Show simple item record

dc.contributor.advisorISTIAJI, Erdi
dc.contributor.advisorNAFIKADINI, Iken
dc.contributor.authorFEBRIANI, Fariha
dc.date.accessioned2016-11-17T03:19:24Z
dc.date.available2016-11-17T03:19:24Z
dc.date.issued2016-11-17
dc.identifier.nimNIM112110101013
dc.identifier.urihttp://repository.unej.ac.id/handle/123456789/77962
dc.description.abstractIsu-isu remaja terutama mengenai cinta dan seksualitas dan kesehatan reproduksi remaja di Indonesia belum dijadikan prioritas utama untuk diangkat dan masih terkesan tabu untuk dibicarakan. Perkembangan fungsi seksual yang tidak seimbang dengan informasi tentang seksual dapat menyebabkan perilaku seksual yang menyimpang dan beresiko terhadap kesehatan. Lesbian merupakan orientasi seksual yang dilakoni oleh pasangan wanita. Survei di negara barat menunjukkan bahwa jumlah lesbian eksklusif, yakni hanya berhubungan cinta dengan sesama wanita saja presentase sekitar 4% dari poulasi perempuan (Oetomo, 2001:238). Hal ini tampaknya juga berlaku di Indonesia, eksistensi kaum lesbian di masyarakat Indonesia tidak begitu menonjol dibanding dengan gay. Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam dengan seseorang atau beberapa santri yang dipimpin oleh kyai dan dibantu oleh ustad dan ustadzah. Pendidikan di pondok pesantren didasari, digerakkan dan diarahkan oleh nilainilai kehidupan yang bersumber pada ajaran Islam. Sebagian besar pondok pesantren sangat membatasi ruang gerak santriwati terhadap lawan jenisnya dan tidak diperkenankan membawa alat komunikasi pribadi dengan tujuan menjaga menjaga santriwati agar tidak berhubungan dengan laki-laki yang bukan muhrimnya. Adanya pemisahan antara santriwati dan lawan jenisnya memunculkan fenomena lesbian di kalangan santriwati. Hasil penelitian yang berjudul “Homoseksual dalam Dunia Pesantren (Studi tentang Fenomena Lesbianisme di Kalangan Santriwati Di Kabupaten Kudus)” menemukan ada 2 kasus lebian di kalangan santriwati di kabupaten Kudus (Rohmah, 2011:86), diperkuat oleh penelitian yang berjudul “Perilaku Mba’-mba’an (Studi Deskriptif Tentang Perilaku Senior Dengan Junior Di Pondok Pesantren Putri “Al-Taubah” Probolinggo)” menyimpulkan bahwa hubungan seksual yang dilakukan santriwati dalam memuaskan hawa nafsu dengan cara saling memegang payudara, meraba-raba dan ciuman (Chairah, 2011:88). Kehidupan remaja santri merupakan kehidupan ajaran moral tetapi kurang dalam pengetahuan dan informasi terkait seksual yang erat hubungannya dengan kesehatan reproduksi. Hal ini dapat digambarkan oleh hasil studi kasus pada Yayasan Panti Asuhan Aisyiyah Sumbersari dan Yayasan Panti Asuhan Miftahul Hasan Gunung Sepikul-Pakusari, Mitra Dinas Sosial Kabupaten Jember dengan judul “Gambaran Pengetahuan, Sikap dan Tindakan Remaja Putri Menjaga kesehatan Reproduksi di Panti Asuhan Perkotaan dan Pedesaan” dimana sebagian besar responden di Panti Asuhan Aisyiyah berpengetahuan sedang (66,7%) sedangkan di Panti Asuhan Miftahul Hasan sebagian besar masih berpengetahuan kurang (88,9%) sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan remaja santri terhadap kesehatan reproduksi masih kurang (dalam Nugraheni 2007:2). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penentuan informan dalam penelitian ini menggunakan teknik snowball sampling untuk meningkatkan kegunaan informasi yang diperoleh dari responden atau informan yang sedikit. Terdapat 3 informan dalam penelitian ini yaitu informan kunci (alumni pondok pesantren putri x), informan utama (santriwati lesbian) dan informan tambahan (teman sekelas, teman sekamar dan senior/junior). Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian, antara lain wawancara mendalam (in-depth interview), dokumentasi, dan observasi. Analisis data pada penelitian ini menggunakan metode metode thematic content analysis (analisis isi berdasarkan tema). Teknik keabsahan data dalam penelitian ini adalah teknik triangulasi dengan sumber. Sumber yang digunakan untuk triangulasi dalam penelitian ini yaitu informan utama dan informan tambahan. Berdasarkan hasil wawancara mendalam (indepth interview) dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa 4 informan utama belum memiliki efikasi diri yang baik. Pada faktor kognitif dalam efikasi diri, seluruh informan dan didukung seluruh informan kunci dan tambahan mengaku bahwa pondok pesantren belum pernah memberikan sosialisasi terkait LGBT serta dampaknya pada kesehatan khususnya kesehatan reproduksi. Dilihat dari faktor lingkungan, lingkungan pondok pesantren atau lingkungan sosial santriwati lesbian menunjukkan sikap permisif terhadap fenomena lesbian beserta segala perilaku beresiko yang tampak dan pihak pondok pesantren masih kurang dalam pengawasan perilaku santriwati. Dari faktor tingkah laku, santriwati lesbian berwal dari rasa nyaman terhadap teman dekatnya. Perilaku khas santriwati lesbian dapat dilihat dari tampilan santriwati seperti pakaian dan sikap maskulin yang ditunjukkan terhadap pasangannya. Perilaku beresiko yang sering tampak dari sepasang santriwati lesbian dapat berupa kontak fisik seperti berpegangan tangan, memeluk, ciuman, saling meraba dan oral seks.en_US
dc.language.isoiden_US
dc.relation.ispartofseries112110101013;
dc.subjectPerilaku Seksual Beresikoen_US
dc.subjectSantriwatien_US
dc.subjectPondok Pesantrenen_US
dc.titlePerilaku Seksual Beresiko Santriwati Lesbian di Pondok Pesantren Putri (Studi Kasus Pondok Pesantren X di Kabupaten Situbondo)en_US
dc.typeUndergraduat Thesisen_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record