Show simple item record

dc.contributor.authorSonia Febri Andinisari
dc.date.accessioned2014-01-23T04:34:19Z
dc.date.available2014-01-23T04:34:19Z
dc.date.issued2014-01-23
dc.identifier.nimNIM061610101068
dc.identifier.urihttp://repository.unej.ac.id/handle/123456789/22051
dc.description.abstractAda berbagai hal yang mempengaruhi pertumbuhan tulang rahang dan perkembangan oklusi yang normal. Diantaranya faktor lingkungan yang meliputi keadaan nutrisi yang dapat dilihat dengan mengetahui status gizinya. Body Mass Index (BMI) direkomendasikan sebagai indikator yang baik untuk menentukan status gizi. Bentuk skelet terdiri dari tipe skelet ektomorfik, mesomorfik dan endomorfik. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan bentuk skelet ektomorfik dengan lebar lengkung alveolar intermolar pada anak usia 16 tahun dengan bentuk skelet mesomorfik sebagai kontrol. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi bagi masyarakat mengenai pentingnya pemenuhan gizi yang cukup untuk pertumbuhan lengkung alveolar dan gigi yang ideal. Jenis penelitian yang dilakukan adalah analitik observasional yang dilakukan di SMKN 1 Sukorambi dan SMAN 1 Arjasa pada bulan Agustus-September 2010. Penelitian ini dilakukan pada 40 subyek dengan rincian 20 merupakan subyek bentuk skelet ektomorfik dan 20 subyek bentuk skelet mesomorfik. Model studi yang diukur pada model rahang atas dan rahang bawah yaitu jarak antara dua titik pada mucogingival junction di atas ujung tonjol mesiobukal molar pertama kanan dan kiri. Data yang diperoleh dilakukan uji normalitas dengan test Kolmogorov Smirnof dan uji homogenitas dengan Levene test. Selanjutnya data dianalisa dengan uji korelasi Pearson dengan α=0,05. Koefisien korelasi yang didapatkan yaitu r = 0,604 untuk rahang atas dengan persamaan y = 0.485x + 50.79 dan r = 0,675 untuk rahang bawah dengan persamaan y = 0.531x + 45.91. Koefisiensi korelasi dan persamaannya menunjukkan bahwa terjadi hubungan yang bermakna antara bentuk skelet dengan lebar lengkung alveolar intermolar, baik pada rahang atas dan rahang bawah pada bentuk skelet ektomorfik dan mesomorfik. Skelet mesomorfik mengalami pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan skelet ektomorfik, termasuk pertumbuhan lengkung alveolar. Status gizi ektomorfik pemenuhan zat-zat gizinya kurang, hal tersebut merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan pertumbuhan rahang menjadi lebih lambat dan lebih sempit jika dibandingkan skelet mesomorfik. Hal-hal tersebut dapat menimbulkan terjadinya maloklusi. Kesimpulan yang didapat adalah ada hubungan antara bentuk skelet dengan lebar lengkung alveolar intermolar pada anak usia 16 tahun. Dengan melihat status gizi, dapat menentukan kecepatan pertumbuhan lebar lengkung rahang.en_US
dc.language.isootheren_US
dc.relation.ispartofseries061610101068;
dc.subjectHUBUNGAN BENTUK SKELET EKTOMORFIK DENGAN LEBAR LENGKUNG ALVEOLAR INTERMOLARen_US
dc.titleHUBUNGAN BENTUK SKELET EKTOMORFIK DENGAN LEBAR LENGKUNG ALVEOLAR INTERMOLAR PADA ANAK USIA 16 TAHUNen_US
dc.typeOtheren_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record