Peran dan Tantangan Civil Society Organization dalam Rezim Otoriter Kamboja

Abstract

Penelitian ini membahas mengenai Civil Society Organization (CSO) di Kamboja dalam mempertahankan perannya di tengah penyempitan ruang sipil pada rezim pemerintahan yang otoriter. Pemerintah Kamboja menerapkan berbagai bentuk pembatasan terhadap organisasi masyarakat sipil melalui regulasi, pengawasan, serta pembatasan kebebasan berekspresi dan berorganisasi yang menyebabkan ruang gerak CSO semakin terbatas. Meskipun demikian, CSO tetap mampu mempertahankan eksistensi dan menjalankan berbagai fungsi sosial melalui strategi adaptasi terhadap kondisi politik yang represif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana CSO mempertahankan perannya di tengah tantangan penyempitan ruang sipil dalam rezim otoriter Kamboja. Analisis penelitian menggunakan konsep otoritarianisme Juan J. Linz dan teori Civil Society Marie Perinova. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CSO di Kamboja mempertahankan perannya melalui tiga bentuk utama, yaitu mendorong youth civic engagement, berpartisipasi dalam kebijakan perubahan iklim, serta melakukan pemberdayaan masyarakat melalui peningkatan kesadaran hak dan penguatan kapasitas komunitas. Dalam menjalankan perannya, CSO menghadapi berbagai tantangan berupa penyempitan ruang gerak organisasi, regulasi yang membatasi aktivitas masyarakat sipil, serta kooptasi dan fragmentasi organisasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun ruang sipil di Kamboja terus menyusut akibat karakteristik rezim otoriter, CSO tetap mampu mempertahankan eksistensi dan menjalankan fungsi sosialnya melalui strategi adaptasi, negosiasi, dan penyesuaian terhadap lingkungan politik yang represif.

Description

Finalisasi Maya_11 Agustus 2026

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By