Show simple item record

dc.contributor.advisorSugiyanta
dc.contributor.advisorSofiana, Kristianningrum Dian
dc.contributor.authorAbad, M. Ferry Nur
dc.date.accessioned2016-01-27T07:35:31Z
dc.date.available2016-01-27T07:35:31Z
dc.date.issued2016-01-27
dc.identifier.nim102010101021
dc.identifier.urihttp://repository.unej.ac.id/handle/123456789/72601
dc.description.abstractDiabetes melitus (DM) atau kencing manis merupakan salah satu penyakit yang prevalensinya terus meningkat. Pada tahun 2000, Indonesia menduduki peringkat keempat dalam jumlah penderita DM terbesar di dunia yaitu mencapai 8,4 juta penderita. Angka tersebut diprediksi akan terus bertambah menjadi 350 juta jiwa pada tahun 2020. DM merupakan penyakit kronik dimana penderita mengalami kelebihan kadar glukosa darah. Secara garis besar DM terbagi menjadi dua kelompok besar, yaitu DM tipe I dan DM tipe II. DM tipe I seringkali ditemukan pada anakanak. Pada DM tipe I tubuh gagal memproduksi insulin karena kerusakan sel beta pankreas. Pada DM tipe II terjadi resistensi insulin pada tubuh dan juga defisiensi relatif insulin. Kelebihan kadar glukosa darah dalam tubuh akan menyebabkan berbagai komplikasi yang berbahaya pada berbagai jaringan tubuh yang dapat bersifat akut maupun kronis. Terapi untuk mengatur kadar glukosa darah diperlukan agar tidak terjadi komplikasi pada jaringan tubuh. Salah satu terapi yang menjadi pilihan saat ini adalah glibenklamid. Glibenklamid bekerja dengan cara merangsang sel beta Langerhans pankreas untuk memproduksi insulin. Selain dengan obat-obatan, diabetes melitus juga dapat diatasi dengan pengobatan menggunakan tanaman berkhasiat obat. Salah satu tanaman yang dapat digunakan sebagai obat diabetes adalah pare (Momordica charantia). Pare memiliki beberapa zat aktif yang diketahui memiliki efek antihiperglikemik antara lain, charantin dan polypeptide-p. Charantin bekerja dengan cara mengaktivasi AMP-activated protein kinase (AMPK) yang nantinya akan meningkatkan sintesis glikogen dan juga meningkatkan uptake glukosa pada sel hati dan otot. Sedangkan polypeptide-p merupakan senyawa analog insulin yang kerjanya sama dengan insulin. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik dengan rancangan pretest-post test with Control group design. Jumlah sampel yang diteliti sebanyak 25 ekor tikus wistar jantan berusia 2-3 bulan dengan berat badan rata-rata 150-200 gram. Sebelum dilakukan perlakuan tikus diadaptasikan terlebih dahulu selama 7 hari. Setelah itu dilakukan randomisasi dengan membagi hewan coba ke dalam 5 kelompok, masing-masing 5 tikus yaitu kelompok perlakuan 1 (K1) yang diberikan pakan standar; kelompok perlakuan 2 (K2) yang diberikan injeksi aloksan 125mg/kgBB i.p dan pakan standar; kelompok perlakuan 3 (K3) yang diberikan injeksi aloksan 125mg/kgBB i.p, diberikan ekstrak etanol buah pare 250 mg/kgBB p.o dan pakan standar; kelompok perlakuan 4 (K4) yang diberikan injeksi aloksan 125mg/kgBB i.p, diberikan glibenklamid 0,45 mg/kgBB tikus p.o dan pakan standar; kelompok perlakuan 5 (K5) yang diberi injeksi aloksan, diberikan ekstrak buah pare 250 mg/kgBB p.o, glibenklamid 0,45 mg/kgBB tikus p.o dan pakan standar. Uji statistik yang digunakan adalah Uji Kruskal Wallis dan Mann-Whitney. Berdasarkan data yang telah dianalisis, didapatkan pada uji Kruskal Wallis p= 0,001. Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan (p<0,05) antara rata-rata KGD pada kelima kelompok. Pada hasil uji Mann-Whitney pada kelompok terapi kombinasi (K5) dengan kelompok terapi tunggal ektrak etanol buah pare (Momordica charantia) (K3) didapatkan p=0,047. Hasil tersebut menunjukkan bahwa terapi kombinasi memberikan efek yang lebih signifikan (p<0,05) jika dibandingkan dengan terapi tunggal ektrak etanol buah pare (Momordica charantia). Sedangkan hasil uji Mann- Whitney pada kelompok terapi kombinasi (K5) dengan kelompok terapi tunggal glibenklamid (K4) didapatkan p=0,047. Hasil tersebut menunjukkan bahwa terapi kombinasi memberikan efek yang lebih signifikan (p<0,05) jika dibandingkan dengan terapi tunggal glibenklamid. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pemberian terapi kombinasi ekstrak etanol buah pare (Momordica charantia) dengan glibenklamid lebih efektif dalam menurunkan kadar glukosa darah tikus wistar yang diinduksi aloksan dibandingkan dengan terapi tunggal ekstrak etanol buah pare atau terapi tunggal glibenklamid.en_US
dc.language.isoiden_US
dc.subjectKOMBINASI EKSTRAK ETANOL PARE (en_US
dc.subjectGLIBENKLAMID TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH TIKUS WISTARen_US
dc.subjectDIINDUKSI ALOKSANen_US
dc.titlePERBANDINGAN KOMBINASI EKSTRAK ETANOL PARE (Momordica charantia) DENGAN GLIBENKLAMID TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH TIKUS WISTAR YANG DIINDUKSI ALOKSANen_US
dc.typeUndergraduat Thesisen_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record