Show simple item record

dc.contributor.authorI Made Wisnu Joniada
dc.date.accessioned2013-12-04T05:14:24Z
dc.date.available2013-12-04T05:14:24Z
dc.date.issued2013-12-04
dc.identifier.nimNIM072210101063
dc.identifier.urihttp://repository.unej.ac.id/handle/123456789/3728
dc.description.abstractKerusakan hati merupakan penyakit serius yang perlu ditangani. Kerusakan hati dapat disebabkan oleh infeksi maupun aktivitas radikal bebas yang masuk ke dalam tubuh dengan berbagai macam mekanisme aksi. Salah satu sumber radikal bebas yang cukup poten menimbulkan kerusakan hati (hepatotoksik) adalah dari senyawa kimia atau obat-obatan seperti parasetamol. Efek hepatotoksik parasetamol akan terlihat pada pemakaian jangka panjang dan terus-menerus karena adanya modifikasi metabolik yang mengubah aktivitas farmakologisnya. Beberapa mekanisme proteksi alami tubuh terlibat dalam pengurangan kerusakan hati, namun proteksi tersebut dapat terganggu karena adanya peningkatan spesies oksigen reaktif (SOR). Pada kondisi tersebut mekanisme proteksi tambahan melalui konsumsi antioksidan sangat diperlukan. Antioksidan merupakan salah satu mekanisme hepatoprotektor. Banyak bahan alam yang memiliki senyawa antioksidan telah disarankan dalam pencegahan dan pengobatan penyakit hati yang disebabkan oleh radikal bebas. Bahan alam yang sering digunakan sebagai obat diantaranya adalah daun katuk (Sauropus androgynus L.). Daun katuk mengandung vitamin C yang merupakan senyawa antioksidan sebesar 244 mg/100 gram dimana kandungan ini melebihi kandungan pada jeruk, pepaya, jambu biji, dan bayam yang sering disebut sebagai sumber vitamin C. Berdasarkan uji aktivitas antioksidan diketahui nilai IC daun katuk adalah 80,81 ppm yang menandakan bahwa flavonoid dari daun katuk (Sauropus androgynus L.) memiliki kemampuan sebagai antioksidan yang kuat (Fatimah, 2008). Hasil uji pengaruh pemberian infus daun katuk (Sauropus androgynus L.) terhadap aktivitas enzim SGOT, SGPT dan SGGT pada tikus betina 50 menunjukkan bahwa pemberian infus daun katuk 10% dan 50% yang diberikan secara per oral mampu menurunkan kadar SGOT, SGPT dan SGGT (Agil, 1991). Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan bahwa ekstrak etanol daun katuk (Sauropus androgynus L.) dapat digunakan sebagai hepatoprotektor pada mencit yang diinduksi parasetamol, mengetahui dosis ekstrak etanol daun katuk (Sauropus androgynus L.) dari ketiga peringkat dosis yang diuji yang menunjukkan aktivitas hepatoprotektor paling kuat dan mengetahui efek hepatoprotektif ekstrak etanol daun katuk (Sauropus androgynus L.) jika dibandingkan dengan kontrol positif. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tambahan dan bukti bahwa daun katuk (Sauropus androgynus L.) dapat digunakan sebagai salah satu alternatif hepatoprotektor dan juga dapat digunakan sebagai dasar untuk penelitian-penelitian yang lebih lanjut. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris, menggunakan 24 ekor mencit jantan yang dibagi dalam 6 kelompok perlakuan masing-masing terdiri dari 4 ekor mencit. Kelompok pertama diberikan CMC Na 1%, kelompok kedua diberikan sediaan parasetamol, kelompok ketiga diberikan parasetamol dan obat-X sebagai kontrol positif, kelompok keempat diberikan parasetamol dan ekstrak etanol daun katuk dosis 400 mg/kg BB, kelompok kelima diberikan parasetamol dan ekstrak etanol daun katuk dosis 600 mg/kg BB dan kelompok keenam diberikan parasetamol dan ekstrak etanol daun katuk dosis 800 mg/kg BB. Perlakuan tersebut dilakukan selama 7 hari kemudian pada hari ke-8 dilakukan pengambilan darah kemudian diperiksa kadar SGOT dan SGPT mencit. Data dari hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan uji Anova satu arah dengan derajat kemaknaan 95% (p0,05) dan dilanjutkan dengan uji Least Significance Difference (LSD). Berdasarkan penelitian dapat diketahui bahwa ekstrak etanol daun katuk (Sauropus androgynus L.) mampu mencegah kenaikan SGOT dan SGPT tetap pada rentang normal yang dipersyaratkan sehingga dapat digunakan sebagai hepatoprotektor. Ekstrak etanol dosis 800 mg/kg BB memberikan efek hepatoprotektor paling kuat dari ketiga peringkat dosis akan tetapi efek tersebut lebih lemah bila dibandingkan obat-X sebagai kontrol positif.en_US
dc.language.isootheren_US
dc.relation.ispartofseries072210101063;
dc.subjectEkstrak Etanol Daun Katuk, Hepatoprotektor, Parasetamolen_US
dc.titleENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL DAUN KATUK (Sauropus androgynus L.) SEBAGAI HEPATOPROTEKTOR PADA MENCIT YANG DIINDUKSI PARASETAMOLen_US
dc.typeOtheren_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record