Show simple item record

dc.contributor.advisorPujiastuti, Peni
dc.contributor.advisorPraharani, Depi
dc.contributor.authorBadzlina, Balqis Fildzah
dc.date.accessioned2016-08-11T08:47:27Z
dc.date.available2016-08-11T08:47:27Z
dc.date.issued2016-08-11
dc.identifier.nim121610101035
dc.identifier.urihttp://repository.unej.ac.id/handle/123456789/76407
dc.description.abstractJenis penelitian ini adalah observasional deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Universitas Jember mulai 23 Oktober hingga 20 November 2015. Sampel atau responden penelitian diambil dengan metode purposive sampling dan didapatkan 132 responden. Sebelum dilakukuan pemeriksaan, dijelaskan terlebih dahulu mengenai prosedur pemeriksaan dan apabila setuju responden diminta untuk menandatangani informed consent. Pemeriksaan kondisi jaringan periodontal dilakukan dengan menggunakan probe periodontal WHO pada 6 sextan. Gigi indeks yang diperiksa adalah gigi 17, 16, 11, 26, 27, 36, 37, 31, 46, dan 47. Setiap gigi tersebut dilakukan identifikasi ada tidaknya kalkulus, perdarahan (bleeding on probing), dan diukur kedalaman sulkusnya (probing depth). Kondisi terparah yang ditemukan pada gigi indeks digunakan sebagai nilai atau skor pada gigi tersebut berdasarkan kriteria penilaian CPITN. Kemudian dari kesepuluh gigi indeks diambil nilai yang tertinggi dan digunakan sebagai nilai individu, sehingga dapat diidentifikasi jenis perawatan yang diperlukan. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, dapat diketahui bahwa status kesehatan periodontal pada pasien RSGM Universitas Jember yang paling banyak memiliki skor 2, yaitu terdapat kalkulus supra maupun subgingiva, sedangkan yang paling sedikit memiliki skor 4, yaitu terdapat poket patologis dengan kedalaman 6 mm. Sehingga, kebutuhan perawatan periodontal pada pasien RSGM Universitas Jember yang paling banyak adalah pelayanan tipe II yaitu memerlukan edukasi instruksi kesehatan mulut serta scaling dan root planing dan yang paling sedikit adalah pelayanan tipe III yaitu memerlukan perawatan yang kompleks untuk menghilangkan jaringan yang terinfeksi. Data tersebut kemudian didistribusikan berdasarkan jenis kelamin dan usia. Berdasarkan jenis kelamin, kondisi yang paling banyak ditemukan pada perempuan adalah skor 1, yaitu terjadi perdarahan pada probing marginal tanpa ada kalkulus dan poket patologis. Sedangkan pada laki-laki, kondisi yang paling banyak ditemukan adalah skor 2, yaitu terdapat kalkulus supra atau sub gingiva dengan atau tanpa perdarahan dan tidak terdapat poket patologis. Namun ternyata, baik laki-laki maupun perempuan memiliki tingkat kebutuhan perawatan periodontal yang sama yaitu kebutuhan pelayanan tipe II, yakni edukasi instruksi kesehatan mulut serta scaling dan root planing. Berdasarkan usia, pada kelompok remaja akhir (20-25 tahun), kondisi yang paling banyak ditemukan adalah skor 1, yakni terjadi perdarahan pada probing marginal tanpa ada kalkulus dan poket patologis. Sedangkan pada kelompok usia dewasa (26-45 tahun), kondisi yang paling banyak ditemukan adalah skor 2, yaitu adanya kalkulus baik supra maupun sub gingiva dengan atau tanpa perdarahan. Demikian juga pada kelompok lanjut usia (46-55 tahun), banyak dijumpai adanya kalkulus supra maupun sub gingiva. Sehingga kebutuhan akan perawatan penyakit periodontal berdasarkan kondisi tersebut adalah edukasi instruksi kesehatan mulut (pelayanan tipe I) untuk remaja akhir, sementara pada kelompok usia dewasa dan lanjut usia yaitu edukasi instruksi kesehatan mulut serta scaling dan root planing (pelayanan tipe II).en_US
dc.language.isoiden_US
dc.subjectPerawatan Periodontalen_US
dc.subjectKesehatan Periodontalen_US
dc.titleSTATUS KESEHATAN PERIODONTAL DAN TINGKAT KEBUTUHAN PERAWATAN PERIODONTAL PADA PASIEN RSGM UNIVERSITAS JEMBER OKTOBER-NOVEMBER TAHUN 2015en_US
dc.typeUndergraduat Thesisen_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record