural, dan TvOne memberi tugas kepada Maria Assegaf dan Andromeda Mercury sebagai pemandu acara untuk menempatkan diri sebagai golongan yang berpihak kepada pemerintah. Kedua, analisis praktik diskursif pada Mata Najwa episode penghapusan mural menunjukkan produksi teks berupa pembentukan 7 sesi. Sesi 1, sesi 2, sesi 3, dan sesi 4 membahas topik keteladanan dari pemerintahan Soekarno-Hatta, dan sesi 5, sesi 6, dan sesi 7 membahas topik penghapusan mural. Narasumber melakukan pembentukan teks dengan memenuhi atau melanggar prinsip kerja sama. Tujuan distribusi teks untuk menguatkan nilai politik. Konsumsi teks yang dilakukan masyarakat dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok yang mendukung penghapusan mural dan kelompok yang tidak mendukung penghapusan mural. Analisis praktik diskursif pada Catatan Demokrasi episode penghapusan mural menunjukkan produksi teks berupa pembentukan 5 sesi yang setiap sesi diisi satu narasumber. Narasumber melakukan pembentukan teks dengan memenuhi atau melanggar prinsip kerja sama. Tujuan distribusi teks untuk menguatkan nilai politik. Konsumsi teks yang dilakukan masyarakat dengan mendukung penghapusan mural dan tidak mendukung penghapusan mural. Ketiga, analisis praksis sosial pada Mata Najwa episode penghapusan mural menunjukkan situasi pemerintahan dan pandemi, institusi Trans 7, dan ekonomi yang tidak stabil mempengaruhi pembentukan wacana. Analisis praksis sosial pada Catatan Demokrasi episode penghapusan mural menunjukkan situasi penyampaian kritik yang dibatasi dan pandemi, institusi TvOne, dan ekonomi yang tidak stabil mempengaruhi pembentukan wacana. Keempat, perbandingan pada kedua gelar wicara menunjukkan hasil keberpihakan kepada pemerintah. Najwa Shihab sebagai pemandu acara Mata Najwa lebih berhati-hati dalam menunjukkan keberpihakan pada pemerintah. Gelar wicara Catatan Demokrasi melalui Maria Assegaf dan Andromeda Mercury berani dalam menunjukkan keberpihakan dengan batasan-batasan yang disampaikan seperti koridor yang cukup baik, dan meminta penjelasan terkait penilaian pemerintah yang paranoid. Pemandu acara juga membatasi pertanyaan-pertanyaan dan tidak mengembangkan pernyataan yang bersifat kritik kepada pemerintah.en_US
dc.description.sponsorshipDosen Pembimbing 1 : Prof. Dr. Bambang Wibisono, M.Pd. Dosen Pembimbing 2 : Drs. Budi Suyanto, M.Hum.en_US
dc.language.isootheren_US
dc.publisherFakultas Ilmu Budayaen_US
dc.subjectWacana Kritisen_US
dc.subjectMata Najwaen_US
dc.subjectCatatan Demokrasien_US
dc.titleAnalisis Wacana Kritis pada Gelar Wicara Mata Najwa dan Catatan Demokrasi Episode Penghapusan Muralen_US
dc.title.alternativeCritical Discourse Analysis on Mata Najwa and Catatan Demokrasi Taklshow Mural Removal Episodeen_US
dc.typeSkripsien_US
dc.identifier.prodiSastra Indonesiaen_US
dc.identifier.pembimbing1Prof. Dr. Bambang Wibisono, M.Pd.en_US
dc.identifier.pembimbing2Drs. Budi Suyanto, M.Hum.en_US
dc.identifier.finalizationTaufiken_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record