Show simple item record

dc.contributor.authorARIYANTI, RIANE
dc.date.accessioned2014-01-21T03:49:37Z
dc.date.available2014-01-21T03:49:37Z
dc.date.issued2014-01-21
dc.identifier.nimNIM071610101065
dc.identifier.urihttp://repository.unej.ac.id/handle/123456789/19465
dc.description.abstractDemam berdarah dengue (DBD) telah menjadi masalah kesehatan bukan hanya di Indonesia tetapi juga di negara lain di Asia Tenggara (Dharma, dkk., 2006). Indonesia menduduki peringkat kedua, penyakit DBD setelah Thailand. Jawa Timur dinyatakan sebagai daerah endemis demam berdarah. Penyebaran kasus DBD di Jawa Timur terdapat di 38 kabupaten/kota, dan juga menyebar di beberapa kecamatan atau desa yang ada di wilayah perkotaan maupun di pedesaan. Jumlah kasus dan kematian DBD di Jawa Timur selama 4 tahun (tahun 2001 sampai 2004) menunjukan angka yang fluktuatif, namun cenderung meningkat. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Jember, tahun 2004 terjadi 247 kasus, tahun 2005 terjadi 1077 kasus, dan tahun 2006 terjadi 1050 kasus. Hampir seluruh kecamatan di Kabupaten Jember terjangkit penyakit DBD di tahun 2005 dan 2006 (Wahjudi, dkk., 2007). Infeksi dengue diakibatkan oleh virus dengue yang disebarkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albocpitus (Chen, dkk., 2009). Vektor DBD yang utama adalah nyamuk Aedes aegypti. Penyakit ini disebabkan oleh virus dengue yang merupakan anggota genus Flavivirus dari family Flaviviridae. Oleh karena ditularkan melalui gigitan artropoda maka virus dengue termasuk arbovirus (Dharma, dkk., 2006). Diagnosa lebih awal sangat dibutuhkan agar penanganannya lebih cepat dan sesuai. Rongga mulut dan cairan yang ada didalamnya merupakan salah satu yang mencerminkan terjadinya rangkaian perubahan imunologik yang kompleks. Dalam rongga mulut terdapat cairan rongga mulut yang terdiri dari cairan sulkus gingiva dan whole saliva, secara normal mengandung molekul-molekul kecil seperti halnya beberapa plasma protein memiliki suatu komposisi yang mirip dengan cairan limfa yang bisa dianggap sebagai transudat. Mediator-mediator radang atau marker kerusakan jaringan lain di dalam tubuh dengan cepat tersebar dalam cairan krevikular gingiva yang akan tersekresi dalam jumlah tertentu di rongga mulut akan membantu menegakkan diagnosa (Ratnaningsih, 2005). Neutrofil merupakan salah satu komponen dari sistem imun tubuh non spesifik yang terdepan dalam mencegah infeksi oleh berbagai mikroba seperti: bakteri, jamur, protozoa, virus dan sel-sel yang terinfeksi oleh virus (Miller, 2005). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya migrasi Polymorphonuclear Neutrophil (PMN) dari cairan sulkus gingiva dan whole saliva serta mengetahui bahwa cairan sulkus gingiva dan whole saliva dapat digunakan sebagai dasar untuk deteksi dini pasien DBD. Penelitian ini dilakukan di laboratorium Biomedik Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret-Mei 2011. Penelitian ini menggunakan sampel whole saliva dan cairan sulkus gingiva yang didapatkan dari volunter penderita DBD dan volunter normal atau yang tidak terdiagnosa DBD. Untuk kelompok kontrol yakni volunter normal didapatkan 10 sampel untuk masing- masing whole saliva dan cairan sulkus gingiva, sedangkan kelompok kedua yang terdiagnosa DBD didapatkan 10 sampel untuk masing-masing whole saliva dan cairan sulkus gingiva. Kedua kelompok dilakukan perlakuan yang sama yakni pembuatan preparat hapusan serta diamati jumlah PMN di bawah mikroskop. Analisa statistik untuk melihat adanya migrasi sel PMN pada whole saliva dan sulkus gingiva pada DBD adalah menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov untuk uji normalitas data. Kemudian untuk mengetahui adanya perbedaan antar dua kelompok digunakan uji Independent T-test dengan tingkat kemaknaan 95% (α=0,05). Hasil uji Independent T-test untuk PMN whole saliva adalah P= 0,001 yang artinya Ho ditolak, jadi terdapat perbedaan jumlah PMN whole saliva normal dengan jumlah PMN whole saliva DBD, dimana jumlah PMN pada whole saliva DBD lebih banyak dibandingkan jumlah PMN pada sampel normal. Hasil uji Independent T-test untuk PMN sulkus gingiva adalah P= 0,000 yang artinya Ho ditolak, jadi terdapat perbedaan jumlah PMN sulkus gingiva normal dengan jumlah PMN sulkus gingival DBD, dimana jumlah PMN pada sulkus gingiva DBD lebih banyak dibandingkan jumlah PMN pada sampel normal. PMN yang ditemukan dalam penelitian ini mengalami peningkatan dalam whole saliva dan cairan sulkus gingivanya, ini karena kerusakan sel-sel endotel dalam rongga mulut yang akan memacu terjadinya proses inflamasi yang akan mengaktifkan neutrofil sebagai salah satu penandanya. Karena itulah salah satu manifestasi yang ditimbulkan dari keadaan inflamasi adalah meningkatnya persentase kadar neutrofil, sesuai dengan pendapat Jufrie et al. (2000). Sulkus gingiva dan whole saliva berisi cairan yang jumlahnya meningkat bila terdapat keradangan, dimana pada cairan sulkus gingiva yang meradang jumlah neutrofil, makrofag, limfosit, monosit, ion elektrolit, protein plasma, dan endotoksin bakteri bertambah banyak (Vindani, 2008). Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa, terdapat perubahan migrasi sel PMN pada cairan whole saliva dan sulkus gingiva pada sampel DBD dibandingkan dengan sampel normal yang tidak terdiagnosa DBD, yang artinya terdapat lebih banyak sel PMN pada cairan whole saliva dan sulkus gingiva pada penderita DBD.en_US
dc.language.isootheren_US
dc.relation.ispartofseries071610101065;
dc.subjectPolymorphonuclear Neutrophil (PMN), ,Demam Berdarah Dengue (DBD), Cairan Sulkus Gingiva dan Whole Salivaen_US
dc.titleDETEKSI MIGRASI POLYMORPHONUCLEAR NEUTROPHIL (PMN) AKIBAT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) PADA CAIRAN SULKUS GINGIVA DAN WHOLE SALIVAen_US
dc.typeOtheren_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record