Show simple item record

dc.contributor.advisorSulono
dc.contributor.authorDwiyanti, Riska
dc.date.accessioned2015-12-01T12:14:52Z
dc.date.available2015-12-01T12:14:52Z
dc.date.issued2015-12-01
dc.identifier.other100910302039
dc.identifier.urihttp://repository.unej.ac.id/handle/123456789/65609
dc.description.abstractPerkawinan pada dasarnya merupakan suatu ikatan sakral yang menyatukan antara seorang laki-laki dan perempuan dalam satu jalinan rumah tangga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui, mendeskripsikan, dan menganalisis secara mendalam tentang makna perkawinan bagi wanita tuna susila di warung remang-remang Landing Craft Machine (LCM) Desa Ketapang Kecamatan Kalipuro Kabupaten Banyuwangi. Penelitian ini menggunakan teori fenomenologi yang dikembangkan oleh Alfred Schutz. Fenomenologi menggunakan skema interpretatifnya untuk merasionalisasikan fenomenologi personalnya dalam kehidupan sehari-hari, yang memungkinkan individu memahami makna dari apa yang dikatakan atau dilakukan. Dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Sedangkan metode pengumpulan data peneliti menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dari hasil penelitian yang dilakukan muncul dua pandangan wanita tuna susila terhadap makna perkawinan. Pertama wanita tuna susila mayoritas masih menganggap perkawinan sebagai sesuatu yang sakral. Pekerjaan yang dilakukan sebagai pekerja seks komersial memang dipandang sudah tidak lagi menghargai adanya ikatan perkawinan yang sah, bahkan masyarakat juga menjudge bahwa para wanita tuna susila telah melanggar hukum-hukum nikah. Namun sebenarnya para wanita tuna susila tersebut terpaksa melakukan pekerjaannya karena himpitan ekonomi dan rendahnya sumber daya manusia yang dimiliki, serta kegagalan di masalalu yang menjadikan mereka terjun ke dunia prostitusi tanpa memperhatikan perkawinan. Pandangan yang lainnya mengungkapkan bahwa sebagian kecil dari wanita tuna susila tersebut menganggap bahwa perkawinan hanyalah sebagai suatu ikatan yang membelenggu dan juga membuat mereka tidak dapat bahagia. Perkawinan yang mereka jalani hanya menimbulkan suatu trauma dan juga sakit hati akibat dari kegagalan perkawinan itu sendiri. Pernikahan hanya sebatas ikrar yang dapat jalani kapan saja. Status sebagai wanita tuna susila dengan pekerjaannya yang berhubungan seks diluar nikah dengan banyak laki-laki memang menjadikan kesan mereka sebagai seseorang yang tidak lagi peduli dengan perkawinan.en_US
dc.language.isoiden_US
dc.subjectPANDANGAN WANITA TUNA SUSILAen_US
dc.subjectMAKNA PERKAWINANen_US
dc.titlePANDANGAN WANITA TUNA SUSILA TERHADAP MAKNA PERKAWINAN DI PELABUHAN LANDING CRAFT MACHINE (LCM) KETAPANG KABUPATEN BANYUWANGIen_US
dc.typeUndergraduat Thesisen_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record