Show simple item record

dc.contributor.authorHelmi Andrian N.
dc.date.accessioned2013-12-20T00:42:56Z
dc.date.available2013-12-20T00:42:56Z
dc.date.issued2013-12-20
dc.identifier.nimNIM052310101044
dc.identifier.urihttp://repository.unej.ac.id/handle/123456789/10811
dc.description.abstractAutis adalah suatu gangguan perkembangan yang komplek terkait dengan komunikasi, interaksi sosial dan aktivitas imajinasi. Anak autis mengalami gangguan perkembangan pervasif yang ciri utamanya adalah gangguan kualitatif pada perkembangan komunikasi baik secara verbal (berbicara dan menulis) dan non verbal (kurang bisa mengekspresikan perasaan dan kadang menunjukan ekspresi yang kurang tepat). Gangguan komunikasi pada autis ini ditandai dengan adanya hambatan dalam keterampilan berbahasa seperti; echolalia (pengulangan 3 kata), pembalikan kosa kata, ekspresi yang tidak tepat saat berbicara, perbendaharaan kata terbatas, dan lain-lain. Komunikasi merupakan upaya individu dalam menjaga dan mempertahankan individu untuk tetap berinteraksi dengan orang lain. Proses komunikasi dapat menjadikan suatu interaksi lebih terarah dan lebih bermanfaat. Komunikasi dapat dilakukan dengan mudah dan lancar oleh anak normal, tetapi pada anak autis komunikasi tidak berjalan lancar. Anak autis sulit melakukan proses komunikasi, hal itu dikarenakan anak autis mengalami hambatan pada perkembangan bahasa. Selain itu, anak autis sulit melakukan aktivitas bermain dengan teman sebaya atau kelompok karena keterbatasan dalam melakukan komunikasi, sehingga anak autis sering bermain secara menyendiri. x Perawat sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan juga memiliki peran sebagai pemberi asuhan keperawatan pada anak baik sehat maupun sakit. Perawat dapat membantu anak melakukan komunikasi yang lebih terarah dengan melakukan terapi. Terapi yang digunakan pada anak autis untuk meningkatkan memampuan komunikasi adalah menggunakan terapi bermain. Bermain adalah unsur yang paling penting untuk perkembangan anak baik fisik, emosi, mental, intelektual, kreativitas dan social. Permainan juga membantu anak untuk melatih komunikasi baik komunikasi verbal maupun non verbal. Permainan yang dilakukan pada anak autis untuk melatih anak berkomunikasi terdiri dari permainan menggambar dan mewarnai serta bermain teka-teki (puzzle). Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan kemampuan komunikasi pada anak autis setelah dilakukan terapi bermain. Kemampuan komunikasi sebelum tindakan terapi bermain pada kategori kurang sebanyak 9 anak (69,2%), kemudian setelah dilakukan terapi bermain berkurang menjadi 3 anak (23,1). Pada kategori cukup jumlah anak sebelum dilakukan terapi bermain sejumlah 4 anak (30,8%), kemudian setelah dilakukan terapi bermain naik menjadi 9 anak (69,2%). Pada kategori baik tidak ada anak yang terdapat pada kategori ini, tetapi setelah dilakukan terapi bermain jumlah anak pada kategori baik meningkat menjadi 1 anak (7,7%). Berdasarkan hasil uji wilcoxon sign rank test, diperoleh hasil bahwa p-value=0,008 < α (0,05). Dengan demikian hasil penelitian menyimpulkan bahwa ada pengaruh antara kemampuan komunikasi sebelum dilakukan terapi bermain dengan kemampuan komunikasi setelah dilakukan terapi bermain.en_US
dc.language.isootheren_US
dc.relation.ispartofseries052310101044;
dc.subjectKemampuan komunikasi, Autis, Terapi bermain,en_US
dc.titlePENGARUH TERAPI BERMAIN TERHADAP KEMAMPUAN KOMUNIKASI ANAK AUTIS DI SLB TPA KABUPATEN JEMBERen_US
dc.typeOtheren_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record